Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 13# Terkena masalah


__ADS_3

“Tuan siang ini anda ada meeting di sekolah.” Jefri mengingatkan tuannya yang sedari tadi melamun di kursi kebesarannya.


Elard menoleh ke arah Jefri dan mengerutkan keningnya. Tak lama ria mengusap wajahnya kasar, saat mengingat janjinya.


“Gantikan aku, aku tak ingin pergi kemana pun.” Sahut Elard berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati kamarnya.


“Tapi mereka menunggu anda tuan.” Imbuh Jefri mencegah Elard masuk ke dalam kamar pribadinya. Elard menoleh dan mengumpat semuanya. Dia menyambar jas miliknya dan melangkah lebar keluar dari ruangan miliknya. Tak hanya Airin yang membuat mood nya buruk, mereka juga.


Padahal bukan orang lain yang membuat moodnya buruk. Pikirannya yang tak bisa melupakan gadis yang dia lihat waktu itu. Tapi Elard menyalahkan orang lain, begitu juga dengan Airin. Padahal dari dulu Airin sudah seperti itu, seharusnya Elard sudah tau itu. Tapi entah kenapa Elard justru menganggap mereka bersalah begitu juga dengan Airin.


*


Elard menurunkan kaki panjangnya dari mobil saat Jefri membukakan pintu mobil untuknya. Elard melangkah lebar, menuju dimana ruang guru berada. Tak perduli dia menjadi pusat perhatian banyaknya siswa saat ini.


Ya Elard setiap datang ke kampus akan menjadi pusat perhatian banyaknya mahasiswi. Apalagi saat ini Elard datang memakai kacamata hitam yang masih melekat di wajahnya.


“Wah tampannya.” Seru segerombolan siswa yang melihat Elard datang. Mereka bahkan ada yang berpura-pura berjalan melewatinya, berharap pemilik kampus ini menyapanya dan melihatnya.


Dan Elard tetaplah Elard, dari dulu Elard tak pernah berbasa-basi apalagi harus menyapa mereka. Tak perduli wajah mereka yang cantik sekalipun. Istrinya saja yang sangat cantik tak di anggap oleh Elard, apalagi mereka.


“Apa kau tau, tuan Lion datang ke kampus hari ini.”


“Benarkah.”


“Iya..”


Emma yang juga mendengar penuturan mereka menyenggol bahu Ara. Dan Ara menoleh ke arah temannya dan mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya.


“Tuan Lion datang.” Kata Emma padu Ara dan celingukan melihat para siswa meninggalkan kafe.


“Aku dengar.” Sahut Ara aneh dengan Emma. Dan Emma menoleh ke arah Ara dan berdecak sebal.

__ADS_1


“Apa kau tak penasaran dengannya. Tuan Lion sangat tampan, ya meski tua sih. Tapi dia benar benar sangat tampan. Siswi disini bahkan terang terangan ingin menjadi sugar babynya.” Papar Emma yang kadang mendengar cerita heboh mereka yang mengatakan ingin menjadi sugar baby Elard.


“Ck, hubungannya dengan ku apa.?” Sahut Ara lagi menghampiri meja panjang yang berputar menyajikan menu makan siang. “Emma boleh kah aku mengambil dua piring, siang ini mereka sangat menggodaku.” Imbuh Ara melihat menu dia atas meja.


Emma yang geram menarik tangan Ara agar mengikutinya. Dan Ara tentu saja berontak saat tangannya di tarik oleh Emma.


“Emma kita mau kemana, aku lapar.” Desah Ara kesal dengan Emma.


 “Nanti saja makannya, kita lihat dulu tuan datang. Ini adalah kesempatan kita bertemu dengan beliau. Tuan Lion hanya sebulan sekali bahkan kadang dua dan tiga bulan dia datang. Apa kau tak ingin bertemu dengannya dan menyapanya.” Tutur Emma panjang lebar.


“Astaga.” Lirih Ara tak percaya mendengar penuturan Emma. Dia menarik tangan Emma dan berbalik lagi, tapi sayangnya Emma kembali menarik tangannya agar mengikutinya.


“Emma... “ geram Ara kesal.


“Ck sebentar saja temani aku. Aku ingin melihatnya,” Hiba Emma menatap Ara. Dan Ara hanya mendesah kasar mendengar nya. Dia pasrah menahan lapar dan mengikuti sahabatnya melihat tuan Lion. Ara sendiri tak berminat sama sekali, tapi demi Emma dia akhirnya mengikuti sahabat nya.


Mereka berdiri di lorong menunggu Elard berjalan melewatinya. Ya mereka bahkan sudah berjajar ingin menyapa dan di lirik oleh pria dewasa yang berjalan menuju ke arahnya. Dan Ara, hanya berdecak melihat mereka semua. Dia menoleh ke arah pria dewasa yang semakin dekat dengan mereka. Tak lama Ara berbalik kembali setelah melihatnya.


Dan Emma menarik tangan Ara lagi saat menyadari sahabat nya ingin pergi meninggalkannya lagi.


Ara hanya mendengus mendengar pertanyaan Emma. Dia mengedarkan pandangannya dan menggerutu bibirnya. Mereka bahkan rela menahan lapar demi melihat dan menyapa pria dewasa yang berjalan ke arah mereka.


,”Mereka benar benar aneh.” Gumam Ara.


Sementara tak jauh dari Emma dan Ara, Mishel tersenyum miring. Dia melangkah mendekati Ara, dan tak lama mendorong Ara kedepan hingga jatuh tersungkur. Tentu saja dengan mudah Ara terjatuh, karna dia tak tahu seseorang akan mendorongnya.


Brukk..


“Shh..” Ringis Ara saat tangan dan kakinya terasa sakit.


Tak lama kemudian terdengar tawa serempak melihat Ara yang jatuh tersungkur. Begitu juga dengan Mishel, dan para sahabatnya. Mishel tersenyum miring, dalam hati mengatakan jika Ara pasti sangat malu saat ini.

__ADS_1


Elard menghentikan langkahnya dan menggeram emosi melihat gadis belia jatuh di depannya. Dia tau, jika dia sengaja menjatuhkan dirinya.


“Apa kau punya mata melihat jalan, heh.” Umpat Elard. Mishel tersenyum miring mendengarnya, selain malu, dia pasti akan terkena masalah nanti.


Ara mendengus mendengar umpatan pria dewasa di depannya. Sebenarnya dia ingin menangis saat ini, karna tangan dan lututnya sakit. Tapi dia tak ingin semakin mempermalukan dirinya dengan menangis. Andai ada daddynya pasti daddynya akan menolongnya saat ini. Tapi sekarang tak ada siapapun yang akan menolongnya.


 Bukankah ini pilihannya yang katanya ingin mandiri. Jadi dia harus tahan dengan luka kecil seperti ini.


“Apa kau tuli, minggir.” Sentak Elard lagi. Dia benar benar emosi melihat gadis di depannya masih tak menyingkir. Sementara Jefri menghembuskan nafasnya perlahan. Bukan hal baru, jika tuannya akan marah jika ada kesalahan sedikit saja, termasuk di kampus sekalipun.


Para siswi perempuan menghentikan tawanya mendengar suara keras Elard. Tapi mereka masih tersenyum melihat Ara, bahkan mereka ada yang mencibir Ara yang bodoh.


“Queen, kau baik baik saja.” Emma yang tersadar mendekati Ara. Dan Elard mendengus, sejak bertemu dengan gadis belia itu pikirannya menjadi kacau. Di tambah lagi drama mereka, sungguh membuat dia semakin emosi. Elard kembali melangkahkan kakinya emosi.


“Aku baik baik saja.”


Deg..


Elard menghentikan langkahnya mendengar suara merdu di telinganya. Dan Jefri yang berdiri di belakang tuannya mengerutkan keningnya melihat tuannya menghentikan langkahnya.


Elard berbalik kembali, seketika jantungnya berdetak lebih kencang melihat wajah cantik gadis di depannya. Gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur. Dan wajah imutnya yang tak bisa hilang dari kepalanya.


Emma membawa Ara pergi dan menuju ke ruang kesehatan. Dia menyesal telah memaksa Ara. Jika tau begitu dia tak akan mengajak Ara tadi. Selain di permalukan, dia juga akan terkena masalah.


“Tuan..” Sapa salah satu guru yang menjemput pemilik universitas tempatnya bernaung.


Elard yang tersadar kembali berbalik dan melangkah lebar tanpa menghiraukan pria yang baru saja menyapanya.


Sementara Firdaus mengikuti langkah Lion bersama dengan Jefri di belakangnya.


“Panggil gadis itu untuk menemuiku.” Firdaus mengerutkan keningnya mendengar penuturan Lion. Dia menoleh ke arah asisten tuannya yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


“Tuan ingin gadis yang jatuh tadi.”  Sahut Jefri melihat kebingungan Firdaus. Dan Firdaus hanya menganggukan kepalanya mengerti. Tak lama dia berbalik kembali dan mencari tau siapa yang membuat kekacauan pada pemilik sekolah ini.


“Pasti mereka sengaja melakukannya.”  Gumamnya kesal dan emosi.


__ADS_2