Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.59# Arabelle


__ADS_3

Cih..


“Kali ini aku tau kenapa kau pergi Lion.” Geram Airin mengepalkan tangannya emosi bukan main. Airin, tiga tahun dia mengawasi Elard dari jauh dan berharap dia akan kembali merayu Elard lagi setelah dia pulih dari sakitnya.


Setelah melahirkan Airin mengalami baby blus, yang membuat kondisi nya tak stabil. Belum sembuh baby blus tak lama dia terserang hipertensi yang membuat salah satu urat saraf nya mengembang hingga dia mengalami strok. Itu sebabnya setelah melahirkan Airin tak pernah pergi ke mana pun. Dia lama di rumah sakit, setelah pulang dari rumah sakit waktunya hanya di sibukan dengan pengobatannya dan balitanya.


Robert dia yang membuat Airin stress dan hipertensi. Pria tua yang semakin rapuh itu hanya bisa mengancamnya. Dan sialnya lagi bayi yang di lahirkan nya adalah anak Robert.


“Karna gadis itu kau menghancurkan ku Lion.” Isak Airin mengepalkan tangannya emosi. Ternyata benar gadis itu yang sudah membuat Elard berubah dan membuatnya jatuh seperti ini.


Elard benar benar melupakanya dan tak pernah menanyakan tentang dirinya. Bagaimana dengan kabarnya dan bagaimana dengan kabar bayinya. Padahal Airin sudah berulang kali mengatakan jika bayi dalam kandungannya adalah miliknya. Di tak perduli jika Robert akan marah dan tak terima. Apa pun akan dia lakukan untuk mendapatkan Elard lagi. Dia tak perduli dengan Robert yang akan mengancamnya lagi.


“Apa yang kau pikirkan Airin.” Seru Robert melihat Airin yang melamun. Dia kaget melihat ke arah balita yang berjalan kesana kemari dan menghamburkan berkas miliknya.


“Apa yang kau lakukan Airin.”


Huaa.. Huaa..


Airin kaget mendengar suara teriakan Robert di telinganya. Alhasil putranya juga kaget dan menangis kencang. Airin menoleh ke arah punggung Robert yang menutup pintu kamarnya kencang.


Brakk..


“ Robert brengsek.” Umpat Airin, dia menoleh ke arah balita yang menangis di pojok ruangan. Giginya gemerutuk menahan emosi, andai dia bisa memilih Airin tak ingin seperti ini. Dia ingin bebas dan tak terbebani dengan Robert maupun dengan anaknya.


Sayangnya semuanya benar benar membuatnya stres. Airin benar benar ingin menjadi seperti yang sebelumnya. Artis dan model, dia ingin menjadi seperti dulu, bebas pergi ke mana pun. Tidak seperti ini, terkurung dan hanya mengasuh anaknya. Terlebih lagi Rain yang kerap kali memanfaatkan nya. Airin benar-benar membencinya.


*


“Om..”


Elard menoleh ke arah ranjang dan tersenyum. Dia menghampiri Ara dan menundukkan wajahnya, tapi sayangnya Ara membuang wajahnya ke samping. Elard menipiskan bibirnya mendapatkan penolakan Ara.


“Kenapa om membawa Ara kemari.” Kata Ara memunggungi Elard dan beringsut turun dari ranjang Elard. Ara menghembuskan nafasnya perlahan. Dia menatap Elard yang berada si sebrang ranjang.


“Apa mereka akan membunuh Ara lagi.” Ucap Ara pada Elard, dia tak percaya. Baru dua hari yang lalu dia kembali lagi bertemu dengan Elard, seseorang kembali mengancamnya dan ingin membunuhnya. Ara yakin jika mereka ingin mencelakainya seperti yang dulu.

__ADS_1


Elard menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Ara. Ya dia sendiri masih mencari tau siapa mereka. Orang yang ingin mencelakai Ara, tapi Elard sendiri belum tau siapa mereka.


“Tidak sayang.” Sahut Elard mendekati Ara tapi sayangnya Ara menghindari nya dan berjalan menghampiri pintu.


“Sayang..”


“Ara ingin pulang. “ Elard menghembuskan nafasnya perlahan mendengar penuturan Ara. Dia melangkah mendekatinya dan memeluk Ara dari belakang. Mengencangkan pelukannya pada Ara mencium lehernya.


“Om mencintai mu Ara.” Bisiknya di telinga Ara. Ara menoleh mendengar penuturan Elard. Bukan yang pertama kalinya Elard mengatakan itu padanya. Dan entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang mendengar penuturan Elard. Seperti bunga yang mekar dan tumbuh di hatinya.


“Antar Ara pulang om.” Lirih Ara menundukkan kepalanya. Untuk saat ini dia ingin kembali pulang. Sudah berulang kali Elard mengatakan itu pada nya dan baru kalo ini jantungnya seperti ada yang salah. Apa dia juga mencintai Elard.


Cup.


*


Elard memijit kepala nya yang pusing. Dia baru saja mengantarkan Ara kembali pulang ke rumahnya. Tak lama pintu hotel terbuka dan menampilkan Jefri masuk ke dalam kamarnya.


Dan Jefri menunjukkan kepalanya melihat wajah Elard yang menatap ke arahnya. “Nona Airin tuan.” Ucap Jefri.


“Shit brengsek.” Umpat Elard menendang sofa. Tak lama kemudian Elard menyambar jas miliknya dan keluar dari kamar hotel nya. Jefri mengikuti langkah tuannya dari belakang. Dia yakin tuannya pasti akan kerumah nona Ara saat ini.


*


Brakk..


Ara berjengit kaget mendengar suara keras dari luar. Dia yang baru keluar dari kamar mandi perlahan berjalan mendekati pintu. Dia jam yang lalu, Elard baru saja mengantarkan nya kembali ke rumah.


“Apa mereka benar benar ingin membunuhku” gumamnya dengan Jantung yang berdetak lebih kencang saat filing nya mengatakan ada seorang penyusup masuk ke dalam rumahnya. Ya Ara yakin jika mereka sedang mengincarnya saat ini. Ara sedikit emosi mengingat semua yang pernah terjadi padanya. Mungkinkah wanita itu lagi, wanita yang ingin membunuhnya.


Ya Ara sedikit tau saat ini. Dia bahkan tau, apa motif mereka mengincarnya. Bisa saja kali ini mereka akan membunuhnya.


“Oma” gumamnya keluar perlahan mendekati pintu kamar Kikan saat menyadari jika nenek nya pasti sudah tertidur pulas.


“Say_”

__ADS_1


Ara membungkam bibir Kikan dengan tangannya dan menggelengkan kepalanya saat Kikan juga mendengar dan keluar dari kamarnya. Sementara Kikan menggelengkan kepalanya dan tubuh tuanya gemetar ketakutan dan berkeringat dingin.


“Oma bersembunyi.” Kikan menggelengkan kepalanya lagi. Dia menarik Ara masuk ke dalam kamar nya, tapi Ara menggelengkan kepalanya.


“Ara baik baik saja oma.”


Tring..


Ara dan Kikan kaget bukan main melihat sebuah pisau lipat melayang ke arah mereka berdua dan jatuh ke lantai. Secepat kilat Ara mendorong Kikan masuk ke dalam kamarnya dan menggulingkan tubuhnya mengambil pisau yang baru saja melesat ke arahnya lalu melemparkan nya pada pria bertopeng yang masuk ke dalam rumahnya.


Jlebb..  


Pria bertopeng yang baru saja masuk ke dalam berteriak keras saat pisau miliknya, justru kembali lagi padanya dan menancap di perutnya.


Brak..


Ara lagi lagi menendang kursi plastik hingga melayang mengenai pria lainnya lalu melemparkan sendok garpu di tangannya.


“Brengsek.l” Umpat nya meringis merasakan sakit saat sebuah garpu menancap di lengan nya. Ara tersenyum miring mendengar umpatan pria yang berdiri tak jauh darinya.


Cih.


“Aku tak menyangka kau ternyata wanita yang gesit nona.”


Ara tertawa renyah mendengar penuturan pria bertopeng yang berdiri tak jauh dari pintu. “Aku bukan gadis bodoh tuan.” Seru Ara tersenyum miring, hingga membuat pria yang berdiri di depan pintu murka.


Arabelle sebenarnya bukanlah gadis yang bodoh, dia bisa sedikit mengenali musuhnya. Sejak beberapa tahun yang lalu, dia tau tata cara menembak dan melemparkan sesuatu tepat sasaran. Terlebih semenjak kejadian tiga tahun lalu yang membuatnya shock bukan main.  Kali ini kembali lagi menguras emosinya. Jika dulu dia hanya diam saja dan ketakutan kali ini dia tak akan membiarkan siapa saja mengusiknya dan membuat wajahnya yang terluka lagi seperti sebelumnya.


“Aku putri Luis, tentu bisa melakukan apapun tanpa kau duga tuan.”


Brakkk


 *


maaf ya mak, sepuluh hari yang lalu memang otor sibuk. hehehe kalau berteman dengan otor pasti tau otor lagi antar manten dan baru saja ada pesta keluarga.. 😁

__ADS_1


__ADS_2