Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 73# Terbongkar


__ADS_3

Dor...


Ara melepaskan satu peluru panasnya pada seseorang yang mengintainya.


Tak lama kemudian suara orang berteriak histeris dan saling berhamburan menyadarkan Elard dari shock dan bodohnya.


Dor.. Dor..


Elard menggulingkan tubuh nya dan bersembunyi mendengar suara tembakan beruntun mengarah padanya.


“Ara,” gumam Elard, jelas dia tau bagaimana Ara yang berbalik ke arah nya dan melepaskan peluru panasnya. Bahkan peluru itu melesat di sampingnya, jika dia bergerak sedikit saja dia yakin peluru itu akan mengenai dadanya. Tapi bukan dirinya yang Ara incar melainkan seseorang yang bersembunyi jauh di belakangnya.


Bug...


Brakk..


Elard menendang salah satu pria yang bersembunyi tak jauh darinya. Tatapan tajamnya mencari keberadaan Ara, dia menerobos keturunan orang yang berteriak histeris.


Pikiran nya hanya tertuju pada Ara yang tak ada di tempatnya. Kemana Ara menghilang saat ini.


Tak lama Elard menggulingkan tubuhnya lagi saat sebuah peluru kembali mengarah padanya. Elard mengeratkan giginya emosi saat menyadari jika ternyata semua ini sudah di rencanakan.


“Beraninya,”


Dor.. Dor..


Elard melepaskan peluru pada beberapa pria yang mengincarnya. Dia terus berjalan mencari keberadaan Ara yang menghilang. Pesta perusahaan seketika menjadi pertumpahan darah. Beberapa orang juga terkena peluru mereka yang ingin membunuh Elard.


Brak..


Elard menendang salah satu meja hingga terbalik dan menghantam salah satu pria yang ingin membunuh nya. Elard mengayunkan kakinya pada beberapa pria, sementara tangannya melepaskan pelurunya beruntun pada mereka.

__ADS_1


Elard membabi buta, melepaskan timah panasnya malam ini. Tak hanya melepaskan timah panasnya dia juga mengakhiri sadis mereka satu persatu. Elard geram dengan mereka yang terang terangan mengusiknya.


“kali ini aku tak akan melepaskan kalian.” Geram Elard, dia bahkan tak perduli dimana saat ini. Dia juga tak perduli dengan pesta orang lain yang berubah menjadi suara teriakan dan tembakan. Terlebih saat ini Ara juga dalam bahaya. Selain ingin membunuhnya, mereka juga menginginkan Ara. Tak hanya itu satu kelompok lain juga menginginkan Ara. Elard belum tau pasti suruhan siapa mereka. Bisa saja dari Airin atau juga dari orang lain, Elard tak tau.


Begitu juga dengan Jefri yang tak jauh dari Elard. Dia melepaskan timah panasnya pada mereka yang mencoba mengincar tuannya.


Dor..


Elard menggulingkan tubuhnya ke lantai mengambil sesuatu yang hampir saja terinjak oleh seseorang. Bibirnya tersenyum miring, dia bangkit dan melepaskan peluru panasnya lagi dan berjalan ke arah basmen dengan tangan nya yang terus melepaskan peluru panasnya.


Bruk..


“Menginginkan ku,” Ucap Ara tersenyum miring melihat beberapa pria mengelilinginya. “Apa wanita tua itu yang menyuruh kalian.” Kekeh Ara, dia tau jika mereka adalah orang suruhan Airin, untuk membunuhnya. Sementara beberapa orang lagi adalah musuh Elard sendiri yang ingin membunuh Elard.


Entah kebetulan atau kesialan nya, mereka harus menyerangnya secara bersamaan seperti ini. Dan dia yakin Elard tau siapa dirinya kali ini. Ara benar-benar mengumpat Airin kali ini.


“Bukan urusanmu nona.”


Bug.. Bug..


Ara mengayunkan kakinya pada mereka secepat kilat menendang mereka satu persatu. Dia juga merebut salah satu senjata tajam dari mereka dan menodongkan pada pria yang di yakini ketua kelompoknya.


“Siapa kau sebenarnya nona,”


“Siapa pun aku, aku akan menghabisi kalian semuanya.”


Ara benar benar menunjukkan kekesalannya pada mereka. Tak ada ampun, dia mengayunkan benda di tangannya tanpa menoleh sedikitpun jika seseorang yang berdiri tak jauh darinya sedang menatap kearahnya tak percaya.


Elard yang baru saja membunuh antek antek Liam dan dua mantan rekan bisnis nya mematung melihat kelincahan Ara dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Dia sungguh tak percaya jika wanita yang sedang mengayunkan senjata tajam di tangannya adalah Ara. Mereka semua terkapar di lantai. Elard sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Ara. Tubuhnya yang ramping dan kelincahan nya semakin membuat Ara semakin cantik seperti bidadari di matanya.

__ADS_1


Elard terkesiap saat seseorang mengarahkan ujung senjata nya pada Ara.


Dor..


Srett..


Brukk..


Ara mematung di tempatnya berdiri, saat benda di tangannya mengayun pada pria di depannya, bersama dengan bunyi tembakan di telingnya. Ara menghala nafasnya panjang, dia yakin Elard ada di belakangnya saat ini.


Sementara Elard berjalan mendekati Ara, dia melepaskan jas miliknya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara.


Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Ara berjalan cepat meninggalkan Elard. Dia tak ingin melihat Elard kali ini dan dia belum siap melihat tatapan Elard padanya yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Jangan sampai Elard mengetahuinya dan menyadari nya, jangan sampai juga dia bertindak bodoh di depan Elard.


“Selangkah lagi kau pergi, aku benar-benar akan mengikat mu di ranjang ku nona.” Seru Elard melihat kaki Ara yang tak memakai alas kakinya. Entah kemana Ara membuangnya, yang jelas Ara memakai hels berwarna merah di kakinya.


Jelas saja Elard tau, dari ujung kaki dan ujung rambut Elard tau semuanya, dia juga tau benda kecil di tangannya adalah milik Ara.


Ara menghentikan langkahnya, mendengar seruan Elard di telinganya. Jantungnya semakin berdebar tak karuan saat Elard semakin dekat dengannya.


Ara berjengit kaget saat Elard memakaikan jas miliknya di tubuhnya. Dia menoleh ke samping dan saat itu juga pandangan mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain.


Ara memutuskan pandangannya terlebih dahulu saat jantungnya semakin berdetak tak terkendali.


“Jangan melepasnya,” bisik Elard melihat Ara hendak menyingkirkan jas di bahunya. Tangannya kembali memasangkan jepit rambut di tangannya pada rambut Ara.


“Aku menemukannya tadi.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2