
Ara berpose di depan kamera dengan sangat anggun dan proposional. Memamerkan produk terbaru dari perusahaan Elard di depan kamera tanpa kesulitan dan kesalahan sedikitpun. Padahal baru pertama kalinya Ara menjadi model dari suatu produk, terlebih ini adalah perusahaan besar seperti perusahaan milik Elard.
Elard yang baru turun dari mobil miliknya, melangkah lebar masuk ke dalam perusahaannya. Sebenarnya dia ingin berdiam diri di apartemen, tapi satu jam yang lalu, sekertaris nya menelpon Jefri jika pemotretan nya baru saja di mulai. Elard benar benar benar lupa dengan hari ini. Tentu saja dia langsung pergi ke perusahaannya tanpa menghiraukan dirinya sendiri.
Elard tak pergi ke dalam ruangan CEO miliknya, tapi dia pergi keruangan khusus, dimana Ara saat ini sedang berpose di depan kamera.
Elard mematung melihat Ara berpose didepan kamera, dia benar-benar sangat cantik dan anggun. Elard melangkah perlahan tanpa berkedip melihat Ara yang berada d atas panggung. Hingga beberapa menit Elard masih betah berdiri mengamati Ara yang ada di atas panggung. Elard baru tersadar dari rasa kagumnya saat salah satu karyawannya menghampiri nya.
“Maaf tuan, jika anda tak suka, kami akan mengulangnya.”
Elard masih diam pandangan matanya sama sekali tak berkedip melihat Ara di atas panggung. Bibirnya tersenyum tipis, dia masih tak percaya jika di atas panggung itu adalah Ara.
Sementara Ara sendiri, jantungnya berdetak lebih kencang. Melihat tatapan Elard padanya sungguh membuat ny gugup bukan main. Dia pikir Elard tak akan datang, ternyata pria itu justru datang dan menyaksikannya langsung.
Setengah jam kemudian Ara turun dari atas panggung dan menghampiri salah satu wanita yang berdiri tak jauh dari nya.
“Penampilan anda sangat bagus nona,”
“Terima kasih.” Sahut Ara semakin gugup, saat melihat Elard berjalan menghampiri nya. Tuhan ada apa denganku..
“Apa sudah selesai, aku ada janji di luar.” Tanya Ara salah tingkah, ingin segera pergi dari sini, terlebih Elard yang terus menatap ke arahnya. Dan sialnya, itu membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan.
“Nona.”
__ADS_1
Ara yang melamun kaget mendengar namanya di panggil, dia terhuyung dan hampir saja terjatuh, beruntung nya seseorang menarik tangannya hingga Ara jatuh ke dalam pelukannya.
Shhtt..
Ara meringis saat merasakan kakinya yang berdenyut. Tak lama dia memekik kaget saat tubuhnya melayang di udara. Dan ternyata Elard yang menggendong nya. Pandangan matanya saling beradu, Elard menatap mata bening Ara tanpa berkedip. Wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta, kini sudah sangat berubah. Bagaimana dia tak tergila-gila dengan Ara, mata cantiknya yang pertama kali membuat dia terpesona.
Mata bulat dan sedikit lebar dengan bulu mata lentiknya. Mata inilah yang membuatnya jatuh cinta dan tak bisa menerima wanita lain di hatinya.
Ara memutuskan pandangannya terlebih dahulu, jantungnya semakin berdetak lebih kencang melihat tatapan Elard padanya. Dan Elard bisa merasakannya, bibirnya tersenyum tipis melihat Ara yang gugup di gendongannya.
“Turunkan aku.”
Elard tak mengguris Ara, dia melangkah mendekati sofa yang tak jauh dengannya dan menurunkan Ara di sana. Dan Ara, dia sangat malu saat menyadari beberapa karyawan Elard melihat ke arahnya.
“Aw sakit.”
Elard menghembuskan nafasnya perlahan. Dia berdiri dan memanggil Jefri. Dan Jefri yang mendengar namanya di panggil tuannya segera menghampirinya.
“Carikan salep,” Jefri menganggukan kepala nya, dan pergi dari hadapan tuannya.
Sementara Ara memalingkan wajahnya, dia mengutuk dirinya yang bodoh dan tak berhati-hati. Dan lagi, kenapa Elard harus melihat terus ke arahnya.
“Lain kali jangan ceroboh.” Kata Elard lirih, “Ya.” Sahut Ara masih memalingkan wajahnya dari Elard. Tak lama kemudian Jefri datang kembali membawa pesanan tuannya. Elard mengambilnya dan kembali berjongkok di depan Ara. Dia mengangkat kaki Ara di atas pahanya.
__ADS_1
Dan Ara yang melihat itu tak percaya, “Diamlah,“ seru Elard menahan kaki Ara saat sang empu menariknya. “Jangan seperti ini, ini_aw.” Ara tak melanjutkan ucapan nya dan memekik kaget saat Elard memijitnya keras.
“Maaf sayang,”
“Sakit.” Elard tersenyum mendengar rengekan Ara di telinga, inilah dia rindukan dari Ara, gadis kecilnya yang merengek padanya, dan itu terdengar sangat manis di telinga Elard.
“Om... “ Ara merengek kembali, air matanya meleleh begitu saja karna ini sangat sakit. Terlebih Elard masih memijitnya.
Sementara beberapa karyawannya yang menyaksikan semua itu bingung dan juga sedikit tak percaya. Mereka benar benar tak tau, apa hubungan CEO perusahaan tempatnya bekerja dengan wanita cantik itu. Tapi yang jelas mereka berpikir jika mungkin saja wanita itu adalah kekasih tuan Elard.
Mereka memang tak pernah melihat Ara. Jadi wajar jika mereka tak tau dan kaget melihat pemandangan seperti itu. Mereka melihat nya sangat romantis dan serasi. Selain tuan Elard sangat tampan, nona Queen juga sangat cantik.
Elard mengelus lembut kaki mungil Ara dengan tangan besarnya. Dia tak tega melihat tangis Ara di telinganya. Kakinya yang sangat kecil terlihat sangat merah. Elard mengutuk kebodohan nya sendiri. Dia yakin setelah ini akan membuang semua sepatu hels milik Ara yang membuat kaki Ara terluka.
“Om.. “ Ara merengek lagi pada Elard. Dan Elard mendongak, melihat hidung Ara yang terlihat memerah dan matanya yang sedikit bengkak. Dia yakin jika ini sangat sakit. Elard kembali lagi menggendong Ara ala bridal style.
Cup..
“Maaf sayang, kakimu terkilir, itu akan semakin jika di biarkan.” Ucap Elard membawa Ara masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Sementara karyawan yang lainnya semakin tak percaya melihat perlakuan Elard pada Queen. Jelas saja, mereka semakin kaget dan tak percaya. Saat bersama dengan Airin Elard tak pernah melakukan itu. Apalagi bersikap manis seperti yang terlihat oleh mereka sekarang.
Sampai di dalam ruangannya Jefri membuka kamar pribadi Elard untuk tuannya tak lama dia kembali lagi menutup nya kembali. Elard lalu kemudian membaringkan Ara di atas ranjang.
“Beristirahat lah sayang.”
__ADS_1