Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.19# Emosi


__ADS_3

Brakk.


Pyarr..


Sampai di ruang CEO miliknya, Elard mengamuk dan menendang meja kaca di ruangan nyanya hingga hancur berkeping-keping. Tak hanya meja yang menjadi sasaran Elard kak ini. Seluruh isi ruang  CEO miliknya hancur berantakan. Baik meja dan laptop miliknya tak luput dari sapuan tangan besar Elard.


Jefri yang berdiri tak jauh dari pintu hanya menundukkan kepalanya binggung. Dia tak tau jika tuannya akan semarah ini dan menghancurkan ruangan miliknya. Sebelumnya tuannya sama sekali tak pernah menghancurkan ruangan miliknya.


“ Siapa gadis itu, sebenarnya.” Gumam Jefri menundukkan kepalanya. Dia pasrah jika sesuatu akan menghantam tubuhnya sekalipun.


“Luis brengsek.” Seru Elard mengusap wajahnya kasar. Dia duduk di kursi kebesarannya dan memijit kepalanya yang pusing.


Nafasnya masih memburu dan emosi masih menguasainya. Ini pertama kalinya dia menyakiti Ara. Melihat mata cantik Ara yang berkaca kaca dan ingin menangis sungguh membuat jantung Elard berdetak lebih kencang. Dia sendiri tak percaya akan menyakiti gadis kecilnya.


Pantas saja semenjak bertemu dengannya, jantungnya berdetak lebih kencang dan wajah itu tak bisa dia lupakan. Dan ternyata dia adalah Arabelle Queensa. Entah sejak kapan nama itu berganti, setahu Elard nama panjang Ara bukan lah itu.


“Apa ini juga rencanamu Luis.” Ucapnya mengeratkan giginya emosi dengan tangan yang terkepal erat. Tentu saja Elard menyangka semua ini adalah rencana Luis. Bukankah seharusnya Ara masih sekolah menengah keatas belum berkuliah saat ini.


Ya Elard tetap menyangka jika semua ini adalah rencana Luis. Dia ingin menjebaknya lagi dengan putrinya agar dia memaafkannya. Ya pasti itu maksud Luis saat ini.


Saat membayangkan Ara bersama dengan pria lain. Elard sungguh tak terima dan hatinya terbakar cemburu. Tapi saat mengingat jika dia putri Luis lagi lagi Elard emosi bukan main dan menyangka jika semua itu pasti rencana Luis.


Luis pasti sengaja mengirim Ara kemari, untuk mendekatinya. Elard yakin itu.


Cih..


“Caramu sangat murahan Luis.”


*

__ADS_1


Sementara Ara yang hampir menangis, pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan Dary. Dary yang memaksa Ara untuk membelinya. Sebelumnya Ara menolak, dia masih ingat jika Dary kekasih Mishel. Tapi Dary terus mengatakan dan meyakinkan dirinya. Akhirnya Ara mengajak Emma bersamanya. Dia tak ingin mereka semua menyangka jika dia menggoda Dary. Padahal Dary lah yang sudah memaksanya.


Sementara Dary, dia berjalan terlebih dahulu perlahan. Dia tau mungkin saja kaki Queensa masih sakit. Itu sebabnya dia berjalan perlahan dia tak mau kaki Queensa semakin sakit. Sebelumnya Dary tak pernah melakukan ini. Tapi entah kenapa melihat mata Queensa, hatinya sakit dan tak tega.


Lagi pula, bukankah ini adalah kesempatan untuk merebut hati Queensa untuknya. Ya entah kenapa dia ingin menjadikan Queensa kekasihnya, bukan sebagai wanita yang selama ini dia kencani lalu dia tiduri kemudian dia campakkan begitu saja.


“Queen, aku lapar.” Kata Emma di samping Ara. Ya dari kampus Ara dan Emma memang belum makan sedikitpun. Hingga waktu menjalang sore mereka berdua belum mengisi perutnya sedikitpun.


Ara melirik ke arah Emma, dia menggerutu melihat Emma yang justru mengatakan hal itu. Sungguh Ara ingin sekali kembali pulang. Tapi Dary terus mengajaknya mengelilingi pusat perbelanjaan.


“Queen kita makan terlebih dahulu.” Ucap Dary membelokkan mobilnya di sebuah restauran mewah di pusat kota.


Emma tersenyum lebar saat menyadari Dary menghentikan mobilnya di depan restauran. Tapi tidak dengan Ara, dia ingin kembali pulang ke apartemen mewahnya dan tidur. Ara masih sedih dan marah saat manekin miliknya hancur di tendang oleh pria dewasa itu. Ara tak tau kenapa dia menghancurkannya. Hanya karna dia memiliki luka di lututnya, dia tak boleh datang ke kampus.


“Aku sudah kenyang kak, terima kasih kakak sudah menemani ku. Aku akan kembali ke kampus dan mengambil mobilku.” Sahut Ara panjang lebar turun dari mobil Dary.


“Queen aku pulang terlebih dahulu. Ayah menelpon ku.” Tiba-tiba saja Emma berseru saat mereka berdiri di depan pintu restauran.


 Ara menoleh dan kaget melihat Emma berbalik begitu saja.


“Emma..” teriak Ara melihat Emma berlari ke arah jalan.


“Maaf Queen.” balas Emma tak kalah berteriak.


Ara menatap Emma tak percaya yang pergi meninggalkan dirinya sendiri bersama Dary. Sungguh dia tak pernah berdua dengan seorang pria. Apalagi dengan Dary.


“Queen ayo.” Ajak Dary menggandeng tangan Ara masuk ke dalam. Dan Ara hanya pasrah mengikuti Dary, dia tak bisa menolaknya begitu saja. Apalagi mereka berdua sudah berada di depan pintu restauran.


“Apa kau tak suka pergi berdua dengan ku Queen. Apa lutut mu masih sakit.” Tanya Dary pada Queensa yang duduk di depannya.

__ADS_1


Ara menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Dary. Kakinya memang tak sesakit pagi tadi. Meski Mishel pagi tadi menendangnya, tapi Dary sudah mengobati kakinya. Ya Dary lah yang sudah mengobati kakinya yang bengkak. Sebelum kejadian dimana Elard menghancurkan patung manekin miliknya di dalam ruang seni yang akan di pakainya beberapa hari lagi.


*


Hari berlalu begitu saja, hubungan Ara dan Dary tak terasa semakin dekat. Ara sudah tak canggung lagi pada Dary seperti yang terjadi sebelumnya.


Sementara Mishel tentu saja sangat membenci kedekatan mereka berdua. Sebelumnya Ara tetap menjaga jarak bersama Dary. Tapi setelah Dary mengatakan ingin berteman dengannya, tentu saja Ara sangat senang mendengarnya.


Ya Ara tentu ingin berteman dengan siapapun. Dari dulu Ara tak pernah membedakan pria dan wanita untuk berteman. Lagi pula menurut Ara, banyak teman itu lebih baik dari pada sendiri.


Berbeda dengan Elard yang terus marah di perusahaan miliknya. Jika beberapa hari yang lalu ruang CEO miliknya yang hancur berantakan.


Kali ini ruangan meeting hancur berkeping-keping karna Elard yang sudah menghancurkannya. Dia emosi saat salah satu dari karyawan nya ceroboh. Padahal dia hanya melakukan kesalahan kecil dan bisa di perbaiki. Tapi Elard lebih dulu menghancurkan ruangan meeting.


“Tuan saya tak sengaja melakukannya, tolong maafkan saya.”


Elard mengepalkan tangannya mendengar permintaan maafnya. Dadanya bergemuruh hebat, emosi masih terus menguasainya. Bukan karna kesalahan wanita di depan nya, tapi karna hati dan dendamnya.


Jefri lagi lagi menundukkan kepalanya. Bukan hanya di perusahaan, tuannya terus mengamuk. Di apartemen tuannya juga sama mengamuk dan menghancurkan seluruh isi apartemen mewahnya. Entah apa yang terjadi, semenjak bertemu dengan gadis itu tuannya sering kali mengamuk tanpa sebab.


“Pergi dari sini dan jangan lagi tunjukan wajahmu padaku.” desis nya menatap tajam wanita yang berdiri tak jauh dari nya.


Bukan hanya wanita yang berdiri di depan yang shock, semua yang berada diruangan meeting juga kaget dan tak percaya mendengar penuturan Lion.


"Tuan.."


Brakk.


 *

__ADS_1


__ADS_2