Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.18# Hati yang masih emosi


__ADS_3

“Shit...” umpat nya berdiri dan keluar dari ruang meeting melangkah lebar keluar dari perusahaannya. Tak perduli dengan rekan bisnisnya yang berada di ruang meeting miliknya. Dia harus memberikan pelajaran pada pria brengsek itu yang sudah berani mencium miliknya.


Jefri mengikuti langkah tuannya dengan tergesa-gesa.  Jefri tak tau apa yang tuannya ingin lakukan kali ini. Apa dia mau menemui gadis itu.


Di dalam mobil, Elard duduk gelisah di jok belakang mobilnya. Tangannya terus terkepal erat dan mengumpat dalam hati.


“Apa kau tak bisa cepat sedikit Jefri.” Teriak Elard emosi. Dan Jefri kaget mendengar teriakan tuannya di kursi belakang.


Tak sampai setengah jam mobil yang di kendarai Jefri sampai di halaman kampus. Elard turun terburu buru dan melangkah lebar menuju di mana Ara berada. Sungguh Elard terbakar cemburu melihat seseorang mencium miliknya.


Sampai di dalam Elard sama sekali tak melihat gadis kecilnya. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ara. Tapi sayangnya Ara sudah tak ada di sini. Elard kembali berbalik mencari Arabelle, gadis kecilnya yang sudah membuatnya emosi dengan tingkahnya.


Elard mengeraskan rahangnya saat tak melihat keberadaan Ara. Dia sama sekali tak menemukannya keberadaan Ara.


“Tuan Lion.” Seru seorang dosen yang mencari keberadaan Elard.


“Dimana gadisku.”


Firdaus mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan pemilik universitas tempatnya mengadu nasib. Dan Elard yang menyadari kebodohannya memejamkan matanya sendiri.


“Dimana Queensa.?” tanya Elard mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis kecilnya.


Firdaus semakin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan di telinganya. pertama gadis ku, lalu Queensa yang tuan Lion tanyakan. Apa mereka bersaudara.


“Katakan padaku dimana Queensa brengsek.” Geram Elard melihat Firdaus masih diam menutup bibirnya.


“Sepertinya dia ada di gedung kesenian tuan.”


Secepat kilat Elard berbalik dan melangkah lebar menuju di mana Ara berada. Tak sampai beberapa menit, Elard bisa melihat gadis yang memakai dress berwarna putihputih duduk bersama teman temannya. Tapi yang membuat Elard emosi pria yang di lihatnya sebelumnya juga ada bersamanya.

__ADS_1


“Tuan Lion..” Ara mengerutkan keningnya mendengar suara teriakan temannya. Ara menoleh begitu juga dengan Dary. Ara tersenyum tipis melihat teman temannya heboh melihat ke arah pria yang menyebalkan menurutnya.


Sementara Elard yang melihat Ara acuh padanya, mengeraskan rahangnya. Dia melangkah lebar mendekati Ara, tak perduli dengan mereka yang berteriak padanya. Justru jantung Elard semakin bergemuruh mendekati Ara.


“Tuan membutuhkan sesuatu.”tanya Ara melirik ke arah Elard ketus. Ara masih sebal dengan kejadian kemarin.


Sementara Elard tak menjawab pertanyaan Ara. Dia masih menatap wajah cantik Ara di depannya. Gadis yang tak pernah hilang dari kepalanya selama bertahun-tahun dan masih menguasai hati dan jiwanya kali ini ada di depannya.


Gadis yang pertama kalinya membuat jantungnya bergemuruh hebat, ternyata dia adalah gadis kecilnya. Gadis yang sudah membuat jiwa dan hasratnya menghilang. Dia adalah Arabelle, putri dari pria yang sudah mengadopsinya sekaligus pembunuh ayahnya.


Dary melirik ke arah Lion yang berdiri di sampingnya. Entah kenapa Dary merasa jika pria dewasa ini menatap Queensa dengan pandangan tak biasanya.


Sementara Elard mengeraskan rahangnya melihat lutut Ara memerah dan bengkak. Dia juga emosi dengan Ara kenapa harus datang ke kampus saat ini.


“Siapa yang meminta mu datang.” Desis Elard emosi melihat lutut Ara yang terluka.


Ara mengerutkan keningnya mendengar penuturan pria dewasa di depannya. Dia melirik ke arah Dary, Ara berpikir Elard mengatakan itu pada dari.


Ara menoleh ke arah Elard dan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Elard di telinganya. Sementara yang lain, juga tak kalah menatap Ara bingung. Ada juga yang menatap Ara penuh kebencian saat Lion mengenal Queensa, mahasiswi baru di kampus ini.


“Maaf tuan, saya mendengar anda. Apa anda ada perlu dengan saya.”


“Aku tak mau nama baik Universitas ini tercoreng karna dirimu.”sahut Elard pedas. Padahal bukan itu yang ingin Elard tanyakan dan katakan pada Ara. Tapi entah kenapa bayang bayang Luis yang membunuh ayahnya masih terngiang ngiang di telinganya.


Dan Ara yang tak tau, hanya menatap Elard bingung. Dia sama sekali tak tau apa maksud pria dewasa di sampingnya. Begitu juga dengan Dary, dia juga tak kalah dengan Queensa yang bingung.


“Apa saya berbuat salah dengan anda tuan.” Jawab Ara matanya melirik ke arah semua mahasiswa yang datang ke gedung ruang  ini.


Brakk..

__ADS_1


Prang...


Bukan hanya mereka yang kaget mendengar suara sesuatu yang di tendang dan hancur. Tapi Dary juga tak kalah shock mendengarnya.


Apalagi Ara, dia justru kaget bukan main mendengar suara benda yang hancur bukan main. Padahal ornamen itu adalah miliknya. Miliknya yang baru dia buat bersama dengan kakak seniornya Dary. Kini hancur berantakan dan hancur berkeping-keping.


“Tuan...” lirih Ara shock, matanya menatap Elard berkaca kaca.


Deg..


Jantung Elard kembali berdetak melihat mata Ara berkaca kaca. Sungguh dia tak sengaja menendang milik Ara. Emosi yang masih menguasai dirinya karna gadis yang dia cintai adalah putri Luis. Dan dia gadis yang berdiri di depannya.


Hatinya sungguh masih membenci Luis. Ya dia membenci Luis, karna dia pria yang sudah membunuh ayahnya dan Arabelle adalah putrinya.


Apa dia datang kemari hanya ingin  membuat Ara malu di hadapan teman temannya. Benarkah dia senang melihat Ara menangis dan kecewa padanya. Lalu bagaimana jika Ara membencinya.


“Aku akan membantumu.” Ucap Dary mengambil potongan ornamen yang baru dia susun hancur berkeping-keping.


Ara mengusap pipinya yang basah dan mengangguk. Dia tak percaya dengan pria dewasa di depannya. Sepertinya dia tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Tapi kenapa dia harus  menghancurkan miliknya.


Sementara Elard menatap Ara yang berjongkok di depannya. Sebuah manekin yang sedang Ara jadikan objek hancur dan pecah tak berbentuk. Semua itu karna dirinya yang sudah menendangnya.


Elard menatap Ara yang berjongkok di depannya. Sebuah manekin yang sedang Ara jadikan objek hancur dan pecah tak berbentuk. Semua itu karna dirinya yang sudah menendangnya.


Elard melangkah lebar keluar dari gedung kesenian dan melangkah lebar menuju mobilnya berada. Hatinya sungguh tak percaya dan tak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Ara pasti sangat kecewa dan marah padanya.


Mengingat Luis yang sudah membunuh ayahnya, Elard spontan saja menendang manekin di depannya.


Elard mengusap wajahnya kasar berulang kali. Kenapa dia sangat bodoh dan tak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


“Kenapa dia jahat padaku.” Isak Ara mengusap matanya yang basah. Daru menatap wajah murung Queensa. Dia sendiri tak tau kenapa pemilik gedung universitas ini marah dan menendang milik Queensa.


 


__ADS_2