Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 30#


__ADS_3

Ara menekuk wajahnya saat datang  ke kampus. Dia menutup pintu mobilnya kencang dan melangkah masuk dengan malas dan gondok pada Elard.


 Ara tak mengerti, kenapa daddynya harus menitipkan dirinya pada Elard. Ya Ara tau, apa maksud daddynya menitipkan nya pada Elard. Apalagi jika bukan ingin yang terbaik untuknya sekaligus untuk mengawasi nya. Di tambah lagi Elard adalah pemilik universitas ini, tentu saja ayahnya sudah merencanakan nya.


“Tapi kenapa harus dengan tuan Lion. Ara tak menyukainya dad. Dia terlalu kuno.” Kesal Ara, karna ternyata ayahnya mengingkari janjinya. Tapi Ara tak sepenuhnya menyalahkan ayahnya  Karna dia tau, semua ini demi keselamatan nya.


“Ishh.. “ Ara mencebikkan bibirnya dan mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangannya. Ara masih kesal dengan Elard yang terus menciumnya.


Tapi tak lama Ara tersenyum, entah kenapa dia sendiri menikmati ciuman panas Elard di bibirnya. Tapi tak lama Ara menggelengkan kepalanya. Tetap saja, dia tak menyukainya, karna Elard tak meminta izin padanya terlebih dahulu.


Sementara Dary yang sudah lama menunggu Ara segera berlari menghampiri Ara saat melihat wanita yang di tunggu nya datang dan turun dari mobil mewahnya.


“Queen..” panggil Dary menghampiri Ara yang berjalan seorang diri.


Ara menatap Dary yang terlihat lesu dan tak seperti biasanya tanpa membuka mulutnya. Tapi tak lama dia menggelengkan kepalanya saat menyadari pikiran bodohnya.


“Hari ini kau sedikit berbeda pakai pakaian panjang seperti ini.” Tanya Dary ikut melangkah bersama Ara. Dan Ara hanya melirik ke arah Dary. Dia masih menekuk wajahnya karna kesal dengan Elard yang tak membawa pakaian miliknya. Alhasil hanya pakaian panjang yang ada di apartemen Elard.


Ya sebelum datang ke kampus, dia sempat berdebat dengan Elard tentang baju. Ara tak ingin memakai pakaian yang panjang, ini bukan fashion nya. Tapi Elard memaksanya untuk memakainya. Tak ada pilihan lain lagi, Ara terpaksa memakai dress panjang di tubuhnya.


“Aku hanya ingin memakainya.” Sahut Ara sedikit ketus.


Dary mengerutkan keningnya mendengar jawaban ketus Queensa.  Tapi tak lama dia menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar pada gadis hanya berjalan di sampingnya. Sebenarnya, Dary ingin menanyakan tentang hubungannya dengan pemilik universitas ini pada Ara. Tapi Dary takut jika Ara berpikir macam-macam tentangnya dan membencinya.


Sementara tak jauh dari mereka, Mishel menatap keduanya benci dan emosi. Dia tak percaya jika hubungan keduanya semakin membaik dan lebih dekat.


“Gadis sialan, aku pasti bisa menyingkirkan mu dari Dary.” Gumam Mishel mengepalkan tangannya. Sementara kedua sahabatnya yang berdiri di sampingnya.


“Aku juga membencinya.” Sahut Bella salah satu teman Mishel yang mendengar suara gumaman Mishel di telinganya.


*

__ADS_1


Brakk..


“Apa kau bodoh Jefri, kenapa kau membiarkan dia mendekati Ara.” Teriak Elard di dalam ruangan miliknya. Tatapan matanya melotot pada Jefri yang bodoh dan berdiri di depannya.


“Maaf tuan.” Jefri menundukkan kepalanya. Sementara Elard memijit kepalanya yang sedikit pusing. Andai tak ada pekerjaan yang sangat penting hari ini, dia pasti akan langsung datang ke kampus dan menjauhkan Ara dari pria itu.


“Brengsek.. “ umpat Elard dan tak lama sekertaris nya datang mengatakan jika rekan bisnisnya sudah menunggunya di ruangan khusus. Elard segera berdiri dari duduknya dan menemui rekan bisnisnya.


Satu jam kemudian, Elard tetap saja tak bisa menghilangkan bayang bayang Ara yang terus bersama dengan Dary. Pemuda yang mereka bilang paling populer di Universitas miliknya.


“Sial, awas saja aku pasti akan membunuhmu jika kau berani menyentuh milik ku.” Gumam Elard mengepalkan tangannya menahan emosi.


Jefri melirik ke arah tuannya yang terlihat gelisah dan dia hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti. Yang dia tangkap tuannya menyukai gadis itu lebih dari apapun. Terlihat jelas dengan perlakuan tuannya.


Tapi Jefri tak tau apa yang akan di rencanakan oleh tuannya.


Elard mengambil ponsel miliknya dan menekan tombol di layar ponselnya. Tapi sudah tiga kali dia menghubunginya tetap saja Ara tak menjawab sambungan telponnya.


“Apa yang dia. Lakukan, apa dia sengaja tak menjawab sambungan telpon ku.”


“Tuan mengatakan sesuatu.” Tanya rekan bisnisnya yang duduk dj depan nya.


*


Tentu saja Ara tak akan menjawab sambungan telpon Elard. Selain dirinya yang berada di dalam kelas, Ara memode silent ponsel miliknya.


Hingga satu jam kemudian pelajaran telah usai. Ara mengambil ponsel miliknya  mengerutkan keningnya melihat siapa yang berulang kali menelponnya. Lebih dari dua puluh kali dia menelponnya. Dan Ara tak ingin dia semakin pusing dia membiarkannya begitu saja ponsel miliknya.


Brakk..


Ara berjengit kaget mendengar suara gebrakan meja miliknya. Dia mendongak melihat siapa orangnyaorangnya.  Dan Ara menghembuskan nafasnya kerlai melihat Mishel dan kedua temannya.

__ADS_1


“Gadis sialan, apa hubungan mu dengan Dary. Kenapa kau masih mendekatinya. Apa kau memang gadis yang suka menggoda pria hah.” Teriak Mishel menarik rambut Ara.


Sementara Emma yang baru masuk ke dalam kelasnya kaget melihat Mishel menjambak rambut Queensa. Dia berlari mendekatinya Ara. Tapi sayangnya, kedua teman Mishel menghalanginya.


“Lepaskan Emma.” Seru Ara melihat Emma yang kesakitan. Dan Mishel tertawa mendengar permintaan Queensa. “Seharusnya kau lah yang meminta ku untuk melepaskan mu.”  Kekeh Mishel semakin menarik rambut Ara.


Tentu saja Ara merasa jika kepalanya semakin pusing dan berdenyut di tambah lagi melihat  Emma sahabat juga meringis kesakitan. Hingga tak lama kemudian...


Bruk..


Entah keberanian dari mana, Ara mendorong Mishel hingga terjengkang ke belakang dan menabrak kursi.


“Brengsek..”teriak Mishel bangkit dari jatuhnya dan kembali mendekati Ara. Tapi sayangnya Dary terlebih dahulu datang hingga membuat Mishel mengurungkan niatnya.


“Ada apa.?” Tanya Dary menatap mereka satu persatu. Jika Queensa yang terlihat menyedihkan, Mishel terlihat emosi wajahnya.


“Apa yang kau lakukan pada Queensa,” imbuh Dary geram menatap Mishel.


“Kenapa kau membelanya Dary. Apa kau tak bisa melihat jika dia sudah mendorong ku. Kenapa kau berbicara buruk padaku dan memfitnah ku.” Sahut Mishel menatap Dary kecewa.


“Aku hanya ingin mengajaknya menjadi teman.” Bohong Mishel lagi.


“Queen.”


Ara menutup bibirnya dan tak menjawab seruan Dary. Dia justru mengambil tas miliknya dan keluar dari kelasnya. Sementara Dary semakin tak mengerti melihat Queensa yang sepertinya membencinya.


“Queensa.” Serunya mengejar Queensa dan Emma yang keluar lebih dulu.  Dary tak ingin Queensa membencinya, dia tambah lagi belakangan ini, Lion mencoba mendekati Ara.


Sementara Ara dia tak menggubris terikan Dary. Dia terus melangkah sambil menarik tangan Emma di sampingnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2