
Brakk..
Prank..
“Brengsek..”
Dor.
Ara melepaskan peluru panasnya pada mereka tepat sasaran. Tapi sayangnya jumlah mereka banyak, salah satu dari mereka memukulnya dari belakang hingga Ara terhuyung ke depan dan masuk ke dalam pelukan salah satu dari mereka.
“ Ternyata kau sangat cantik nona.” Seru pria yang memeluk Ara dan menyeringai bibirnya.
Cih...
Ara meludahi wajah pria yang ingin menciumnya. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak. Sementara pria yang memeluk Ara mengusap wajahnya yang merah padam.
“Beraninya menyentuh ku tuan.” Desis Ara mengayunkan kakinya pada pria yang memeluknya hingga dia melepaskan pelukannya.
Bug..
*
Jefri yang baru saja mendapatkan telepon dari kedua anak buahnya segera berlari keruangan Elard dan membuka pintu ruangannya begitu saja.
“Tuan nona.”
Elard mendongak dan langsung berdiri dari duduk dan melangkah lebar keluar dari ruangannya. Wajahnya pucat pasi mengingat Ara yang akan terluka. Dia pasti akan menangis dan ketakutan. Elard menekan tombol lift berkali-kali, segala umpatan keluar dari bibir Elard saat lift tak juga terbuka. Tak sabar dan tak ingin melihat Ara terluka, Elard berbalik dan berlari menuruni anak tangga padahal pintu lift sudah terbuka saat dia berbalik.
Pikiran nya hanya tertuju pada Ara. Preston, apa dia sudah tau Ara ada di sini. Jelas saja hanya Preston yang saat ini di curigai Elard.
Jefri mengejar tuannya yang menuruni anak tangga sambil berlari. Tuannya bahkan tak perduli jika dia akan terpeleset dan tergelincir ke bawah. Sampai di parkiran Jefri melihat tuannya masuk ke dalam mobil Limousine milik nya.
“Menyentuh sedikit saja, aku akan meratakan mu Preston.”
__ADS_1
Jelas saja Preston sangat membenci Elard. Tak hanya ingin menguasai Elard dan merebut perusahaan Elard. Dia juga sangat dendam pada Elard karna Dary putranya.
Jefri melihat mobil yang melesak pergi dengan kecepatan penuh. Dia yang baru saja sampai merogoh saku celananya dan menghubungi bawahannya.
“Jangan sampai nona terluka.”
Elard melihat titik di ponsel pintar miliknya. Tentu saja, itu adalah kode dari salah satu bawahannya yang mengikuti Ara. Kakinya terus menginjak pedal gas nya full.
*
Bug..
“Brengsek.” Umpat salah satu pria saat Ara menendang senjata nya. Dia meringis kesakitan dan terus mengumput
Ara menendang pria itu hingga terjengkang dan mulutnya mengeluarkan darah segar. Ara melirik pada dua pria yang yang membantunya. Dia tak tau siapa dia, kenapa dia tiba saja datang membantunya.
Dor..
Ara kaget melihat peluru melesat ke arahnya. Dia menoleh dan saat itu juga sebuah pisau tajam kembali mengincarnya.
Ara jatuh tersungkur dan tangannya secepat kilat mengambil pisau yang melesak kearahnya sebelumnya dan melemparkan nya. Bibirnya tersenyum miring melihat pria itu jatuh terkapar di atas aspal.
Tak jauh dari sana seseorang menarik sudut bibirnya ke atas. Dia tak percaya melihat gadis itu bisa melindungi dirinya. Preston, bersembunyi di dalam mobilnya dan mengawasi mereka. Dia sungguh tak percaya jika gadis itu sangat gesit dan pintar.
“Siapa dia,” gumamnya masih melihat gerakan Ara dari dalam mobil. Tangannya terkepal dan tersenyum miring, ternyata gadis itu bukan lah gadis sembarangan. Pantas saja Lion sangat menjaganya, dan akan membunuh putranya.
“Rupanya kau sangat pintar Lion. Bagaimana jika gadis itu ada di tangan ku.” Kekehnya, masih terus melihat Ara dari dalam mobil.
Meski tubuhnya kecil dan ramping Ara bisa melawan beberapa pria sekaligus. Bela diri yang Sky ajarkan padanya sungguh membuat Ara seperti Dewi di teriknya sinar matahari. Gerakan lembut dan lincahnya yang memukul lawan sangat apik.
Sky mengajarkan Ara ilmu bela diri dan menembak sejak usia dini. Sky tau jika dia akan menghadapi musuh saat dia bertemu dengan Elard. Tapi sifat manja dan kekanakannya lah yang mampu menutupi jati dirinya sendiri. Ara bisa menyembunyikan ekpresi marah menjadi sedih. Keluguannya yang sering mengecoh lawannya. Di tambah lagi wajahnya yang baby face membuat siapa saja tak akan menyangka jika Ara lebih dari sekedar pembunuh.
Sampai saat ini, tak ada yang akan menyangka, jangan kan orang yang baru bertemu dengan nya. Ibunya saja tak tau menahu tentang dirinya.
__ADS_1
Ara terdiam dan tersenyum miring melihat pria di depannya mengayunkan senjata tajam padanya.
“Ucapkan selamat tinggal tuan.”
Pria yang berdiri di depan Ara berdecih dan benar benar mengayunkan benda di tangannya pada Ara. Sayangnya sebuah peluru lebih dulu menembus punggung dan tembus ke dadanya, dia langsung jatuh tergeletak ke aspal dengan bersimbah darah.
“Kau tidak mengucapkannya tuan.” Gumam Ara menipiskan bibirnya.
Sementara Preston yang berada di dalam mobil mengeratkan giginya emosi. Dia menginjak pedal mobilnya dan melesak pergi meninggalkan mereka, sebelum Elard menyadarinya.
Elard turun dari mobilnya dan berlari menubruk Ara. Dia memeriksa seluruh tubuh Ara tanpa terlewat sedikitpun. Tak lama dia bernafas lega melihat Ara baik baik saja. Jantungnya hampir saja lepas saat mendengar Jefri memberitahukan nya tadi.
“Kau membuat ku takut Ara.” Lirih Elard, hampir saja dia kehilangan Ara, andai dia tak lebih dulu melepaskan pelurunya, Elard tak tau, apa yang akan terjadi pada Ara.
Sementara tak jauh dari Elard dan Ara kedua bawahan Elard menundukkan kepalanya. Mereka sedikit tak percaya menyaksikan semua itu di matanya. Dan tuannya benar benar menghawatirkan nona Ara.
“Siapa mereka, apa yang mereka inginkan dari Ara.” Tanya Ara. Elard semakin mengencangkan pelukannya pada Ara. Elard bisa merasakan tubuh Ara yang bergetar ketakutan.
“Bukan siapa-siapa sayang.”Ara melepaskan pelukannya pada Elard. Dia mengedarkan pandangannya dan dia sendiri juga tak percaya jika lebih dari dua puluh pria tergeletak di atas aspal. Dia melirik dua pria yang berdiri tak jauh darinya. Apa yang di pikirkan ternyata benar jika mereka adalah orang Elard.
Elard menatap wajah Ara yang terlihat berkeringat. Dia mengusap kening Ara, tapi sayangnya Ara menghindari tangan Elard dan mundur selangkah.
“Ara.” Seru Elard menatap wajah Ara.
“Aku tak tau siapa mereka tuan, mereka ingin mencuri mobilku kan, dan terima kasih sudah menolong ku.” Ara berbalik dan dia menghentikan langkah nya saat mendengar seruan Elard di telinganya.
“Ara..”
Ara berbalik dan menatap Elard. Dia menghembuskan nafasnya perlahan, entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Berpura-pura lugu atau tegas pada Elard.
“Aku tak ingin membuat skandal dengan mu tuan. Aku ingin meraih mimpi ku tanpa embel embel orang dalam.” Sahut Ara kembali lagi berbalik dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Elard yang berdiri menatap kepergian nya.
Sementara Elard mengusap wajahnya kasar. Dia lupa jika Ara saat ini bukanlah gadis yang lugu lagi. Dia sudah dewasa saat ini. Tentu saja dia menjaga jarak dengannya.
__ADS_1
“Preston, beraninya mengusiknya.”