Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.84#


__ADS_3

Elard melebarkan matanya tanpa berkedip melihat tubuh polos Ara tak jauh dari nya. Seprei yang menutupi tubuhnya jatuh di lantai begitu saja dan menunjukkan tubuh polos Ara yang banyak terdapat tanda merah di tubuhnya.


Sementara Ara, dia juga tak kalah mematung melihat Elard menatap ke arahnya. Tak lama kemudian Ara menundukkan tubuhnya dan mengambil seprei yang teronggok begitu saja. Dia mengutuk kebodohan nya sendiri, Elard pasti menyangka jika dirinya menggodanya.


“Kau menggoda ku sayang.” Ara terlonjak kaget mendengar suara Elard d telinganya. Tubuhnya menegang dsn bulu kuduk nya merinding merasakan hembusan nafas Elard di lehernya.


“Seprei nya ja_”


“Jatuh sendiri.” Lanjut Elard memotong ucapan Ara.


Sementara Ara hanya diam saja, nafasnya semakin memburu saat tangan Elard mengusap lengannya. Bahkan Elard membawa jarinya mengusap tengkuk lehernya dan menginginkan rambutnya.


Cup, ....


“Bagaimana jika aku melepaskan nya lagi sayang.”


Tubuh Ara semakin menegang mendengar penuturan dan bisikan Elard di telinganya. Tak lama dia memejamkan matanya memasak tangan Elard berada diatas telapak tangannya.


“Elard...” Ara kaget saat Elard menarik tangannya tiba-tiba, tentu saja seprei yang di pakainya terlepas dan dia jatuh ke dalam pelukan Elard. Elard tersenyum lebar mendengar Ara memanggil namanya, tanpa pikir panjang dia membopong tubuh Ara.


Ara yang kaget memekik dan memukul Elard. Tapi dia melingkarkan tangannya ke leher Elard. Ara mendongak saat menyadari Elard membopong tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi dan kemudian menurunkan nya di bawah air shower.


Elard menyalakan air hangat mengguyur tubuh mereka berdua. Dia mengangkat dagu Ara dan menautkan bibir mereka berdua. Ara memejamkan matanya saat merasakan sesuatu yang mengganjal di perutnya. Dia benar benar tak tau apa yang akan Elard lakukan di kamar mandi, bukankah mereka akan mandi, tapi kenapa dia justru menciumnya penuh nafsu.


Tubuh Ara tiba tiba menegang saat tangan Elard bergerilya kesana kemari. Dan Elard melepaskan tautan bibirnya saat Ara kehabisan nafasnya.


“Maaf sayang, kita akan melakukan nya di sini.”


Ha.

__ADS_1


*


Ara mengerjapkan matanya saat sinar matahari menyilaukan matanya. Tubuhnya terasa sakit dan remuk. Tulang tulangnya seperti mau lepas dari persendian nya. Apalagi dengan miliknya yang terasa tak nyaman.


Ara terlonjak dan langsung mendudukkan bokongnya saat menyadari dirinya ada di kamar yang asing. Ara mendongak dan mengedarkan pandangan nya melihat kamar yang cukup mewah dan sangat mewah. Tapi tak lama sebuah tangan menarik nya kembali hingga jatuh ke dalam pelukannya.


“Jangan meninggalkan ku sayang, aku masih mengantuk.” Gumam Elard di telinga Ara.


“Ini dimana.?” Sahut Ara dan Elard membuka matanya perlahan. “Kamar kita sayang.” Sahut Elard, semalam setelah mereka bercinta di dalam kamar mandi Ara langsung kembali tertidur pulas. Dan Elard membawanya pergi ke mension mewahnya. Tentu saja Elard membawa Ara pergi dari apartemen mewah nya. Setelah kejadian yang terjadi di dalam kamarnya.


Elard membawa Ara ke mension mewah nya yang di bangun tiga tahun lalu semenjak Ara pergi dari mension sebelumnya. Dia membangun mension ini memang untuk kekasih tercintanya. Siapa lagi jika bukan Ara, sebelum menikahi Ara, Elard sudah merencanakan semua ini,jika dia akan membawa Ara tinggal di mension dan tinggal berdua. Tanpa gangguan orang lain terlebih Robert dan Airin.


Bukan karna Airin mantan istrinya, tak tapi karna Elard memang ingin Ara tinggal di mension hasil keringatnya sendiri. Bertahun-tahun dia mendamba kan moment seperti ini. Dan kali ini impiannya terwujud meski kedua orang tua mereka belum tau.


Elard juga  tak ingin menempatkan Ara dalam bahaya. Dia tak ingin musuh kembali datang saat mereka tertidur pulas. Setidaknya di mension banyak penjaga milik nya.


Ara tersenyum tipis mendengar penuturan Elard di telinganya. Ara tak tau sejak kapan Elard membawanya datang kemari. Tapi dia tau jika Elard memberikan yang terbaik untuk nya. Elard pasti ingin dia nyaman tidur tanpa merasa was was.  


Elard tersenyum mendengar dengkuran halus Ara di telinganya. Dia juga ikut memejamkan matanya kembali. Dia pikir Ara akan berontak, ternyata Ara justru tidur di pelukan nya.


*


“Pemuda itu gagal,”


“Ya.”


Liam mengepalkan tangannya mendengar penuturan sahabatnya. “Elard membunuh mereka semua tanpa sisa.” Liam menoleh dan semakin mengeratkan giginya emosi. “Apa dia juga membunuh pemuda itu.” Tanya Liam kemudian.


“Ya dia juga membunuhnya,” Liam tersenyum miring, dia mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja.

__ADS_1


“Apa yang ingin kau lakukan Liam. Kita tak bisa mendapatkan berkas itu.”


“setidaknya kita menghancurkan nya.” Seru Liam gemerutuk menahan emosi. “Elard sudah menghina kita Pedro,  kita akan menghancurkan nya. Preston lumpuh dan seperti mayat hidup, aku tak mau seperti Preston. Aku akan menghancurkan nya dan membunuhnya terlebih dahulu.” Desis Liam mengepalkan tangannya.


Dia berang saat melihat perusahaan nya semakin hari semakin menurun. Dia juga tau jika semua itu karna Elard. Elard lah yang melakukannya. “Lionel Elard Roberto, benar benar sangat licik.”


“Halo” terdengar suara pria paruh baya di telinganya. Liam tersenyum miring, menurutnya ini akan sangat menguntungkan nya.


“Ku beri tau tuan, Elard baru saja membunuh putra satu satumu.”


Robert kaget mendengar penuturan pria di sebrang telpon. Dia menjauhkan ponselnya dan melihat nomor asing di ponselnya.


“Apa maksud mu brengsek.” Teriak Robert dan tak lama sambungan ponselnya mati begitu saja. “Halo, apa maksudmu sialan.” Robert berang dan mengumpat pria yang menelponnya. Dia melemparkan ponselnya ke sembarangan arah dan keluar dari kamar pribadinya.


“Airin, Airin.” Robert terus berteriak keras memanggil Airin. Tapi sayangnya Airin sama sekali tak menyahut teriakannya. Robert membuka kamar Airin dan dia sama sekali tak melihat Airin ada di dalam kamarnya.


“Apa kau menjual tubuhmu lagi ******.” Seru Robert berbalik kembali dan saat itu juga dia kaget melihat Airin berdiri di hadapannya.


“Ada apa sayang, kau memanggil ku hm.”


“Apa yang kau lakukan Airin.” Robert kaget dan takut melihat sebuah senjata api di tangan Airin mengarah padanya.


“kau takut Robert.” Seru Airin terkekeh, sementara Robert mengeratkan giginya emosi melihat Airin yang tertawa di depan nya. “Jangan macam macam Airin, singkirkan senjata itu dari ku.” Desis Robert.


“Aku membencimu Robert.”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2