Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.52# Negara asing


__ADS_3

“Menyingkir dari hadapan ku Airin.”


“Aku tak mau kau meninggalkan ku Lion. Aku sedang hamil anak mu.”


Airin kaget saat Elard mencengkram erat dagunya. Dia memukul tangan Elard yang semakin erat menatap ke arahnya. Airin meneguk ludahnya kasar melihat tatapan Elard padanya.


“Lion.”


“Ingat Airin, aku sudah berbelas kasih padamu. Kau bilang aku tak bisa mengusir mu dari sini bukan. Aku tak akan mengusir mu dari sini. Kau bebas tinggal di sini sepuasmu, tapi jangan berani mengusikku.” Desis Elard melepaskan tangannya dari dagu Airin dan berjalan lebar menuruni anak tangga. Di bawah Robert yang berjalan menuju kamarnya menoleh kearah tangga dan mengerutkan keningnya melihat Elard. Tak jauh dari Elard Jefri berjalan mengikuti Elard dengan membawa koper besar di tangan nya.


Robert kembali melangkah menuju kamarnya tapi tak lama dia menghentikan langkah nya saat mendengar suara Airin yang berteriak.


“Sayang, jangan seperti ini, kau tak bisa pergi dari sini. Yang seharusnya pergi dari sini itu dia dan kedua anaknya.” Seru Airin menunjuk ke arah Robert yang berdiri tak jauh darinya. Elard hanya tersenyum miring mendengar penuturan Airin. Dia melirik ke arah Robert yang mengeraskan rahangnya.


“Apa maksud mu Airin.” Teriak Robert pada Airin.


Airin menatap mendelik dan tersenyum sinis pada Robert. “Ya bukankah kau hanya menumpang disini. Ini mension suami ku.”


“Ingat Airin tanpa aku kau juga tak akan pernah menikah dengan Elard.” Balas Robert tak kalah tajam dan berteriak keras. Sementara Elard doa tak menggubris mereka berdua. Dia melangkah lebar keluar dari mension mewahnya. Mension yang sebenarnya sudah sejak dulu menjadi bahan rebutan keluarnya.


Sementara Robert dan Airin masih bertengkar dan menyalahkan satu sama lainnya. Hingga mereka berdua menyadari jika Elard tak ada di tempatnya berdiri.


“Brengsek..” umpat Airin berlari mengejar Elard yang menghilang bersama mobil yang di tumpangi nya.


“Lion..”


*

__ADS_1


Keesokan harinya..


Airin yang memakai kerudung di kepalanya mengumpat saat penjaga di perusahaan Elard nama sekali tak mengizinkan dirinya masuk ke dalam. Padahal dirinya sudah memakai penutup di kepalanya, tapi mereka mengenalinya. Dan yang membuat Airin berang mereka sama sekali tak mengizinkan nya masuk.


“Jangan biarkan Airin masuk kedalam perusahaan. Aku muak dengannya.” Desis Elard menggeram emosi melihat Airin datang ke perusahaan miliknya. Dia tau Airin menginginkan dirinya membersihkan namanya dan mana sudi dia melakukannya.


Elard tak perduli dengan Airin yang akan hancur sekalipun. Baginya Airin bukan siapa-siapa lagi dan dia sudah menceraikannya.


“Tuan sepuluh menit lagi meeting nya akan segera di mulai.”


Elard mendongak dan menganggukan kepalanya mengerti mendengar ucapan sang sekertaris. Dia mematikan layar ponsel miliknya dan bangkit dari duduknya. Ya dia akan membuktikan pada Luis jika dirinya pantas bersanding dengan putrinya. Jika status yang Luis beratkan, demi Tuhan dia tak pernah menyentuh Airin sedikit pun.


Dia sudah memutuskan untuk pergi dari mension mewahnya yang sejak dulu menjadi rebutan. Meski mension itu peninggalan ayahnya, tapi mereka tetap kekeh jika mension itu adalah milik kakeknya.


Sementara Airin mengumpat mereka yang tak mengizinkan nya masuk ke dalam. Emosinya semakin memuncak saat mereka memperlakukanmu nya seperti tak berguna. Ditambah lagi Elard sama sekali tak menemuinya.


sementara Airin, dia mengumpat tak bisa pergi sesuka hatinya mulai saat ini. Tapi Airin tak pantang menyerah, dia kembali lagi menyewa seorang detektif untuk mencari tau dimana gadis itu. Tak mungkin kan gadis itu menghilang begitu saja. Atau mungkin gadis itu ada di apartemen Elard.


Airin mengusap perutnya yang masih rata. Bibirnya tersenyum miring saat mengingat sesuatu. Airin mengedarkan pandangnya dan bibirnya semakin tersenyum lebar.


“Bukan kah aku ratu d mension ini. Robert, kau dan anak mu akan segera pergi dari sini.”


*


Hari berlalu sangat cepat. Tak terasa sudah tiga tahun lamanya Elard tak menemukan keberadaan Ara. Ya, dia sudah berkeliling hampir di seluruh kota Amerika dan sebagian negara Elard sudah datangi. Tapi sayangnya, dia sama sekali tak menemukan keberadaan Ara.


Ya Elard akui Luis sangat apik menyembunyikan Ara darinya. Bertahun tahun dia tak bisa menemukan keberadaan Ara. Entah dirinya yang bodoh atau karna diri sendiri nya lah yang masih tak ingin terlibat dengan Sky, hingga dia tak bisa menemukan Ara.

__ADS_1


“Apa kau tak merindukan ku Ara.” Desah Elard menundukkan kepalanya. Luis sangat tega padanya, dia tak mengizinkan nya bersama dengan Ara. Hingga tiga tahun lamanya Luis tak memberitahukan keberadaan Ara sampai saat ini.


Padahal yang sebenarnya, Luis tak memberitahukan Elard karna dia sengaja melakukannya. Selain ingin melihat perjuangan Elard. Di juga ingin Ara lebih dewasa lagi dan tak sebelumnya.


“Tuan, kita sudah sampai.”


Elard berjengit kaget mendengar suara Jefri di telinganya. Dia mengedarkan pandangannya ke sembarangan arah dan menghembuskan nafasnya perlahan. Elard keluar dari dalam taksi yang di tumpangi nya. Da kembali mengedarkan pandangannya ke sembarangan arah. Negara dan kota yang sangat asing baginya.


Ya saat ini Elard ada di negara Indonesia, negara yang sangat asing dan tak pernah Elard datangi meski hanya sekali saja. Dan kali ini dia datang kemari karna sebuah bisnis. Berkolaborasi dengan perusahaan tekstil terbesar di negara ini.


 Elard melangkah lebar masuk ke dalam gedung di depannya, tentu saja bersama Jefri di belakangnya dan menarik koper miliknya. Elard duduk di salah satu sofa tak jauh dari meja resepsionis, menunggu Jefri memesan kamar miliknya.


Tak sampai sepuluh menit Jefri kembali mendekati tuannya dan mengatakan pada tuannya jika kamar mereka ada di lantai paling atas.


Elard berdiri di dan melangkah kembali, sampai di depan pintu lift seorang wanita menabrak dirinya karna terburu buru.


“Maaf tuan.”


Elard hanya melirik sekilas, dia lalu masuk ke dalam lift begitu juga dengan Jefri. Tapi wanita yang tadi menabrak nya menghentikan pintu lift yang akan tertutup.


“Maaf tuan,”


Elard masih membungkam bibirnya tak menyahut ucapan wanita di depannya. Dia sama sekali tak berniat membalas ucapan nya ataupun menyahut nya. Tak sampai beberapa menit kemudian pintu lift terbuka dan wanita itu lebih dulu keluar dari dalam lift.


“Terima kasih tuan.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2