Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 6# Pertemuan kedua


__ADS_3

“Tuan baik baik saja.” Tanya Jefri  pada tuannya. Dia pikir tuannya marah saat gadis itu menabraknya tadi. Ya Lionel Elard Roberto tak suka jika seorang wanita menyentuhnya.


Elard masih diam dia menoleh ke belakang dan sudah tak mendapati gadis yang menabraknya. Elard menyentuh dadanya yang berdetak lebih kencang. Tak biasanya jantungnya seperti ini. Elard menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran bodohnya.


“Siapa dia.” Gumam Elard masih penasaran dengan remaja yang menabraknya.


Apa jantungnya berdetak karna kepala gadis itu membentur dadanya hingga jantungnya berdetak.


Jefri bingung melihat tuannya yang diam, dan tak menjawab pertanyaannya.


“Apa mereka harus mencari tau siapa gadis itu tuan.”


“Tidak perlu. Apa kau bodoh. Untak apa mencari tau gadis itu.” Seru Elard emosi, matanya menatap tajam pada asistennya.


“Maaf tuan..” sesal Jefri  menundukkan kepalanya mendengar seruan tuannya padanya.


*


Brukk..


“Ah nyamannya.” Gumam Ara menjatuhkan tubuhnya di ranjang besar dan empuk di apartemen barunya. Matanya terpejam saat merasakan tubuhnya yang sangat lelah luar biasa kemudian jatuh di ranjang empuk. Sungguh sangat nyaman dan tak lama Ara tertidur lelap.


Ara bahkan tak mencuci kaki nya terlebih dahulu sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa lelah dan mengantuk yang semalam berada di dalam kuda besi terbayar saat mencium bau bantal di hidungnya.


Hingga malam menjelang Ara baru terbangun dari tidurnya. Ara menguap berkali-kali, dia bangkit dari atas kasur dan berjalan gontai masuk ke dalam kamar mandi.


Membasuh wajahnya yang masih mengantuk dengan air dingin. Andai perutnya tak berbunyi, Ara pasti tak akan bangun. Dia akan tidur hingga pagi.


“Ck... Kenapa aku baru sadar.” Gumam Ara lirih, tak lama dia tmenjatuhkan tubuhnya lagi di atas kasur saat menyadari jika dia sudah bebas dari bodyguard ayahnya. Tubuhnya berguling ke sana kemari, sambil bersenandung.

__ADS_1


Ara meraih ponsel miliknya dan berdecak saat sadar ponselnya masih mode silent. Begitu Ara menyalakannya ponsel miliknya langsung berdering dan itu dari ibunya. Tanpa menunggu lama, Ara menekan tombol ikon hijau di ponselnya.


“Sayang apa kau baik baik saja. Kenapa ponsel mu tak bisa di hubungi. Apa kau sudah sampai di apartemen Ara. Ara apa kau baik baik saja.” Cerocos Freya di sebrang telpon.


Sementara Ara berdecak mendengar pertanyaan beruntun ibunya.


“Aku baik baik saja mom.” Jawab Ara dan terdengar helaan nafas lega freya mendengar jawaban putrinya. “ Aku ketiduran tadi, mom.” Lanjut Ara terkekeh.


“Jadi kau belum makan sayang. Apa daddy harus datang kesana.” Sahut Sky tiba tiba mendengar penuturan putrinya. Sky dan Freya sudah hapal dengan putrinya, yang akan tidur berjam-jam. Apalagi saat merasa tubuhnya lelah, dia bahkan bisa menghabiskan waktu nya dengan tidur sehari semalaman.


“No, Ara ingin sendiri, ingat janji daddy.” Seru Ara menolak Sky. “Ara tutup dulu dad, lop yu dad mom.”


Klik. .


Ara menutup sambungan ponselnya, sebelum ayahnya ceramah panjang lebar. Dia melemparkan ponselnya di atas ranjang dan keluar dari kamar miliknya.


Ara berjalan keluar dari apartemen miliknya seorang diri. Perutnya benar-benar sangat lapar.


*


Ara menoleh ke kiri dan kanannya, bibirnya tersenyum dan melangkah kan kakinya menyebrang jalan. Ya Ara belum membeli kendaraan, dia akan membelinya besok. Untuk saat ini, dia harus mengisi perutnya yang lapar. Dan cukup menyebrang jalan saja. Beruntungnya di sebrang apartemen ada restauran mewah. Ara yakin di sana ada makanan kesukaannya.


Ara dengan santainya berjalan ke depan. Matanya menatap ke atas di mana nama logo restauran di depannya. Di tak tau jika bahaya sedang mengincarnya saat ini.


“Apa Preston berbuat ulah. “Tanya Elard tanpa mengalihkan pandangannya dari notebook di tangannya.


“Tidak tuan.” Sahut Jefri semakin menginjak pedal gasnya.


“Awasi mereka berempat, aku yakin mereka akan berbuat ulah nanti.” Tutah Elard lagi. “Baik tuan.” Jawab Jefri melirik ke arah tuannya di belakang.

__ADS_1


Tak lama kemudian Jefri terkesiap saat melihat seorang gadis tiba-tiba menyebrang jalan. Terang saja Jefri menginjak pedal gasnya sekaligus dan membuat Elard yang berada di kursi belakang menjatuhkan notebook di tangannya dan hampir saja kepalanya terbentur jok kemudi.


“Brengsek..”  Umpat Elard emosi. Dia menatap kedepan, seketika giginya gemerutuk menahan emosi yang memuncak saat melihat seorang gadis berdiri di depan mobilnya.


Elard turun dari mobilnya dengan wajah merah padamnya dan membanting pintu mobilnya kencang.


Brak..


Sementara Ara yang mendengar suara pintu mobil yang di tutup kencang berjengit kaget. Dia baru saja tersadar dari kebodohannya yang sangat ceroboh. Menyebrangi jalan sesuka hatinya. Hampir saja nyawanya melayang karna mobil di depannya yang hampir menabrak nya.


Tak lama kemudian Ara, semakin menundukkan kepalanya dalam saat menyadari sebuah kaki berjalan ke arahnya.


Dan Elard yang melihat gadis remaja dan kecil di depannya semakin emosi. Dadanya naik turun, menahan emosi yang luar biasa. Dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah mencari keberadaan orang tuanya.


“Apa kau mau mati hah.” Sentak Elard dengan suara berat dan emosi saat tak menemukan siapapun selain mereka berdua. Elard yakin jika gadis ini pasti kabur dari orang tuanya dan ingin berbuat ulah dengan teman prianya.


Ara semakin menundukkan kepalanya dalam, mendengar suara berat dan bas di depannya. Tangannya meremas kaos yang di pakainya. Sedangkan rambut panjang nya menutupi wajahnya saat dia menundukkan kepalanya.


Ara sungguh tak percaya, hari ini dia sudah bertemu dengan dia pria yang mengumpat nya. Dan semua ini karna kebodohannya. Beruntung saja mobil di milik pria di depannya tak mencium tubuhnya yang kecil. Sudah di pastikan tubuhnya akan terpental jauh ke depan.


Ara tak bisa membayangkan dirinya sendiri yang ceroboh. Bagaimana bisa dia ceroboh, baru satu hari dia menginjakkan kakinya di sini, tapi dia sudah dua kali berbuat ceroboh.


Dan Elard yang melihat wajah gadis di depannya yang tertutup rambut dan paha yang terbuka di depannya berdecih. Mengumpat dalam hati dan tersenyum sinis ke arah gadis kecil di depannya. Elard yakin dia baru saja lulus sekolah menengah pertama. Terlihat dari pakaiannya yang seperti gadis baru menginjak remaja.


Ya penampilan Ara saat ini hanya memakai celana jeans ketat yang hanya menutupi bokongnya. Serta kaos oblong yang juga menutupi celana jeans yang di pakainya.


Pakaian Ara memang hampir sama seperti itu. Sangat seksi dan seperti gadis yang baru menginjak remaja. Padahal usianya saat ini sudah delapan belas tahun. Tapi Ara memang lebih nyaman memakai pakaian seperti itu. Selain enak di pakai, dia juga bebas bergerak.


“Cih gadis liar, awas saja jika kau menunjukkan wajah mu padaku nanti.” Ancam Elard berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Brakk..


 


__ADS_2