
“Cih ******..”
Brakk..
Preston dan Liam kaget melihat meja di depannya terbalik dan hancur berkeping-keping. Wanita yang bersama Preston kaget dan memekik keras. Hampir saja serpihan kaca mengenai mereka.
“Kau..” seru Preston mendelik tajam pada gadis di depan nya. Dia berdiri dari duduknya, tapi tak lama kemudian dia kaget saat sebuah kaki mengarah padanya.
Bug...
Brak..
Preston terjengkang ke belakang mendapatkan tendangan dari dari Ara. Dia mengumpat keras dan bangkit dari lantai. Sementara Liam menoleh ke arah Ara yang duduk tenang di kursi milik nya.
Elard yang melihat Preston menodongkan senjata api mengambil senjatanya. Tapi sayangnya lagi lagi Preston lebih dulu terkapar saat sebuah kaca melayang di lehernya. Elard bisa melihat bagaimana kecepatan dan lincah tangan itu melemparkan pecahan kaca padanya.
Ara dengan gesit mengambil potongan kaca dan melemparkan nya pada Preston.
“Kau..” Liam kaget melihat Preston terkapar dengan sayatan di lehernya. Dia mengambil senjata apinya dan menodongkan nya pada Ara.
Ara terkekeh melihat wajah Liam yang pucat pasi. Begitu juga dengan teman wanita nya yang beringsut menjauh. “Anda sahabatnya, maka berhati-hati lah karna aku juga akan membunuhmu tuan.” Seru Ara membuat Liam emosi hingga wajahnya merah padam.
“Kau, gadis brengsek.” Umpat Preston berdiri memegangi lehernya yang mengeluarkan darah segar. Tak lama dia terhuyung ke belakang dan terjatuh lagi. Ara yang melihat semua itu menipiskan bibirnya.
“Pergilah kerumah sakit tuan, selagi kau masih bisa bernafas.” Titah Ara berdiri, keningnya mengkerut saat mata tajamnya melihat dari pantulan kaca seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
“Siapa sebenarnya kau nona.” Tanya Liam masih belum percaya melihat gadis di depannya melukai Preston. Dan apa yang membuat gadis di depannya ini ingin membunuh Preston.
“Kau ingin mencobanya.” Sahut Ara melangkah cepat meninggalkan Liam dan Preston yang sekarat. Dia tak ingin Elard mengetahui siapa dirinya. Dan dia juga tak mau jika Elard tau sisi lain dirinya. Entah kenapa Ara tak ingin Elard tau tentang nya. Apa takut jika Elard akan menjauh darinya, atau takut Elard mengetahui kebohongannya dan membencinya.
Sementara Liam mengepalkan tangannya mendengar jawaban Ara. Liam menoleh ke belakang dan tersenyum miring. “Kurasa kau bukan gadis sembarangan nona.”
Elard yang berdiri menyaksikan semua itu baru sadar jika wanita yang duduk di atas sofa sudah tak ada lagi. Dia melangkah mencari kemana perginya. Elard mencarinya di sekelilingnya, mata tajamnya mengedarkan pandangannya mencari wanita berambut sedikit gold dan tubuhnya rampingnya.
Dia merasa mengenal nya, dari belakang dia terlihat seperti Ara. Tapi apa mungkin dia Ara, rasanya tak mungkin. Lagi pula, rambut Ara tak keriting Dan tak berwarna. Tapi siapa dia dan dimana dia sekarang, kenapa dia ingin membunuh Preston.
Elard mengusap wajahnya kasar, dia kembali masuk ke dalam club setelah dia mencarinya dari pintu belakang. Ternyata wanita itu tak ada sama sekali. Elard menatap kerumunan orang, dia yakin mereka akan membawa Preston ke rumah sakit, atau akan menguburkan Preston. Elard tak tau apa Preston sudah meninggal atau belum. Yang jelas dia yakin jika Preston sedang sekarat sekarang.
Liam yang melihat Elard kaget, dia mundur perlahan dan tubuhnya mematung melihat Elard berdiri di depannya. Liam menoleh ke belakang, bukankah Elard dia ada di belakangnya. Lalu kenapa dia tiba tiba sudah ada di depannya.
“Kau seperti pencuri yang tertangkap basah tuan Liam.” Sinis Elard menarik sudut bibirnya ke atas melihat Liam yang ingin pergi diam diam dari nya.
“Aku tau apa yang ada di kepalamu Liam. Kau masih ingin, jangan berani mengusikku, jika kau tak ingin bernasib sama seperti sahabat mu.”
“kau.. “
Klick..
“Tentukan dari sekarang, kau ingin aku melubangi kepala mu, matamu atau jantung mu yang ini Liam.” Tekan Elard tersenyum penuh kemenangan melihat wajah pucat mantan rekan bisnisnya. Elard berjalan mendekati kerumunan beberapa orang. Dan saat itu juga mereka menyingkir saat menyadari siapa yang datang.
Tak hanya menyingkir, tapi beberapa mereka juga pergi dari hadapan Elard. Terlebih saat melihat Elard membawa senjata di tangannya.
__ADS_1
“Sayang sekali, sebelum aku menghabisi nya, dia lebih dulu sekarat.” Ucapnya datar, masih belum tau siapa wanita itu dan ada hubungannya apa dengan Preston.
Dan Liam yang menyadari Lion mendekati Preston. Menggunakan kesempatan ini untuk segera pergi dari hadapan Elard. Dia tak ingin Elard menembaknya, tak hanya itu Liam juga tak ingin Elard tau jika dia bekerja sama dengan Preston untuk menggulingkan nya. Seperti pertemuan terakhir mereka, Elard bahkan tak segan untuk melepaskan senjata nya waktu itu.
Sementara Ara yang mengintip dari salah satu ruangan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia berjalan keluar perlahan setelah melihat Elard fokus pada Preston.
Sampai di mobilnya Ara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan club malam dan kembali pulang ke apartemen milik nya. Tak sampai satu jam Ara sudah sampai di apartemen milik nya. Dia melangkah perlahan menghampiri pintu lift. Sampai di depan apartemen mewah nya. Ara menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
“Sebenarnya apa yang terjadi, apa aku jatuh cinta dengannya.” Gumam Ara berdecak kesal. Kepalanya sedikit pusing setelah meminum wine sebelumnya.
Tubuh yang lelah dan kepala yang semakin pusing membuat Ara langsung memejamkan matanya.
Berbeda dengan Elard yang tak bisa tidur sama sekali di apartemen milik nya. Di tangannya gelas berisi wine menemaninya malam ini. Memikirkan siapa wanita yang ingin membunuh Preston. Dari postur tubuhnya dia seperti Ara. Tapi tak mungkin dia Ara, gadis kecilnya sama sekali tak tau apa apa.
“Bodoh...” makinya pada diri sendiri, seharusnya dia menghentikan nya. Tapi karna kebodohannya dia tak tau siapa wanita itu. Hingga pagi menjelang, Elard sama sekali tak memejamkan matanya. Dia menatap ponsel miliknya dan tersenyum.
“Bagaimana caranya mengatakannya padamu sayang.” Desah Elard lirih, dia benar-benar mencintai Ara tapi dia tak tau bagaimana mengungkapkan nya pada gadis miliknya jika dia mencintai nya.
Selama ini dia memang tak tau bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada seorang wanita. Elard tak pernah memiliki kekasih, dia tak pernah bergaul dengan wanita manapun. Apalagi Ara sangat jauh berbeda dengan yang dulu.
“Sial, kenapa aku bodoh, bagaimana caranya aku menikahinya.” Umpat Elard.
Tak lama kemudian tangannya berselancar di salah satu aplikasi mencari apa yang di inginkan nya. Tapi semua yang ada di layar ponselnya justru membuatnya pusing dan geli.
“Apa harus seperti itu... Sial.. “
__ADS_1