
Pagi harinya..
Ara mengerjapkan matanya, dia mengedarkan pandangannya saat hidungnya mencium bau sesuatu yang aneh. Ara menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya saat melihat sprei di sampingnya yang terlihat kusut.
Ara menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya sendiri. Tak lama dia bangun dari ranjang dan melangkah ke dalam kamar mandi.
Di luar Kikan yang berusia senja baru saja menutup sambungan ponselnya dari Freya. Tinggal beberapa bulan lagi Ara akan wisuda dan kembali ke Amerika. Kikan sebenarnya betah tinggal di sini, tapi dia juga merindukan kedua cucunya yang sama sekali tak pernah datang kemari.
“Pagi oma.” Sapa Ara mencium pipi tua Kikan. “Ara mau berangkat oma.”
“Hati hati sayang.” Ara menganggukan kepalanya dan keluar dari rumah menuju tempatnya bekerja. Ya bekerja, Ara lebih cepat menyelesaikan kuliahnya di bandingkan dengan teman temannya. Itu sebabnya dia memutuskan untuk bekerja sambil menunggu saat wisuda dirinya yang kemungkinan besar dua bulan lagi.
Sebenarnya Sky sudah memintanya kembali pulang ke Amerika. Tapi Ara bilang tunggu sekalian dia wisuda baru dia akan pulang. Lagi pula dia ingin mencari pengalaman bekerja di kota ini sebelum dia kembali pulang. Ara tak mengatakan pada Sky jika dia bekerja menjadi salah satu karyawan di hotel berbintang.
Job desk Staff di bagian Concierge dimana dirinya di tugaskan melayani tamu. Dan Ara sangat senang bukan main. Selain dia bisa berinteraksi dengan para pengunjung hotel ini juga pengalaman luar biasa untuknya.
Jelas saja Ara tak berani mengatakan nya pada Sky. Selain ayahnya pasti yang akan marah, pasti Freya yang akan berceramah setiap hari padanya. Dan beruntungnya neneknya mau di ajak kompromi dengannya.
Satu jam setengah berkendara, Ara memarkirkan mobilnya di halaman parkir sebuah hotel berbintang di pusat kota. Ara turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam gedung.
Ara menoleh ke samping dan berlari saat menyadari dirinya terlambat beberapa menit. Ara berpikir pasti ada pengumuman penting mereka berkumpul di lobby perusahaan. Dan benar saja manager hotel sedang mengintruksi jika ada seorang tamu spesial yang datang sejak kemarin. Dan mereka harus melayani nya dengan baik. Tak boleh sembarangan orang yang, dia harus yang berpengalaman agar sang tamu bisa merekomendasikan hotel miliknya. Terlebih dia adalah pebisnis besar di kota Amerika lebih tepatnya lagi, Las Vegas.
__ADS_1
“Queensa.” teriak sang manager saat melihat Ara yang haru saja datang.
Hah..
Ara kaget bukan main mendengar suara keras memanggilnya. Kakinya seketika lemas bukan main, membayangkan dia pasti akan di pecat hari ini. Padahal hanya terlambat beberapa menit tapi sepertinya dia akan di pecat pagi ini karna sudah terlambat.
“Iya tuan.” Sahut Ara menundukkan kepalanya dan berjalan perlahan mendekati sang manager.
“Kau yang akan melayani tuan Lion.” Kata manager pada Ara dan wanita yang berdiri di samping Ara.
Ara sendiri yang mendengar nama yang tak asing di telinganya hanya mengerutkan keningnya. Ya tadi managernya mengatakan tuan Lion. Nama yang tak asing di telinganya dan dia seperti sering mendengar nya, tapi di mana.
Tak lama Ara berjengit kaget saat Vani menyenggol nya. Ara lalu masuk ke dalam riang ganti bersama Vani yang lebih dulu masuk ke dalam. Ara mengedarkan pandangan mencari keberadaan teman pasangannya. Tapi Ara tak menemukan siapapun di dalam. Tapi tak lama Ara menyadari jika pasti temannya sudah mulai bekerja.
“Nurul.” Sahut Ara kembali menoleh ke arah pintu. “Untuk apa cari Nurul, beberapa hari ke depan hanya kau yang akan di tugaskan untuk melayani tamu di kamar 1231. Jadi cepatlah sebelum tuan Arjun memecat mu. ” Kata Vani pada Ara sedikit ketus.
Dia menatap Ara yang terlihat biasa saja dan tak senang, bibir Vani tertarik saat menyadari mungkin saja Ara adalah gadis yang tak mengenal siapa pebisnis nomor satu di kota Las Vegas. Tak lama dia pergi meninggalkan Ara dan mulai bekerja seperti biasanya. Sebenarnya Vani iri dengan Ara, Ara selalu mendapatkan kesempatan melayani tamu khusus. Apalagi untuk beberapa hari ke depan Ara akan melayani tamu spesial. Semoga saja Ara melakukan kesalahan dan pria itu tak menyukai Ara dan akhirnya dia yang akan menggantikan Ara nanti.
Ara berjalan menuju salah satu kamar 1231 di lantai paling atas. Dia memakai hels berwarna hitam dengan tinggi dua belas sentimeter. Rok berwarna hitam sepan dan kemeja berwarna putih pasukan body melekat di tubuh ramping nya.
Rambutnya di cepol rapi hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar hotel Elard mengumpat dan membanting telepon khusus yang terletak di atas meja kecil. Ya Elard emosi saat menelpon staff hotel belum juga datang ke dalam kamarnya. Padahal saat ini AC di kamar nya tak berfungsi dan mati. Dan Jefri baru saja pergi ke perusahaan tekstil.
“Brengsek..” umpat Elard melepaskan kemeja putih yang di pakainya lalu membuangnya asal. Dia berjalan mondar mandir lalu kemudian mendudukkan bokongnya di atas sofa. Tak lama Elard menoleh saat mendengar suara pintu yang di ketuk. Elard bangkit dari duduk nya dan melangkah lebar menghampiri pintu dengan wajah merah padamnya.
Clek..
“Apa kau tak melihat aku terpang_”
Deg...
Elard yang berteriak menutup bibirnya seketika saat melihat wanita yang berdiri di depannya. Jantungnya berdetak kencang melihat wanita cantik yang berdiri di depannya adalah gadis kecilnya. Ara gadis yang semalam tidur dengannya kini ada di depannya. Bagaimana Ara bisa tau dia ada di sini.
Elard mengangkat kakinya hendak menubruk Ara. Tapi Elard menggelengkan kepalanya dan mundur perlahan.
Sementara Ara dia semakin menundukkan kepalanya mendengar suara teriakan Elard di telinganya. Ara takut bukan main karna sudah membuat tamu hotel marah.
“Maafkan saya tuan.” sesal Ara menundukkan kepalanya.
Elard seketika mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Ara di telinganya. Nafas nya memburu emosi bukan main dan mengumpat Sky yang membiarkan Ara bekerja.
“AC di ruangan ku mati,” kata Elard dengan suara dinginnya. Ya dia tak percaya melihat Ara yang benar-benar menjadi staff hotel. Ara mendongak dan tersenyum rumah pada tamu yang akan beberapa hari dia layani. Tapy Elard berbalik membelakangi Ara saat melihat Ara yang mendongak.
__ADS_1
“Maaf tuan, jiku pelayanan kami sedikit terlambat. Kami bisa menjamin kedepannya kami lebih baik lagi.” Papar Ara melangkah masuk ke dalam. Dia melirik ke arah telpon yang teronggok di lantai dingin. Ara menghembuskan nafasnya perlahan. Bagaimana bisa dia menghubungi rekannya yang menangani ini
“Apa kau tak merindukan ku sayang.”