Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.67# Mengantikan


__ADS_3

Ara mengedarkan pandangan setelah Elard keluar dari kamar. Dia memegang kakinya yang sedikit bengkak dan sakit. Jantungnya masih berdetak tak karuan saat ini. Ara masih ingat tiga tahun yang lalu, Elard pernah mencumbu nya waktu itu. Meninggalkan jejak di lehernya, dan dadanya. Tapi Ara tak merasakan getaran apapun saat itu, dan sekarang, Elard hanya perhatian dan mengendong tapi jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya.


“Ada apa denganku.” Keluh Ara memiringkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya. Lama kelamaan Ara benar benar tertidur di ranjang Elard.


Sementara Elard mengepalkan tangannya mendengar penuturan Jefri di telinganya.


“Preston...” gigi Elard gemerutuk menahan emosi, mantan rekan bisnis nya mencoba lagi mengusik dirinya. Setelah beberapa kali anggota lainnya merayunya untuk bekerja sama kali ini Preston yang mengusiknya.


Cih...


“Jadi kau sudah bangkit lagi,” Elard menarik sudut bibirnya ke atas. Elard tau, jika Preston diam diam mengirim mata mata padanya. “Aku menunggumu kepala mu brengsek.” Umpat Elard lagi. Penyerangan yang semalam, ternyata Preston lah dalangnya.


“Luka anda terbuka lagi tuan.” Kata Jefri, setelah membuka perban di lengan Elard yang terluka akibat kemarin malam. Wajar saja, luka di tangannya berdarah dan terbuka lagi, Elard baru saja mengangkat beban Ara di tangannya.


Elard hanya melirik lukanya sekilas, beruntungnya, Ara tak menyadarinya dari tadi. Tak lama kemudian Elard menyambar kemeja berwarna hitam di tangan Jefri dan memakainya.


“Aku tak mau tau, beri pelajaran dia. Jangan sampai dia tau Ara kembali lagi kemari.”


“Baik tuan.”


Elard melangkah lebar menghampiri kamar pribadinya. Dia membukakan pintunya perlahan dan tersenyum melihat Ara yang tertidur pulas di atas ranjang miliknya. Elard menghampiri Ara dan tidur di sampingnya.


Cup...


“Aku mencintaimu sayang.” Bisik Elard di telinga Ara, tangannya melingkar di pinggang rampingnya. Entah lelah atau nyaman saat tubuhnya berbaring di samping wanita yang di cintainya. Tak sampai setengah jam kemudian Elard tertidur pulas di samping Ara.


Sementara Ara dia membuka matanya saat mendengar dengkuran halus Elard di telinganya. Ara bisa mendengar suara bisikan Elard di telinganya. Aku mencintaimu sayang. Kata yang selalu Elard katakan padanya dari dulu, dan Elard masih tetap mengatakannya padanya sekarang.


“Apa om benar-benar mencintai ku.” Gumam Ara memejamkan matanya. Tangannya perlahan menyingkirkan tangan Elard yang melingkar di pinggangnya dan turun dari ranjang secara perlahan. Ara bernafas lega saat berhasil turun dari ranjang.


Dia meringis merasakan kakinya yang sedikit sakit. Tapi dia harus pergi dari sini, sebelum Elard terbangun. Ara perlahan membuka pintu kamar dan berjalan keluar dari ruangan Elard tanpa menggunakan alas kaki di kakinya. Dan Elard dia benar benar tertidur pulas, dia tak tau jika Ara sudah pergi dari sisinya.


“Nona.” Jefri kaget melihat Ara yang keluar dari ruangan ceo dalam keadaan sedikit pincang.

__ADS_1


“Aku baik baik saja.” Sahut Ara kembali melangkah masuk ke dalam lift.


Sementara di parkiran Airin kembali lagi datang ke perusahaan Elard. Kali ini Airin datang seorang diri, tanpa membawa putranya.  Airin turun dari mobilnya dan melangkah mendekati pintu masuk. Tapi Airin di buat tak percaya jika kedua penjaga menghalangi jalannya masuk ke dalam.


“menyingkir dari harapan ku.” Desis Airin mengeratkan giginya gemerutuk. Sementara dua penjaga pintu masuk, hanya diam saja. Airin kembali lagi masuk dan menerobos, tapi sayangan mereka justru menarik tangannya hingga Airin terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh.


“Brengsek..” umpat Airin, dadanya naik turun menahan emosi. Apa Elard tak mengijinkan nya lagi masuk ke dalam dan menemuinya.


Ara yang keluar dari perusahaan Elard menyipitkan matanya melihat Airin. Dia menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya. Tapi Airin menyadari Ara yang baru keluar dari mobilnya. Terang saja Airin berjalan dan mendorong Ara hingga Ara tersungkur dan menabrak mobil di depannya. Tak hanya mendorongnya, Airin juga menarik rambut Ara hingga Ara meringis.


“Kau gadis sialan,”


Bruk..


“Brengsek.” Umpat Airin mendongak dan mendelik tak percaya pada Ara yang berani mendorongnya.


“Airin, aku tau kau ingin membunuh ku bukan.” Ucap Ara tersenyum sinis pada Airin yang mencoba menghampirinya. Airin mengumpat dan menatap tajam Ara yang justru tersenyum padanya. Tapi dari mana gadis di depannya tau jika dia ingin membunuh nya.


“Kau lihat, aku baru saja pemotretan, menggantikan mu.” Wajah Airin merah padam mendengar penuturan Ara. “ Aunty, posisi mu di perusahaan ini sudah ku gantikan dengan ku. ” lanjut Ara terkekeh melihat wajah Airin yang merah padam.


“Kau ******, aku akan membunuhmu brengsek.” Desis Airin semakin emosi tak terkendali.


Dan Ara tak menggubris ucapan Airin. Dia justru menekuk kakinya  dan mencondongkan wajahnya pada Airin.


“Satu lagi aunty, aku juga akan menggantikan posisimu sebagai istri Lionel Elard Roberto.” Imbuh Ara lalu menegakkan tubuhnya kemudian berbalik dan melangkah menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam.


Sementara Airin, dia mengepalkan tangannya mendengar penuturan Ara. Terlebih lagi saat melihat senyum di bibir Ara padanya.


“Ingin bersaing dengan ku ******.’


 Ara mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang meninggalkan perusahaan Elard. Dia sendiri tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan pada Airin. Kenapa dia mengatakan ingin menggantikan posisi Airin menjadi istri Elard. Benarkah, di sadar apa yang baru saja dia katakan pada Airin tadi.


“Tuhan, bagaimana jika Elard mendengarnya.” Gumam Ara menggelengkan kepalanya karna kebodohannya. Tentu saja akan sangat memalukan jika Elard sampai tau dia baru saja mengatakan itu pada Airin.

__ADS_1


“Semoga saja dia tak tau.”


Sementara Elard mengerjapkan matanya. Dahinya mengkerut saat tak mendapatkan Ara di sampingnya. Elard mendudukkan bokongnya dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ara.


Elard bangkit dari ranjang dan keluar dari kamarnya. “Dimana Ara.” Tanya nya melihat Jefri berdiri di depan pintu.


“Nona sudah pergi tuan.”


Elard menoleh ke arah Jefri, dia kembali lagi mengedarkan pandangannya dan mengusap wajahnya kasar. Bagaimana Ara pergi dia bisa tak tau dan tak menyadarinya. Apa dia yang terlalu, pulas dan tak menyadari Ara pergi, padahal dia memeluk Ara bukan.


Elard menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kebodohannya sendiri. Apa karna selama ini dia tak pernah tertidur pulas. Dan saat di samping Ara dia bisa tertidur hingga tak menyadari apapun yang terjadi.


“Bodoh.”


Ara menyipitkan matanya saat melihat seseorang melambaikan tangannya. Dia menghentikan mobilnya dan mengedarkan pandangannya ke sembarangan arah dan membuka jendela mobil nya. Dia pikir pria ini butuh tumpangan saat ini, mungkin mobilnya rusak.


“Anda baik baik saja tuan.”


Click


Ara kaget melihat sebuah senjata api mengarah padanya. Tatapan matanya melirik beberapa pria yang bermunculan dari balik pohon dan sama membawa sebuah senjata api di tangannya. Ara tersenyum masam, rupanya mereka sengaja melakukannya. Jalan ini memang cukup sepi meski di siang hari. Seketika Ara menyesal melewati nya dan bertemu para perampok ini.


Padahal mereka bukan perampok, melainkan pembunuh bayaran yang ingin membunuh Ara.


“Apa yang anda inginkan tuan. Aku bisa memberikan semuanya untuk kalian. Ucap Ara yang masih duduk di dalam mobilnya.


“Nyawamu, kami ingin nyawamu nona.” Pria yang menodongkan senja apinya pada Ara terkekeh lucu. Ternyata menangkap kelinci kecil seperti mu sangat mudah nona.


Ara tersenyum miring, “Benarkah anda ingin nyawaku.” Ulang Ara.


“Keluar.” Desis pria menggoyangkan senjata di tangannya agar Ara turun dari mobilnya.


“Ya aku akan turun tuan.’

__ADS_1


Brakk..


 


__ADS_2