Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.69#


__ADS_3

Elard menoleh ke arah mayat yang tergeletak. Dia mengerutkan keningnya melihat pisau yang menancap di salah satu dada mereka. Elard menoleh ke arah dua bawahannya yang berdiri tak jauh dari nya. Dia lalu melirik ke arah mayat sampingnya.


Apa mereka yang melakukannya.?


“Tuan.”


“Kuburkan mereka,” potong Elard kemudian melangkah mendekati mobil mewah nya dan pergi meninggalkan bawahannya.


Elard berulang kali mengusap wajahnya dan memijit kepalanya yang pusing. Melihat mayat yang tergeletak dengan pisau yang menancap di dada mereka, persis seperti apa yang dia lihat saat berada di rumah Kikan.


“Apa ada yang tak ku ketahui,” lirihnya tak mungkin Ara yang melakukannya kan. Elard lagi lagi menggelengkan kepalanya tak percaya bahwa yang melakukan itu adalah Ara, mana mungkin Ara bisa melakukan itu. Tak lama pintu ruangannya di ketuk oleh Jefri dari luar.


“Preston..”


“Ya tuan..” sahut Jefri menundukkan kepalanya pada tuannya.


Dan Elard menipiskan bibirnya mendengar jawaban Jefri.


 “Aku tak suka menundanya Preston.” Desis Elard berdiri dari duduknya dan menyambar sebuah senjata api miliknya. Melangkah lebar keluar dari apartemen miliknya. Kali ini dia tak akan membiarkan Preston mengusik Ara lagi.


“Aku sudah mengingatkan mu Preston.”


*


“Brengsek.” Umpat Preston, sementara temannya yang duduk tak jauh dari nya ikut emosi mendengar penuturan Preston.


“Aku tak percaya dengan yang ku lihat. Ku pikir aku akan mudah menghancurkan nya.” Ucapnya sambil mengeratkan giginya emosi. Dadanya bergemuruh hebat mengingat beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya cacat karna Elard yang hampir membunuhnya.


Tapi saat ini, wanita yang dia pikir lemah dan akan dia jadikan pion justru bukan wanita bodoh. Tak hanya pintar bela diri, tapi dia juga pintar menembak dan membunuh orang pilihannya.


“Kau pikir aku tak membencinya, sejak dia menghentikan kerja sama kita, tak hanya ingin menghancurkan nya, tapi aku juga ingin membunuhnya.”

__ADS_1


Sementara Ara yang berada di dalam mobil membuka jaket miliknya. Dan membuangnya ke belakang, terlihat baju dengan tali spagetti ketat menempel di tubuhnya, serta rok mini yang jauh di atas lutut menampilkan kaki jenjangnya. Telapak kaki terbalut dengan hels yang lumayan tinggi berwarna merah terang.


Wajahnya terpoles make-up tebal dan lipstik merah menyalanya menghiasi bibir mungilnya. Rambut bergelombang terurai sebatas pinggang dan sedikit berwarna gold ujungnya. Sebelumnya Ara baru saja mewarnai rambutnya sendiri, lalu kemudian datang ke mari.


“Cih, kau sudah lebih dulu mengusikku tuan.”


Ara keluar dari mobil mewah nya dan melenggang masuk ke dalam. Ketukan sepatu hels yang terdengar membuat siapa saja yang mendengarnya akan menoleh padanya. Sayangnya ketukan sepatu hels tak terdengar dengan suara musik saat sang empu semakin masuk ke dalam.


Mereka yang berpapasan dengan Ara terpana dan terhipnotis oleh kecantikan Ara. Di bawah lampu kerlap kerlip yang redup lalu kemudian terang semakin membuat Ara seperti dewi. Sorot mata indahnya terpancar sangat cantik.


Ara duduk di salah satu kursi di bartender. Senyum tersungging di bibirnya merahnya saat ekor matanya menangkap pria yang di carinya. Ara menoleh ke arah pria yang menyodorkan gelas berisi wine padanya.


“Terima kasih.”


“Sama sama nona,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara. “Aku baru pertama kali melihatmu nona.” Lanjutnya.


“Berhenti menatap ku.”


“Kau terdengar seperti wanita berkelas nona.”


“Kau pikir aku wanita murahan, tentu saja aku wanita berkelas tuan.” Sahut Ara berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua pria yang duduk tak jauh dari nya.


Sementara dua pria yang duduk di kursi tak jauh dari Ara terus menatap Ara. Di sampingnya keduanya di temani wanita bertubuh seksi yang hampir tanpa busana. Preston dan Liam, pandangan keduanya sama sekali tak berkedip.


Jika Liam, tersenyum lebar melihat Ara, berbeda dengan Preston yang menyipitkan matanya melihat Ara. Dia seperti melihat wajah wanita cantik yang berjalan ke arahnya.


Liam mengusir wanita yang duduk di sampingnya. Pria berusia empat puluh tahun ini melebarkan bibir bibirnya menyambut kedatangan Ara.


“Boleh saya bergabung tuan tuan.”


“Tentu saja nona.” Dambut Liam mengulurkan tangannya pada Ara, tapi tak lama fis menarik tangannya kembali saat Ara mengangkat gelas di tangannya, pertanda jika dia tak menerima uluran tangan Liam.

__ADS_1


Liam tersenyum masam  tapi tak lama dia kembali lagi melebarkan bibirnya pada Ara.


Sementara Ara duduk anggun mengangkat kakinya tumpang tindih di depan mereka berdua. Melempar kan senyum masih pada keduanya, dan Liam yang melihat senyum di bibir Ara seketika sesuatu anggota tubuhnya menegang.


Preston masih mengawasi wanita yang duduk di depannya.


“Anda mengenalku tuan.” tanya Ara menggoyangkan gelas di tangannya lalu menyesapnya perlahan.


“Tidak nona.” sahut Liam, "Tapi akan segera mengenalmu nona." imbuhan lagi,


“Ya aku sangat senang bisa mengenal anda." sahut Ara.


Dan Liam, membenarkan jas. miliknya dan menggeser bokongnya untuk mendekati Ara.


Ara tersenyum tipis melihat nya, dia juga tau jika Preston menatap ke arahnya tanpa berkedip. Ayah Dary, pria yang menjadi sahabatnya saat dia kuliah di sini. Sayangnya, Dary merusak persahabatan mereka berdua dengan memanfaatkannya. Beruntungnya Elard dulu menolongnya.


“Siapa kau sebenarnya nona.” Tanya Preston menatap tajam Ara di depannya. Dia bahkan tak menghiraukan wanita di sampingnya.


Sementara di luar Elard melangkah lebar masuk ke dalam club. Sampai di dalam dia mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan Preston. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Preston dan Liam duduk di salah satu meja. Di temani wanita cantik di sampingnya.


Elard mengerutkan keningnya melihat wanita yang duduk membelakangi nya. Siapa dia.? Tapi tak Elard tak perduli siapa wanita yang duduk membelakangi nya. Dia mengambil senjata di balik jasnya, tapi tak lama dia mengurungkan nya saat melihat sebuah meja yang terbalik.


dan Ara dia tak tau jika tak jauh darinya Elard berdiri mengawasi nya dari belakang. Pandangan matanya terus menatap ke arah Preston yang duduk di sampingnya. Mengingat kembali pria yang coba mengusiknya dan ingin melukainya, membuat Ara emosi dan penuh dendam. terlebih saat mereka menyentuh tubuhnya.


 “Malaikatmu tuan.” Sahut Ara tanpa basa bari pada Preston. Dan Preston yang mendengar suara wanita di depannya mengeratkan rahang nya emosi.


“Apa maksud mu.” Geram Preston semakin merah padam mendengar jawaban wanita di depannya. dan Liam, dia melirik ke arah sahabatnya di samping nya. dia tak tau siapa wanita di depan mereka, tapi seperti nya, dia bukan gadis sembarangan.


Ara terkekeh mendengar nada yang sedikit keras di telinganya. Terlebih wajah Preston yang terlihat memerah di bawah lampu remang.


“Cih ******..”

__ADS_1


Brakk..


__ADS_2