
“Dimana Ara.” Tanya Elard.
Ya entah kenapa Elard merasa jika Ara tak ada di mension saat ini.
Sky tersenyum masam mendengar suara dingin putranya padanya. Sungguh hatinya sakit, di benci oleh orang yang di sayanginya.
“Dimana Ara.” Tanya Elard untuk kedua kalinya, setelah tak mendengar jawaban Sky. “Untuk apa kau menanyakannya Lion.” Sahut Sky lirih.
“Apa kau takut, putrimu bersamaku.” Tanyanya lagi tersenyum miring pada Sky.
Sky diam saja, “Ya, dia tak tau apa apa. Jangan mengusiknya, kau bisa membalasnya pada daddy. Ara tak bersalah, jangan libatkan dia dan jangan menghancurkannya. Dia tak tau apa apa Lion.” Sahut Sky dengan suara lirihnya. Dia memang tak ingin Elard mempermainkan putrinya. Selain dia yang tak tau apa apa, Ara masih terlalu belia untuk urusan orang dewasa.
Elard mengepalkan tangannya mendengar penuturan Sky. Sungguh apa yang dia pikirkan benar adanya. Sky mengira jika dia akan membalaskan dendam nya pada Ara. Padahal meski dia benci padanya, untuk menjadikan Ara sebagai tawanan nya dan mainannya Elard sama sekali tak berpikir kesana. Dia mencintai Ara bukan untuk mempermainkan nya.
“Ara masih terlalu kecil untuk kau permainkan Lion. Dia tak tau tentang sebuah hubungan, dia masih labil. Dia juga tak tahu apa apa, tentangmu.” Papar Sky menatap wajah Elard.
“Dimana Ara,” tanya Elard untuk kesekian kalinya pada Sky.
Sky mendesah kasar dan menatap wajah putranya yang memohon. “Apa yang kau inginkan dari Ara. Untuk apa kau mencarinya, dia ingin mengejar cita citanya Lion.” Jawab Sky.
Wajah Elard yang sebelumnya mengeras seketika mengendur mendengar penuturan Sky. Ara sudah pergi, kemana.?
“Kemana dia pergi.” Lirih Elard masih dengan pertanyaan yang sama dengan kepala yang menunduk. Sungguh dia tak ingin Ara pergi darinya. Terlebih Ara pergi karna membencinya. Dia tak ingin Ara membencinya, meski sedikit saja.
Sky diam tak menyahut pertanyaan Elard. pandangannya tak berkedip melihat Elard yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Apa dia membenciku.?” Lanjutnya lagi.
Deg..
Kali ini Sky tak salah menerka lagi. Mendengar pertanyaan lirih putranya, dia bisa menyimpulkan sesuatu. Apa ini sebuah anugrah untuknya. Mengembalikan putranya dengan cara menjadi menantunya. Ya Sky bisa melihat ada cinta di mata Lion untuk putranya. Dia pikir, Elard ingin mempermainkan putrinya. Tapi sepertinya, apa yang Elard lakukan selama ini karna dia mencintai Ara. Tapi Elard memiliki istri, dia tak ingin Ara menjadi orang ketiga dalam hubungan Elard dan istrinya.
“Dia tak mengatakan apapun, hanya ingin mengejar cita citanya.” Sahut Sky tak mengalihkan pandangannya dari Elard. “Biarkan dia mencari jati dirinya sendiri. Dia akan kembali jika dia ingin kembali. Dia masih terlalu muda untuk kau permainkan perasaan nya Lion.” Imbuh Sky masih menatap Elard yang menundukkan kepalanya.
Sementara Elard yang mendengar perkataan terakhir Sky, mendongak. Sky tau jika dia menginginkan Ara. Ingin sekali Elard marah pada Sky dan menghajarnya agar mengatakan di mana Ara. Tapi Elard tak sampai hati, biar bagaimana pun juga dia tetap lah orang tuanya.
Keduannya diam membisu dan hanya saling menatap satu sama lain. Sky yang masih tak percaya Elard benar benar akan menginginkan Ara.
“Daddy tak akan mengatakan dimana Ara saat ini Lion. Biarkan Ara dewasa dan bisa memilih apa yang terbaik untuk nya. Jangan mencarinya Lion, kau tentu tau apa alasannya.”
“Aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan Luis.” Tekan Elard kemudian berbalik dan melangkah keluar meninggalkan Sky di ruangannya.
Sampai di luar ruangan Sky kaki Elard benar benar sangat lemas. Matanya berkaca kaca dan tubuhnya bergetar. Ara meninggalkan nya lagi. Kenapa dia harus pergi darinya lagi. Bertahun-tahun memendam cinta pada gadis balita yang membuat dia gila dan hilang akal. Kini setelah dia bertemu dengannya, dia kembali lagi pergi darinya. Bagaimana dia akan memiliki Ara jika dia sendiri tak ada bersamanya. Bagaimana jika seseorang lebih dulu merebut Ara darinya. Tapi apa yang di katakan Sky benar adanya. Ara pergi karna kecewa padanya.
Ya Ara pasti yang ingin pergi darinya, setelah kejadian saat itu. Elard tau Ara pasti kecewa padanya dan dia sendiri pasti yang menginginkan pergi dan pindah sekolah dari sebelumnya. Elard tak pernah memaksa Ara dan dia yakin Ara lah yang menginginkan pergi.
Bagaimana jika Ara bertemu dengan seseorang dan saling mencintai.
Elard menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya. Ara miliknya dan tetap akan menjadi miliknya. Sky tak mungkin menikahkan Ara dengan orang lain. Tak perduli, Luis akan marah padanya dan tak merestui nya sekalipun. Dia akan mendapatkan Ara apapun caranya. Tapi bagaimana caranya, Ara marah padanya. Apa yang di katakan Sky benar. Biarkan Ara terlebih dahulu.
Sementara Sky mendesah kasar melihat pintu ruangan nya tertutup. Kenapa Elard tak mengatakan yang sebenarnya padanya, jika dia mencintai Ara. Apa dia malu dan masih marah padanya. Ya mungkin Elard malu mengatakan itu padanya karna dia sebenarnya masih marah padanya.
__ADS_1
Ada perasaan senang dan ada perasaan yang entah di hati Sky saat Elard mencintai putrinya. Elard memiliki istri, apa Elard akan menceraikan istrinya dan menikahi Ara. Tapi bagaimana jika Elard ingin menjadikan Ara yang kedua.
Ternyata semua yang di pikirkan benar adanya. Elard mencintai putrinya. Tapi setidaknya, dia tau Elard tak akan menyakiti putrinya. Ya Sky yakin Elard tak akan mencari keberadaan Ara untuk saat ini.
“Apa yang harus kulakukan, apa ini salah. Apa kau akan semakin membenciku Lion.”
*
Sampai di hotel Elard mendudukkan bokongnya diatas sofa. Memijit kepalanya yang pusing. Jantungnya berdebar tak karuan, mengingat Ara benar benar pergi.
Tak lama pintu di ketuk dari luar dan menampilkan Jefri yang masuk ke dalam menundukkan kepalanya. Elard masih diam, tak ingin bertanya pada Jefri. Dia masih kecewa pada dirinya sendiri yang membuat Ara pergi jauh darinya lagi. Jika semua kejadian itu tak ada Ara tak akan pergi darinya.
“Brengsek,” Umpat Elard mengamuk di dalam kamar hotel. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Pergi mencarinya atau membiarkan dia terlebih dahulu.
Jefri menundukkan kepalanya melihat tuannya mengamuk. Perlahan dia bisa menyimpulkan apa yang di inginkan tuannya. Dan bagaimana jika tuannya mengetahui tentang ini.
Tak lama layar televisi yang berukuran sedang menempel di tembok menyala otomatis. Ya tanpa sengaja Elard yang mendudukkan bokongnya lagi di atas sofa memencet remot control hingga televisi menyala.
Wajah Elard seketika mengeras menahan emosi. Airin sedang mengadakan konferensi pers dan mengatakan dia sedang program hamil. Tangan Elard mengepal dan emosinya semakin memuncak mendengarnya.
“Airin..”
Brakk..
__ADS_1