
Sampai di kafe, Emma menarik tangan Ara menuju salah satu meja panjang yang di kerumuni beberapa siswa.
“Pilihlah, kita bebas memilihnya di sini.” Ucap Emma yang di angguki Ara.
Ara menoleh pada meja panjang yang putar perlahan. Dia atasnya banyak menu tersaji. Ara menoleh ke arah salah satu siswa dan ternyata benar, mereka bebas memilihnya dan mengambilnya.
Tak lama Ara mengambil satu piring kecil daging asap dan jus jeruk, lalu membawanya dan mencari tempat duduk.
“Berapa usiamu. Kupikir kau adalah keponakan salah satu dosen di sini. Aku tak percaya, kau benar-benar mahasiswi di sini. Kau bahkan sangat kecil.” Kata Emma menatap Ara dengan pandangan menyipit.
“Oprasi..” imbuhnya lagi.
Ck..
Ara berdecak mendengar penuturan teman barunya. “Apa menurutmu wajahku terlihat seperti oprasi.” Tanya Ara dengan senyum di bibir mungilnya.
Emma menggelengkan kepalanya mendengarnya. “Tapi wajahmu, benar-benar meyakinkan.” Celetuk Emma lagi. Tangannya bahkan terulur ingin mencubit pipi Ara, tapi sayangnya Ara lebih dulu menyingkirkan tangannya.
Emma meringis melihat Ara menyingkirkan tangannya. Tapi dia sungguh penasaran melihat wajah Ara yang benar-benar mulus.
“Berapa usia mu.” Kepo Emma lagi, dia belum puas jika masih ada yang mengganjal di hatinya. Ya Emma tidak ingin mati penasaran, saat masih ada yang belum dia ketahui.
Ara tersenyum tipis mendengarnya. “Delapan belas tahun.”
“What..”
“Apa ada yang aneh.” Tanya Ara mengerutkan keningnya mendengar pekikan teman barunya.
“Jadi benar kau oprasi, oh my god.” Seru Emma heboh sendiri. Ara menyedihkan bahunya acuh. Dia tak percaya Emma masih menanggap nya telah melakukan oprasi di wajahnya. Apa wajahnya sangat terlihat aneh.
__ADS_1
“Untukmu..” Ara mendongak saat melihat satu sosis berada di depannya. Dary tersenyum lebar melihat Ara yang menatap ke arahnya. Dia ikut mendudukkan bokongnya di samping Ara.
“Terima kasih, aku sudah makan daging asap tadi.” Tidak Ara halus menunjukkan piring kecil di depannya.
Sementara Dary tersenyum tipis. Dia tau Queensa menolaknya.
Sementara tak jauh dari sana, Mishel mengepalkan tangannya. Dia tak suka melihat Dary mendekati gadis itu.
“Awas kau.” Gumam Mishel. Sementara temannya yang duduk di sampingnya juga tak kalah menatap ke arah Ara dan Dary. Mereka terlihat sangat serasi, satu cantik dan satunya sangat tampan. Ya mereka tau, siapa Dary, pria yang terkenal play boy di seluruh universitas ini. Tentu saja, selain dia juga tampan, dia juga anak dari pemilik universitas ini.
Dan Ara menyadarinya, dia menghembuskan nafasnya perlahan. Ternyata mencari teman itu benar-benar sangat sulit. Baru satu hari, dia menjadi siswa di sini, tapi dia sudah mendapatkan musuh.
*
Beberapa hari berlalu..
“Tuan sudah sampai.” Seru Jefri saat membuka pintu mobil tuannya masih melamun di dalam.
Elard terkesiap mendengar penuturan Jefri. Dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam perusahaan miliknya. Melangkah lebar menuju pintu lift khusus miliknya. Semua karyawan yang berpapasan dengannya menundukkan kepalanya. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya saat pemilik perusahaan datang.
“Sayang..” Seru Airin, menghentikan langkah Elard.
Dan Elard mengeraskan rahangnya mendengar seruan Airin yang berjalan ke arahnya. Dia tak tau untuk apa Airin datang kemari.
Cup..
Airin mengalungkan tangannya di leher suaminya dan mengecup bibir Elard. Sudah beberapa malam, Elard tak kembali pulang ke mension lagi. Elard belakangan ini semakin sering mengabaikannya. Dan Airin tak ingin Elard semakin jauh dengannya.
Elard melepaskan tautan bibir Airin kemudian menjauhkan Airin dari tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah Airin. Rahangnya mengeras dan tangannya mencengkram erat bahu Airin. Dan Airin hanya memejamkan matanya mendapatkan semua ini.
__ADS_1
“Aku hanya ingin meminta izin padamu. Pagi ini aku akan pergi pemotretan di Hongkong. Apa kau ingin ikut.” Papar Airin pada Elard. “Aku akan langsung pergi, semalam kau tak kembali pulang, jadi aku menemuimu disini.” Lanjutnya lagi, menatap penuh harap pada suaminya berharap Elard kali ini ikut dengannya. Selama ini Elard tak pernah mengikutinya saat dia pergi pemotretan.
“Pergilah aku sibuk.”Sahut Elard mematahkan hati Airin yang penuh harap.
“Apa kau tak bisa ikut dengan ku sekali saja.” Seolah tak ingin gagal dia kembali mengatakannya dan menatap Elard dengan mata yang berkaca kaca.
Tapi Elard tetaplah Elard. Dia pria yang tak bisa berbasa-basi apalagi harus berpura-pura dengan Airin tentang perasaan.
“Aku tak bisa meninggalkan pekerjaan ku.” Sahut Elard dan melangkah menuju pintu lift yang di ikuti oleh Jefri di belakangnya.
Sementara Airin mengepalkan tangannya, lagi lagi Elard meninggalkannya dan mengabaikannya tanpa perasaan. Bukan hanya itu, Elard menolaknya lagi untuk kesekian kalinya. Padahal saat ini mereka sedang di dalam lobi. Banyak karyawan yang sedang melihatnya. Tapi Elard lagi lagi mempermalukannya di depan karyawannya. Elard tak pernah memperlakukan dirinya manis di depan karyawannya. Dia hanya memperlakukan manis saat berada di depan rekan bisnisnya.
Tapi Airin yang sudah terbiasa, juga terus ingin mendekati Elard. Seolah Elard akan memperlakukan manis dirinya di depan karyawannya. Nyatanya lagi lagi Elard masih bersikap dingin padanya.
Sama ketika mereka menjalin kerja sama, sikap Elard sangat dingin hingga menikah pun dia belum mendapatkan hati Elard. Apalagi mendapatkan tubuhnya, entah kapan Airin akan mendapatkan hati dan tubuh suaminya. Airin tak tau, tapi dia berharap suatu saat Elard akan memperlakukan dirinya manis di depan karyawannya.
Airin berbalik dan menatap tajam pada karya Elard. Tentu saja mereka hanya bisa menundukkan kepalanya melihat tatapan tajam istri pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Mereka juga takut pada istri tuannya. Apalagi jika bukan takut di pecat. Selain itu, istri tuannya itu adalah seorang model dan artis papan atas. Sangat mudah baginya, membuat berita yang akan membuat dirinya di pecat dari perusahaan, dan mereka tentu saja tak mau hal itu terjadi.
Brakk..
“Shit..” umpat Elard saat berada di dalam ruangan miliknya. Dia sungguh muak dengan Airin yang terus bersikap seperti remaja.
Elard mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya dan memijit kepalanya yang pusing. Bayang bayang wajah gadis belia itu sungguh tak bisa hilang dari kepalanya. Di tambah lagi Airin yang selalu saja membuatnya muak dan membuat moodnya seketika menjadi buruk. Tentu saja Elard emosi bukan main.
Padahal sudah beberapa hari yang lalu, tapi tetap saja wajah imut gadis belia itu sama sekali tak bisa hilang dari kepalanya.
__ADS_1