Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.71# Pesta


__ADS_3

“Siapa dia.”


“Anda bisa melihatnya sendiri tuan.”


Elard mengerutkan keningnya mendengar penuturan Jefri di telinganya. Dia mengambil ponsel Jefri dan memutar video di layar ponsel nya. Elard mengerutkan keningnya melihat wajah yang tak asing di matanya.


“Ara.”


“Ya tuan dia mirip nona Ara,”  sahut Jefri. Dan Elard tak percaya mendengar penuturan Jefri. Tatapan matanya tak berkedip melihat wajah yang terlihat sangat samar, karna kamera cctv tak mengarah di depan Ara.


“Kau yakin Jefri.” Desah Elard menggelengkan kepalanya, Ara bukan gadis yang tangguh. Lagi pula, tak mungkin Luis membiarkan putrinya.


Elard mendudukkan bokongnya di kursi miliknya dan memijit kepalanya yang pusing. Tak lama kemudian Elard mengerutkan keningnya mengingat dua hari yang lalu. “Panggil Rony dan Bruno.” Jefri menganggukan kepalanya, tak lama dia menundukkan kepalanya dan pergi memanggil dua bawahannya yang di tugas kan mengikuti Arabelle.


*


“siapa yang membunuh mereka.”


“Nona tuan.”


Elard mematung mendengar jawaban dua anak buahnya di depannya. Ara yang melakukannya, Ara yang membunuh mereka semua. Benarkah..


Elard memejamkan matanya mengingat saat di Indonesia dulu. Beberapa pria juga sama, mereka mati mengenaskan dengan luka di tubuhnya, dan itu sama dengan kemarin. Bagaimana pisau itu tepat sasaran melumpuhkan lawan.


Dan semua itu Ara yang melakukannya.?


“Di mana dia saat ini.”


“Masih di apartemen nya tuan.” Sahut Jefri menundukkan kepalanya. Dan Elard membuka matanya. Andai dia tak banyak pekerjaan dia pasti akan mendatangi Ara di apartemen. Tapi dia tak ingin membuat Ara salah paham dengannya.


Elard bangkit dari duduk nya dan melangkah lebar keluar dari ruang pribadinya dan menuju ruang meeting. Di dalam ruang meeting pikiran nya terus berpikir tentang Ara. Masih belum percaya jika Ara bisa melakukan itu. Dan jika ya kenapa dia menyembunyikan jati dirinya. Apa sebenarnya tujuan Ara,?


Sementara Ara yang berada di dalam apartemen miliknya mengumpat kebodohannya. Pasti Elard saat ini sudah tau siapa dirinya.


“Karna mabuk aku sampai lupa.” Desah Ara, Elard pasti sudah tau semuanya. Ara mengutuk kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dia ceroboh semalam  pergi begitu saja dari club tanpa menghapus cctv di dalam club. Elard bukan pria bodoh, dia pasti sudah tau saat ini. Gara-gara wine dan jantungnya yang selalu berdebar, dia melupakan hal penting ini.


“Isshh, menyebalkan.” Rutuk Ara menghampiri pintu apartemen. Perutnya sakit, karna sejak semalam dia belum mengisinya.

__ADS_1


Clek..


Dor..


Brakk..


Ara menutup pintu apartemen nya kembali saat peluru melesak ke arahnya. Dia berlari dan mengambil senjatanya di kamarnya. Saat itu juga pintu apartemen miliknya di gedor dan terbuka kasar.


Ara bersembunyi di balik pintu kamar miliknya. Siapa dia, kenapa dia tau apartemen miliknya di sini. Sementara beberapa pria di luar mencari keberadaan Ara.


Dor...


Ara berjengit dan mengeratkan giginya emosi. Dia menendang pria yang baru masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara peluru panas menemukan dada seseorang.


Bug...


Brakk...


“Siapa kalian.” Desis Ara, dia tak percaya melihat beberapa pria memakai baju hitam menyerangnya.


“Siapa pun kami, tugas kami untuk membunuh anda nona.” Desisnya menodongkan senjata api nya secepat kilat dan melepaskan nya pada Ara. Ara menghindari peluru beruntun yang melesak ke arahnya. Tangannya dengan lincah mengayunkan benda tajam di tangannya, dan tepat sasaran. Dan tak lama kemudian Ara benar-benar menghabisi beberapa pria yang masuk ke dalam apartemen miliknya.


Jleb..


Akk...


Ara melemparkan benda tajam di tangannya dan mengenai punggung pria yang ingin pergi menyelamatkan dirinya. Ara berjalan mendekati pria yang meringis ke sakitan.


“Siapa yang menyuruh mu tuan.”


Ara tersenyum miring melihat pria di depannya bungkam. “Airin atau Robert yang menyuruh mu hemm.”


“Bukan urusan mu nona.”


Ara tertawa mendengarnya, dia kembali lagi berbisik pada pria di depannya. “Pergilah dan katakan pada kedua majikan mu itu. Aku bukan Lion, aku akan membunuhnya karna sudah mengusikku.” Setelah mengatakan itu, Ara membiarkan pria itu pergi dari apartemen miliknya.


“Airin, aku bukan Lion yang masih kasihan padamu.” Gumam Ara mengepalkan tangannya emosi. Pandangan matanya menatap beberapa pria yang tergeletak di apartemen miliknya.

__ADS_1


Elard tak tau, jika Ara saat ini sedang dalam bahaya. Dia masih sibuk dengan pekerjaan nya dan isi kepalanya. Masih belum bisa menemui Ara saat ini. Bukan hanya karna pekerjaan, tapi karna dia masih bingung dengan semua yang terjadi saat ini.


*


Sementara Airin kembali lagi mengamuk, dia menghancurkan kamarnya sendiri. Membunuh gadis itu ternyata sangat sulit. Tak jauh dari sana Rain melihat Airin yang mengamuk di kamar nya. Dia masuk kedalam dan mendekati Airin.


“Aku bisa membantumu sayang.” Airin mengepalkan tangannya mendengar bisikan di telinga nya. Terlebih lagi tangannya yang melingkar di pinggangnya.


“Menyingkir dari ku Rain.” Desis Airin geram. Dia masih tak bisa membunuh gadis itu. Jangan kan ada Elard, sendiri saja dia tak bisa membunuh nya.


“Kenapa, kau tak ingin aku memelukmu. Tapi kau membiarkan ku bercinta dengan mu bukan.” Sahut Rain menyingkap rambut Airin dan mengecupnya. “Aku akan membunuhnya untuk mu. Tapi berikan aku servis yang baik hari ini.


Airin menoleh dan mengeratkan giginya emosi mendengar penuturan Rain. Apalagi Rain sudah membuka res sleting miliknya hingga menampilkan punggung polosnya yang putih.


Di depan pintu, Robin mengerkan giginya emosi. Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan kamar Airin.


“Wanita brengsek kau Airin.”


 *


Malam harinya..


Jefri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah pesta perusahaan rekan bisnisnya. Sebenarnya dia tak ingin pergi, karna Elard sama sekali tak menyukai pesta. Dia ingin bertemu dengan Ara, sejak kemarin dia belum bertemu dengannya lagi. Tapi demi rekan bisnisnya, dia akhirnya datang.


Tak sampai satu jam, Elard sudah sampai di sebuah gedung perusahaan rekan bisnis nya. Andai saja Ara juga mencintainya, dia pasti akan mengajak Ara datang kemari, menjadi pasangannya malam ini, dan dia pasti akan betah berada di pesta. Sayangnya masih terlalu sulit untuk mendapatkan Ara. Tak mungkin Ara percaya pada Airin kan.


“Selamat malam tuan, terima kasih anda sudi hadir di pesta kecil kami tuan.”


Elard tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. Menyambut uluran tangannya dan memberikan selamat padanya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka terlibat bincang seputar bisnis. Elard yang sedikit tak betah mulai sedikit terbiasa. Apalagi mereka bukan hanya berdua, beberapa rekan bisnisnya juga datang di pesta malam ini.


Dan tak terasa hampir setengah jam lamanya Elard berada di dalam pesta dan berbincang.


Dari arah pintu datang seorang gadis memakai gaun berwarna hitam masuk ke dalam begitu saja. Sapuan make-up di wajahnya sungguh membuat nya semakin cantik. Bibirnya yang di poles lipstik merah terang menyunggingkan senyum manisnya. Jangan lupakan rambutnya yang di cepol ke atas dan menyisakan helaian beberapa di depan membuat daya tarik tersendiri.


Siapa yang tak tertarik oleh kecantikan wanita yang berjalan masuk dan menghampiri pemilik pesta. Pesonanya sungguh membuat mata siapa saja tak berkedip. Terlebih mereka pasti ingin memilikinya.


Elard yang menyadari beberapa orang menoleh ke arah pintu membalikkan tubuhnya. Begitu dia membalikkan tubuhnya, jantung Elard semakin berdetak lebih kencang melihat wanita yang berjalan ke arah nya. Wanita yang tak bisa hilang dari kepala dan hatinya sejak dulu. Dialah wanita yang menguasai segala hasrat dan jiwanya. Malam ini dia sangat cantik dengan gaun yang melekat di tubuhnya dan sapuan make-up di wajahnya.

__ADS_1


“Ara..”


 


__ADS_2