Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 48# Ketahuan


__ADS_3

Airin tersenyum lebar keluar dari dalam sebuah ruangan. Lima belas menit yang lalu dia baru mengadakan konferensi pers. Airin memang sengaja mengatakan pada publik jika dirinya ingin program hamil.


Ya apa lagi selain ingin mengatakan pada Dunia jika Elard adalah suaminya dan pernikahannya dan Elard baik baik saja. Mendengar berita yang belakangan ini tersebar berita miring yang mengabarkan Lion memiliki sugar baby.  Siapa lagi jika bukan Arabelle lah gadis yang di maksud mereka.


Tentu saja Airin tak terima dan emosi bukan main. Meski kabar itu benar adanya, tapi dia tak ingin isu yang beredar itu semakin memperkeruh hubungannya dengan Lion. Ya karna gadis belia itu, Elard bahkan mengancamnya dan menyakitinya. Terlebih lagi Elard semakin jarang kembali ke mension mewahnya.


Airin tau jika Elard bersama gadis belia itu. Tapi dia tak akan kalah dengan gadis yang masih belia. Dia akan menyingkirkan gadis itu dari Elard. Tapi pagi tadi, dia di buat terkejut saat orang suruhannya mengatakan gadis itu sudah tak ada di kampus milik suaminya.


Ya tak mungkin kan Elard akan menyembunyikannya lagi di dalam apartemen miliknya. Gadis itu pasti memilih bersekolah dari pada harus bersembunyi di dalam apartemen Elard terus.


Airin akan mempertahankan Elard di sampingnya sampai kapanpun. Ya, tak ada yang dia inginkan selain Elard di sisinya. Dan dia yakin, dengan adanya berita ini Elard tak akan berani macam macam dengannya. Apalagi menendangnya dan menceriakannya.


“Mau tidak mau kau pasti akan memberikan apa yang aku inginkan Lion.” Senyum Airin terlihat sangat lebar.


Tak jauh dari sana Jastin melihat Airin yang tersenyum sendiri. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya pada wanita yang diam diam dia sukai. Airin baru mengadakan konferensi pers, apa dia lupa kemarin dia bahkan baru saja bercinta dengan pemilik agency ini.


*


“Brengsek.. “ umpat Robert merasakan tubuhnya yang masih sakit. Tentu saja tulang rusuk nya retak akibat Elard yang menendangnya dan meninju nya. Beruntungnya, itu tak terlalu besar, hanya retak kecil.  


Robert tak tau di mana kedua anaknya saat ini. Mereka benar-benar mengabaikan nya dan tak pernah menjenguknya. Hanya Selia yang menjenguknya, itupun waktu pertama kalinya masuk rumah sakit. Sampai sekarang putrinya tak lagi menjenguknya, padahal dia sudah seminggu berada di dalam rumah sakit.


Robert tak tau jika kedua anaknya sedang bersenang-senang sendiri. Rain yang mabuk masukan dan bermain wanita. Selia juga sama, dia datang ke club malam dan mencari pria hidung belang untuk menjadi teman malamnya.


Apalagi Robert tak memberikan nya uang saat dia datang ke rumah sakit. Hingga akhirnya dia datang ke sebuah club dan mencari kesenangannya sendiri.

__ADS_1


Dan pagi ini Robert sedikit emosi pada Airin. Apalagi jika bukan tentang konferensi pers Airin. Ada rasa cemburu di hati Robert saat mendengar semua penuturan Airin di telinganya.


“Ya terserah kau saja Airin, tapi akulah yang akan memuaskan mu.”


*


Clek..


Airin yang sedikit pusing dan mencoba membaringkan tubuhnya menoleh ke arah pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. Setelah konferensi pers nya pagi tadi, dia merasa sedikit pusing dan mual. Entah apa yang terjadi padanya hari ini, tubuhnya seperti lemas bukan main. Padahal dia hanya pemotretan hanya sekali saja tadi.


Airin tersenyum dia bangkit dari ranjang saat pria itu mendekati nya. Tentu saja Airin tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuknya.


“Sayang, kau sudah pulang.” Bisik Airin di telinga seorang pria yang masuk ke dalam kamarnya. Airin bisa mencium aroma menyengat alkohol di bibirnya. Lampu yang gelap dan kepalanya yang sedikit pusing membuat Airin tak terlalu fokus menatap pria yang berdiri di depannya.


Apalagi belakangan ini Airin sangat haus oleh cinta dan sentuhan di tubuhnya. Saat mencium aroma alkohol, tubuh Airin seketika menegang. Jelas saja semua itu membangkitkan hasrat Airin malam hari ini.


Pagi hari nya Airin tersenyum melihat tubuh polos di sampingnya. Bibirnya tersenyum lebar mengingat percintaan panasnya semalam. Tapi tak lama Airin kaget saat melihat dada polos di depannya. Elard memiliki tato di dada sampai lengan kirinya, sementara dia dadanya polos tak ada tato di datanya.


Airin mendongak dan matanya melebar sempurna melihat wajah pria yang memeluknya.


“Rain.” Airin mengeratkan giginya emosi melihat Rain yang memeluknya. Tak lama wajah Airin pucat pasi mengingat jika Rain adalah putra Robert. Pria tua yang sudah dua kali bercinta dengannya, dan sekarang dia bercinta dengan putranya.


“Kau sudah bangun sayang.”


*

__ADS_1


Elard yang baru sampai di mension mewahnya berdecih melihat layar ponsel miliknya. Dia tak percaya jika wanita itu akan berbuat gila di mension mewahnya lagi.


“Airin kau sangat menjijikkan.” Umpat nya berjalan menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang lelah.


Pikirannya terus melayang memikirkan gadis kecilnya yang pergi jauh darinya. Dia sangat menyesal, telah mengabaikan Ara hingga dia pergi meninggalkannya sekarang. Andai waktu bisa di ulang oleh Elard tentu akan memberikan pengawal pribadi untuk Ara.


 Meskipun Ara menolaknya sekalipun. Ya Ara jelas menolak bodyguard dari Elard. Dia datang kemari karna ingin bebas dari bodyguard ayahnya dan ingin mandiri. Tentu saja Ara menolak mentah mentah bodyguard yang di perintahkan Elard untuk menjaganya. Andai Elard tetap memaksa, mungkin saat ini Ara masih ada di sampingnya.


Elard melangkah lebar keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Dia ruang tengah Jefri sudah berdiri menunggunya. Bibir Elard tertarik ke atas, dia mendudukkan bokongnya di sofa empuk tak jauh darinya.


“Kau sudah menyiapkan konferensi pers nya.”


“Ya tuan.” Sahut Jefri menundukkan kepalanya.


Elard hanya menganggukan kepalanya, dia melihat jarum jam yang melingkar di lengan kirinya. Tak lama kemudian Elard tersenyum mendengar pintu yang terbuka.


“Apa semalam kau terlalu nyenyak tidur Airin. Sudah jam delapan lagii kau baru keluar dari kamar mu.”


Tubuh Airin mematung mendengar suara bas milik Elard di telinganya. Wajahnya pucat pasi saat matanya melihat suaminya duduk tumpang tindih di atas sofa.


“Sayang..” seru Airin tergagap, jangan sampai Rain keluar juga dari kamar miliknya.


Rain yang melihat Airin berdiri di depan pintu belum menyadari jika Elard duduk di sofa tak jauh darinya. Tapi Elard bisa melihat dengan jelas Rain yang berdiri di belakang Airin.


“Ada apa.?” Tanya Rain bingung dan Airin wajahnya semakin pucat pasi mendengar suara Rain dari belakangnya. Tubuhnya semakin menegang dan nafasnya tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


“Bagaimana dengan malam kalian.”


 


__ADS_2