
Keesokan harinya.
Airin mendatangi perusahaan Elard suaminya. Seperti biasa dia akan memakai pakaian cukup seksi yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Tak sampai beberapa menit pintu lift terbuka dan Airin keluar dari dalam lift.
“Nyonya tuan Lion tak ada di dalam.!” Wanda menundukkan kepalanya sambil berucap. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat tatapan mata wanita yang menjadi istri tuannya. Bukan hanya itu dia juga artis dan model yang bisa melakukan apa saja padanya.
Sementara Airin mengepalkan tangannya mendengar penuturan sekertaris suaminya. Kapan Elard kembali pulang ke mension dan menemuinya. Belakangan ini suaminya bahkan hampir tak pulang sama sekali.
“Apa yang kau lakukan di sana Lion.” Gumamnya berbalik meninggalkan Wanda dan kembali masuk ke dalam lift.
Brak
Airin menutup pintu mobilnya kencang. Tangannya mencengkram erat setir kemudi miliknya dengan perasaan emosi marah dan cemburu yang menjadi satu.
Jika dulu Elard jarang pulang ke mension karna pekerjaannya di luar kota kali ini Elard tak pernah pergi sama sekali kemanapun, tapi dia tak pernah datang ke mension. Apalagi untuk menginap di mension mewahnya.
Airin mengambil ponsel miliknya di dalam tasnya dan menghubungi seseorang. Sebenarnya Airin sama sekali tak ingin menghubungi nya. Tapi Airin butuh bantuan pria itu untuk membawa Elard kembali pulang ke mension.
“Ada apa Airin, paman sedang di bandara menjemput Selia.”
Airin mengepalkan tangannya mendengar penuturan Robert. Ya Robert, hanya pria itu yang di patuhi Elard untuk saat ini. Pria yang sudah dua kali meniduri nya sedang menjemput putrinya.
“Siapa gadis yang bersama Lion.” Tanya Airin dingin. Dan Robert terkekeh mendengar pertanyaan Airin.
“Dia hanya gadis tak berguna Airin. Dia hanya putri dari pria yang sudah membunuh Edwin.”
Airin mengerutkan keningnya mendengar penuturan Robert. Bukanlah Edwin adalah ayah suaminya. Tapi kenapa suaminya justru tak membencinya. Apa Lion merencanakan sesuatu.
*
Sementara Lion terus memperhatikan Ara di mejanya. Bibirnya tersenyum melihat Ara yang sudah membuang syal di lehernya.
“Bagaimana aku bisa melupakanmu,” gumamnya tersenyum tipis.
Lima belas menit kemudian waktu istirahat berbunyi. Semua siswa keluar dari ruangan. Sementara Emma dan Ara masih di dalam kelas.
“Apa kau tau Dary.” Bisik Emma pada Ara. Tangannya membenarkan kaca matanya dan melirik ke depan dimana Lion masih duduk di kursinya.
__ADS_1
Ara menggelengkan kepalanya, terakhir kalinya dia bertemu Dary saat di dalam pesta. Setelah nya Ara tak tau apa apa.
“Aku dengar dia terluka parah,ada seseorang yang mencoba membunuhnya.”
Ara mendelikkan matanya mendengarnya. “Ada yang ingin membunuh Dary.” Ulang Ara yang di angguki oleh Emma.
“Sayang.”
Hah.
Emma dan Ara berjengit kaget melihat Lion sudah berdiri di depannya. Mereka menundukkan kepalanya takut, apalagi Emma. Tubuhnya gemetar ketakutan, takut bukan main. Emma hanya melirik ke arah Queensa. Dia tau siapa yang di panggil sayang oleh pemilik universitas ini.
“Jangan mengatakan apapun pada Queensa dengan hal yang tak penting sama sekali. Kau dengar.”
Emma menganggukan kepalanya mendengar penuturan Lion. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan dan berkeringat dinging. Ara yang melihat itu melirik ke arah Elard. Bibirnya manyun dan mendengus.
“Ishh Ara tidak lapar.” Seru Ara. Elard masih berdiri di depan Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari Arabelle. Tak lama kemudian Elard menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Ara.
“Ingin berjalan sendiri atau om gendong.” Ara bergidik ngeri mendengar suara bisikan Elard di telinganya. Dia lalu berdiri dari duduknya dan menghentak kan kakinya.
Sampai di ruangan pribadi Elard, Ara memekik senang melihat meja di dalam ruangan Elard penuh dengan makanan favorit nya.
“Om tau, Ara juga suka jus alpukat.” Elard tersenyum, apa yang tidak dia ketahui tentang Ara. Semua tentang Ara Elard sudah tau semuanya.
“Habiskan sayang.” Kata Elard berjalan mendekati meja yang lain membiarkan Ara duduk di sofa dengan makan siangnya. Elard membuka laptop miliknya dan bekerja dari dalam ruangannya.
Tak lama kemudian ponsel Elard bergetar di saku celananya. Elard merogoh ponsel miliknya dan menekan tombol hijau di layar.
“Tuan, tuan Robert datang ke perusahaan otomotif. Saya rasa tuan Robert ingin membeli mobil untuk putrinya.”
Elard mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Jefri di sebrang telpon. Giginya gemerutuk menahan emosi yang memuncak. Ya Elard memang masih membiarkan Robert mengambil uang sesukanya di perusahaan miliknya.
Tapi sepertinya untuk sekarang sudah cukup untuk Robert memanfaatkan dirinya. Ya Elard tau Robert hanya menjadikan mesin untuk kesenangannya. Dari dulu Elard sudah tau, tapi karna Robert lah dia terbebas dari benalu lainnya.
Dan kali ini Elard rasa sudah cukup dia memberikan apa yang Robert inginkan.
“Blokir semua kartu ATM miliknya.”
__ADS_1
“Baik tuan.” Sahut Jefri di sebrang telpon dan tak lama Elard menutup sambungan ponselnya.
Elard menoleh ke arah Ara yang masih duduk di atas sofa. Elard berjalan mendekati Ara dan duduk di sampingnya.
“Kau menyukainya.” Ara hanya menganggukan kepalanya mengiyakan. Elard tersenyum, dia mengambil tisu dan mengelap bibir Ara yang terkena kecap.
“Kau semakin cantik sayang.” Gumam Elard yang terdengar di telinga Ara. “Om bicara apa.?” Tanya Ara mengerutkan keningnya.
“Tidak sayang.”
*
“Maaf tuan kartu ini juga sama.”
Robert mengerutkan keningnya mendengar penuturan salah satu wanita yang menjadi karyawan di perusahaan otomotif.
“Coba sekali lagi.” Sahut Robert dan dia mengerutkan keningnya saat melihat gelengan kepala wanita di depannya. Robert menganggukan kepalanya dan mengambil kartu lainnya lalu menyodorkan nya pada wanita cantik di depannya.
“Sama tuan, kartu ini juga tak bisa di gunakan.”
Robert yang bingung mengambil kartu lainnya lagi, dan masih sama. Ke empat kartu ATM miliknya terblokir otomatis.
“Apa mesinnya rusak nona, tidur mungkin kartu saya terblokir. Coby sekali lagi.” Wanita di depan Robert menganggukan kepalanya beberapa menit kemudian dia menggelengkan kepalanya layak Robert.
Sementara Robert nafasnya mulai memburu menahan emosinya. Dia lalu mengeluarkan kartu ATM miliknya sendiri yang tak seberapa menurut Robert. Tapi bagi orang lain itu sangat banyak.
“Anda akan membayarnya dengan kartu yang ini tuan.” Tanya wanita di depannya mengagetkan Robert dari lamunannya.
Robert mengepalkan tangannya mendengar penuturan wanita di depannya. Itu artinya semua kartu ATM atas nama perusahaan telah terblokir. Siapa yang berani memblokir nya.
“Ya.” Tak ada yang bisa Robert katakan selain mengatakan iya. Selain tak ingin putrinya marah padanya. Robert juga tak ingin malu.
“Dad kenapa lama sekali.”Seru Selia mengagetkan Robert. Dia mengerutkan keningnya melihat wajah ayahnya yang tegang dan terlihat marah.
“Ya ayo kita pulang saya.”
__ADS_1