Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.77#


__ADS_3

“Brengsek.”


Airin mengamuk di dalam kamarnya dan melampiaskan amarahnya pada Rain. Sementara Robert yang tak jauh dari sana mendengar pertengkaran mereka. Dia mengepalkan tangannya dan mengumpat Airin.


“Apa yang daddy pikirkan, aku juga sangat membencinya dad. Gara-gara dia, kak Lion sama sekali tak perduli dengan kita.” Kata Selia mengagetkan Robert dari belakang.


Robert menoleh ke arah Selia dsn menatap Selia yang entah dari mana. Semenjak dia sakit seperti ini Selia semakin jauh darinya. “Dari mana saja kau Selia, kau jarang pulang akhir akhir ini.” Robert justru bertanya pada Selia.


“Mencari kesenangan ku sendiri dad.” Sahut Selia berjalan menuju kamarnya. mengacuhkan Robert yang berdiri menatap ke arahnya.


Sementara Robert yang melihat Selia pergi meninggalkannya mendesah kasar.  Robert menoleh kembali pintu yang tertutup dan pergi dari depan kamar Airin. Apa yang dia inginkan dari Airin ternyata hanya sia sia dan sangat mustahil. Terlebih putranya juga menginginkan Airin.


“Wanita sialan, aku sangat membenci mu Airin.” Gumam Robert mengepalkan tangannya emosi. Mengingat bagaimana Airin yang sakit dulu hingga satu tahun lamanya dan dialah yang memberinya perawatan, tapi setelah dia sembuh, lagi lagi Airin menginginkan Elard lagi.


Dia pikir, Airin akan membalas dendam pada Elard dengan membunuh gadis itu. Tapi ternyata, Airin ingin membunuh gadis itu untuk memiliki Elard kembali dan dia sangat membencinya.


Berhenti menyalahkan ku Airin, aku bisa melakukannya nanti.” Desis Rain menatap Airin yang tak jauh darinya.


Airin tertawa terbahak mendengar seruan Rain di telinganya. “Pergi dari kamar ku Rain. Jangan pernah datang lagi padaku, dan aku sama sekali tak butuh bantuan mu lagi.” Desis Airin menunjuk pintu kamarnya.


Rain tersenyum miring, dia berjalan menghampiri Airin dan mencengkram erat dagu Airin. Airin yang tak tau Rain akan mencengkram dagunya meringis dan memukul tangan Rain.


“Jangan meremehkan ku Airin. Aku juga bisa melakukan apapun yang ku inginkan. Jadi jangan macam macam padaku, karna aku juga bisa membunuhmu.” Desis Rain lalu melepaskan tangannya dari Airin kasar dan membuka pintu meninggalkan Airin.


Sementara Airin dia mengepalkan tangannya, melihat pintu kamarnya yang tertutup kembali. “Kau dan ayahmu sama, kalian berdua hanya memanfaatkan ku. Awas saja aku akan membalas kalian berdua.” Airin bersecih dan mengeratkan giginya emosi. Nafasnya memburu, mengingat semua ini gara gara gadis sialan itu.

__ADS_1


“Kita lihat saja, aku pasti bisa menyingkirkan mu dari Elard.”


*


Arabelle sama sekali tak tau jika sudah berulang kali Elard menelponnya. Setelah mendapatkan telepon dari salah satu sahabatnya, Ara datang ke agency untuk melakukan pemotretan. Ara sendiri mulai nyaman dengan profesi barunya menjadi model.


Berawal karna ingin mencari tau siapa yang sudah mengusik dsn ingin membunuhnya. Dia harus menggeluti dunia yang sebelumnya tak pernah dia impikan selama ini.


“Nona Queen, anda baik baik saja.”


Hah..


Ara kaget mendengarnya, dia salah tingkah mendengar pertanyaan untuk nya. Dia mengedarkan pandangannya dan tersenyum kaku pada semua orang.


Ara menggelengkan kepalanya keras, dalam hati bukan terjatuh tapi karna area sensitif nya yang tak nyaman dan masih terasa sakit dan perih.


“Maaf aku baik baik saja,” sahut Ara mendesah kasar. Dan mereka menganggukan kepalanya mendengar penuturan Ara. Ara melanjutkan lagi dengan berpose seperti yang kru arahkan. Meski dia ingin sekali pergi dan meninggalkan semua ini karna tak nyaman, tapi apa boleh buat, dia harus profesional, terlebih untuk menghancurkan Airin.


Sudah berulang kali Airin mengusiknya dan ingin membunuhnya, dan dia tak akan membiarkan nya kali ini.


*


Sementara Elard melangkah lebar masuk ke dalam sebuah gedung apartemen mewah. Dimana Ara tinggal saat ini, Elard bahkan tak perduli dengan penampilannya. Dia tau semua karyawan dan orang yang berjalan menoleh ke arahnya melihat penampilannya. Dan Elard sama sekali tak perduli, dia hanya ingin menemui Ara.


Sampai di depan apartemen Ara Elard mengerutkan keningnya saat melihat apartemen Ara kosong. Elard juga bisa melihat beberapa barang yang tinggal sedikit.

__ADS_1


Seketika wajah Elard semakin pucat pasi. Tak mungkin Ara pergi lagi dirinya. Tidak, Ara tak boleh meninggalkan nya lagi.


“Ara tak mungkin meninggalkan ku lagi.” Gumamnya merogoh ponsel miliknya dengan tangan yang gemetar ketakutan. “Cari dimana Ara sekarang.” Teriak Elard, jantungnya berdetak lebih kencang, takut jika Ara meninggalkan nya lagi seperti tiga tahun silam.


Elard berbalik dan melangkah kembali  tapi dia menghentikan langkah nya saat pandangan bya melihat sesuatu yang tergeletak di bawah meja. Elard berjongkok mengambilnya, dan tak lama rahangnya mengeras dan gigi nya gemerutuk.


“Airin.” Desis Elard berdiri dari jongkok nya dan melangkah lebar keluar dari apartemen Ara. Elard berulang kali mengutuk kebodohannya sendiri, kenapa dia tak tau apa yang terjadi dengan Ara belakangan ini. Mereka menginginkan Ara dan ingin membunuh Ara. Airin bahkan tau dimana apartemen Ara. Dan dia sama sekali tak tau apapun itu. Apa karna ini Ara tak ada di apartemen saat ini.


“Apa aku salah memiliki belas kasih pada putra mu. Kau yang menginginkan aku melakukan ini Airin.” Desis Elard mengeraskan rahangnya. “Jangan menyalahkan ku Airin.” Lanjut Elard berdiri dan melangkah keluar dengan langkah lebarnya.


“Dimana,” tanya Elard tak sabar, da sungguh tak bisa kehilangan Ara. Terlebih tubuh mereka baru saja menyatu, dan kali ini Elard tak akan membiarkan Ara pergi dirinya lagi.


“Nona sedang melakukan pemotretan di salah satu agency.”  Elard menghentikan tangannya mendengar penuturan Jefri di telinganya. Apa yang Ara lakukan hari ini, dia pergi meninggalkan nya untuk melakukan pemotretan.


Tak lama Elard mematikan sambungan telponnya dan menginjak pedal gas mobil nya pergi menuju dimana gedung agency yang Jefri sebutkan tadi. Apa yang Ara pikirkan saat ini, kenapa dia meninggalkan nya sendiri, kenapa dia pergi tak pamit padanya terlebih dahulu.


“Apa Ara marah padaku dan membenci ku.” Gumamnya menggelengkan kepalanya. Ada rasa sesal karna berbuat ceroboh dan bodoh. Tapi dia melakukannya karna cinta dan tak ingin kehilangannya.


Tak sampai setengah jam Elard memarkirkan mobilnya di depan gedung agency. Dia turun dari mobil dan melangkah lebar masuk ke dalam dan mencari keberadaan Ara. Elard tau dimana tempat mereka melakukan pemotretan.


Sampai di dalam Elard bisa melihat Ara yang baru turun dari atas panggung. Dia berjalan semakin lebar mendekati Ara. Tapi tak lama, Elard menghentikan langkahnya saat mendengar sapaan Ara padanya.


“Selamat pagi menjelang siang tuan Lion.”


 

__ADS_1


__ADS_2