
Elard membaringkan Ara di ranjang besar miliknya. Tatapan matanya sama sekali tak berkedip menatap wajah cantik Ara. Elard menundukkan kepalanya dan berbisik.
“Kau sangat cantik sayang.”
Ara memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas Elard di telinganya. Darahnya seketika berdesir dan jantungnya berdegup kencang.
Cup...
Tubuh Ara semakin menegang mendapatkan sentuhan bibir Elard di telinganya. Sentuhannya semakin membangkitkan sesuatu yang bergejolak dalam diri nya. Dengan mata yang masih terpejam, Ara meremas kemeja milik Elard saat Elard membawa bibirnya semakin turun ke lehernya dan menambah tanda merah di tubuhnya.
Shh...
Elard tersenyum mendengar suara desisan Ara di telinganya. Dia terus membawa bibirnya membuat maha karya di tubuh Ara dia semakin tersenyum saat tanda merah yang semula tertutup bertambah kembali.
Tak hanya membawa bibirnya menjelajahi leher Ara. Tangannya juga mulai aktif bergerak. Ara semakin bergerak gelisah, saat tangan Elard mulai aktif bergerilya ke sana kemari.
“Aku menginginkan nya sayang.” Bisik Elard dengan nafas memburu menahan sesuatu yang bergejolak.
Sementara Ara dia sama sekali tak mendengar bisikan Elard di telinganya. Matanya masih terpejam terlebih Elard kembali lagi melabuhkan bibirnya pada bibirnya dan menyesap nya rakus.
Kali ini Ara tak tinggal diam, dia membalas tautan bibir Elard. Dan Elard menyunggingkan senyumnya melihat Ara membalas tautan bibirnya. Rasanya semakin melayang, jiwa dan hasrat nya semakin menggebu menginginkan Ara kembali.
Belum puas menyesap bibir Ara, Elard melepaskan bibirnya dan menjauhkan wajahnya. Dan Ara membuka matanya saat merasakan tautan bibirnya terlepas dari Elard. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain. Mata yang berkabut penuh damba jelas terpancar dari keduanya.
Tak lama kemudian Elard bangkit dan membopong tubuh Ara ke balkon kamarnya. Dan menurunkan Ara di samping sofa berukuran besar.
“Aku ingin ber cinta di sini sayang.” Bisiknya kembali menurunkan resleting gaun panjang di yang di kenalan Ara.
__ADS_1
Dan Ara hanya menundukkan kepalanya saat gaun miliknya melorot ke bawah. Wajahnya semakin bertemu merah saat gaun yang di pakaian nya benar benar teronggok di lantai begitu saja. Dia semakin menundukkan kepalanya malu saat menyadari jika mereka berdua ada di balkon kamar Elard.
Sementara Elard sedikit menjauhkan wajahnya dan melebarkan bibirnya saat melihat tubuh Ara. Tanda merah miliknya yang digunakan agar buat semalam masih terlihat sangat jelas meski di bawah rembulan sekalipun.
Elard mengangkat wajah Ara dan menatapnya. “kau tau, aku mencintaimu sejak tujuh belas tahun lalu. Aku mengklaim dirimu menjadi milik ku saat kau masih balita. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau Ara. Kau sudah membawa semua cinta dan hasrat ku. Aku mencintaimu Ara.”.
Cup..
Elard kembali lagi menautkan bibirnya pada Ara. Tangannya merayap ke punggung Ara dan melepaskan pengait penyangga dua buah gunung kembar Ara.
Elard lalu membopong Ara dan membaring diatas sofa besar tanpa melepaskan tautan bibir mereka berdua.
Dan Ara kembali terlena oleh sentuhan Elard di tubuhnya. Jiwanya benar-benar melayang merasakan sensasi panas yang memanggang jiwanya.
Shhh...
“Maaf sayang, apa aku harus menghentikan nya.” Sesalnya saat melihat mata Ara yang terlihat berkaca kaca. Sementara dia bisa merasakan sesuatu yang menyedot dan memijit miliknya. Dia tak ingin egois saat Ara kesakitan. Apalagi dia baru kemarin melakukannya.
Ara menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Elard padanya. Tangannya melingkar ke punggung Elard dan tersenyum tipis.
“Ini malam pengantin kita.”
Wajah Elard seketika berseri seri mendengar jawaban Ara ri tangannya. Tak hanya wajahnya, tapi hatinya juga berbunga bunga mendengar nya.
Elard menunduk dan mencium bibir Ara sekilas. Rasa bahagia jelas terpancar di wajahnya saat ini. Padahal dia tau milik Ara masih terlihat bengkak akibat sebelumnya. Dan saat ini dia kembali lagi menyatukannya lagi. Rasa yang sama dan luar biasa indah jelas bisa di rasakan nya. Dan Ara menambah rasa bahagia lagi di hatinya.
“Aku mencintaimu sayang.”
__ADS_1
Di bawah sinar rembulan yang memancar dan di hiasi oleh bintang yang bertaburan Elard kembali lagi membawa Ara meraih puncak.
Berulang kali Ara mendapatkan puncaknya karna permainan Elard malam ini. Tempat yang sempit justru semakin membuat keduanya semakin bergelora.
Hingga lebih dari satu jam lamanya Elard baru mengakhiri permainan mereka dengan menembakan benihnya di rahim Ara. Impiannya menjadikan Ara sebagai ratu di hati dan nyonya di istana nya semakin besar saat Ara sama sekali tak menolak dirinya.
Brukk..
Cup...
Elard melabuhkan bibirnya di kening Ara, setelah dia melepaskan penyatuan dengan Ara, Elard lalu kemudian memeluk Ara dari belakang dan mencium lehernya bertubi tubi.
Sementara Ara, yang masih mengatur nafasnya yang memburu mengeratkan tangannya pada pinggiran sofa saat Elard lagi lagi menggoda nya.
“Om.. “
Elard terkekeh kecil, dia tau Ara geli saat dia mencium lehernya. Dia menarik Ara dan memeluknya semakin erat.
“Berjanjilah padaku, jangan meninggalkan ku saat aku membuka mata sayang.” Ucap Elard mengingat kembali malam sebelumnya, dimana dia tak menemukan Ara di sampingnya saat dia membuka matanya.
Mendengar penuturan Elard Ara membuka matanya kembali dan tersenyum tipis. Elard masih mengingat nya saat dia tak ada di sampingnya. Jelas saja dia pergi saat itu. Tak ingin dia meratapi nasibnya dia juga tak ingin Elard melihat kebodohannya sendiri.
Tapi ternyata pria yang mengambil mahkotanya kehilangan nya. Dan sekarang, dia bahkan menjeratnya dengan pernikahan. Bagaimana dia akan lari dari nya, bukankah itu sangat mustahil.
“Ara,” seru Elard tapi tak mendapatkan respon dari Ara hingga beberapa detik. Elard berpikir Ara sudah tertidur, dia memeluk Ara erat, seolah tak ingin lagi Ara pergi darinya setelah tubuh mereka menyatu.
“Aku sangat mencintaimu.”
__ADS_1