
Keesokan harinya..
Elard yang duduk di kursi kebesarannya memijit kepalanya. Entah kenapa dia tak fokus bekerja hari ini. Apa yang sebenarnya dia pikirkan. Tak mungkin dia memikirkan gadis belia itu kan.
Ya gadis belia yang semalam bertemu dengannya dan hampir tertabrak oleh mobilnya. Gadis yang juga makan di restauran yang sama dengannya. Gadis bertubuh kecil. Wajahnya sangat imut, hidungnya yang kecil dan sedikit mancung, di tambah lagi dengan bibirnya yang tipis, di tambah lagi matanya yang bulat dan jernih. Sungguh dia tak percaya jika gadis yang hampir di tabraknya sangat cantik.
“Shit... “ umpat Elard mengusap wajahnya kasar.
Elard mengingat kembali beberapa tahun yang lalu. Saat jantungnya berdetak seperti ini pada gadis balita yang menjadi adiknya.
Tak wajar dan aneh memang, tapi itulah yang dia rasakan. Dia yang menginjak remaja merasakan hal tak wajar pada bocah berusia empat tahun. Dan saat ini jantungnya kembali berdetak kencang saat melihat wajah gadis remaja yang semalam dia lihat.
Elard menggelengkan kepalanya, mengusir pikirkan bodohnya sendiri. Tak mungkin dia menjadi maniak kan. Apalagi dia sudah beristri. Meski dia dan Airin belum pernah bercinta sekalipun. Dia tak akan menjadi pria brengsek yang akan menjerat gadis belia untuk menghangatkan ranjangnya.
“Sial..”
Clek..
Elard mendongak menatap pintu ruangannya yang terbuka dan menampilkan seorang wanita berpakaian seksi dan tubuh bak gitar Spanyol berjalan ke arahnya. Siapa lagi jika bukan istrinya.
Airin wanita yang menjadi istrinya sejak dua tahun lalu, karna sebuah bisnis. Tak ada cinta di hati Elard pada wanita yang menjadi istrinya, Airin Juelita. Karna hati Elard sudah terpatri pada satu nama, Arabelle. Gadis balita yang sudah mencuri hati dan pikirannya sampai kapanpun.
Tapi entah dengan semalam dan hari ini. Semenjak melihat wajah gadis remaja yang hampir saja tertabrak mobilnya. Pikirannya terus tertuju padanya. Apalagi saat melihat bibirnya yang sangat imut dan seksi.
Elard memejamkan matanya menghilangkan bayang bayang wajah gadis yang semalam dia lihat. Dan sialnya sampai detik ini wajah gadis itu tak mau hilang dari kepalanya.
Bruk..
Cup..
“Kenapa semalam tak pulang ke mension. Aku merindukanmu.” Kata Airin mendudukkan bokongnya di pangkuan Elard dan mengecup bibir suaminya sekilas.
Elard mengeraskan rahangnya melihat tingkah Airin. “Bangun dari pangkuan ku Airin.” Sahut Elard dengan nada datar dan dinginnya.
Airin tak menggubris penuturan suaminya. Dia justru menyandarkan kepalanya di dada bidang Elard. Dia sangat merindukan Elard. Suaminya ini sudah lama pergi, hampir sepuluh hari lamanya dan baru pulang kemarin malam saat pesta ulang tahunnya. Dan semalam suaminya kembali tak pulang ke mension mewahnya.
Elard semakin mengeraskan rahangnya, melihat Airin tak menggubris ucapannya.
“Airin..” geram Elard.
__ADS_1
“Sampai kapan Sayang, sampai kapan kau akan menerima pernikahan kita dan menerimaku sebagai istri mu.” Seru Airin mendongak dan menatap mata Elard, suaminya.
Sementara Elard mengepalkan tangannya mendengar penuturan Airin. Dia juga tak bisa menyangkal ucapan Airin, jika dia dan Airin memang sudah menikah dan mereka adalah suami istri.
“Menyingkir dari ku Airin.” Tukas Elard menahan emosinya.
“Honey..”
Sett..
Airin hampir saja tersungkur saat Elard menyingkirkannya dari pangkuannya. Dia menoleh ke arah Elard dan menatap tak percaya pada suaminya. Seketika dadanya bergemuruh hebat saat mendapatkan perlakuan Elard yang lagi lagi menolaknya.
Clek..
“Tuan.. “ Jefri menundukkan kepalanya saat melihat ketegangan antara tuannya dan istrinya. Dia tak tau jika istri tuannya ada di ruangan tuannya saat ini.
Sementara Elard menghembuskan nafasnya perlahan melihat Jefri berdiri di depan pintu.
“Pulanglah, aku sibuk hari ini.” Seru Elard dan tentu saja pada Airin istrinya yang berdiri di sampingnya. Tak lama dia berdiri dari duduknya dan meninggalkan Airin di ruangannya seorang diri.
Airin yang mendengar suara pintu yang tertutup rapat mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak.
*
Sementara Elard masuk ke dalam ruang meeting dan duduk di kursi utama. Tak lama kemudian, meeting di mulai saat pemilik perusahaan datang dan duduk di kursi paling depan.
Sama Elard masih tak bisa mengontrol dirinya yang terus membayangkan wajah gadis belia yang semalam bertemu dengannya. Hingga satu setengah jam lamanya, Elard sama sekali tak bisa berpikir jernih.
Krak..
Elard berdiri dari duduknya dan melangkah lebar keluar dari ruang meeting. Sementara Jefri yang melihat tuannya menyambar laptop di depannya dan melangkah mengikuti tuannya. Beruntungnya meeting sudah selesai.
“Apa tuan sedang bertengkar dengan nyonya.” Gumam Jefri. Tapi tak lama Jefri menggelengkan kepalanya dan tersenyum bodoh.
Bukankah setiap hari tuannya bersikap dingin pada nyonya Airin. Lalu kenapa tuan tuannya terlihat aneh hari ini.
*
Sementara di apartemen Arabelle berkacak pinggang dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia baru saja menyusun baju baju miliknya. Beruntungnya dia membayar seseorang untuk membersihkan apartemen miliknya.
__ADS_1
Dan dia hanya menyusun baju miliknya dan boneka kesayangannya di lemari.
Tok...Tok....
“Nona, saya ijin pulang.” Kata wanita sekitar empat puluh tahun yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Terima kasih bibi.” Ucap Ara menyodorkan amplop di tangannya. Sementara wanita paruh baya di depannya mengerutkan keningnya melihat amplop di depannya.
“Ini apa nona.?”
Ara mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan wanita di depannya.
“Apa kurang, aku akan mengambilnya lagi.”
“ Bukan nona, uangnya bahkan sangat banyak. Ini gaji saya selama empat bulan.” Jawab wanita paruh baya di depan pintu yang apa adanya.
“Hah benarkah.” Ara kaget mendengar nya. Benarkah uang segitu gajinya selama beberapa bulan. Uang segitu baginya belum apa apa saat dia meminta uang pada daddynya.
“Nona.. “
Ara berjengit mendengarnya, dia menatap wanita di depannya ini.
“Ambil saja, tapi bibi harus janji jika aku membutuhkan bibi, bibi akan datang kemari lagi.” Seru Ara kemudian.
Sementara wanita di depannya menatap tak percaya. Dia menundukkan kepalanya dan berterima kasih pada gadis belia di depannya ini. Tak lama dia pamit pulang pada Ara dan meninggalkan Ara sendiri di apartemen yang tak terlalu mewah.
Ara memang sengaja membeli apartemen yang sederhana. Selain praktis, dia juga hanya tinggal sendiri di apartemen.
Ara kemudian berbalik dan menyambar tas kecil miliknya. Tak lupa dengan ponsel miliknya. Kali ini dia harus selalu ingat dengan barang berharga ini tentunya. Dia sendiri di sini, tak ada bodyguard apalagi daddy dan mommynya. Tapi Ara bahagia, dia sudah memutuskan untuk belajar mandiri seperti sahabatnya.
Ting..
Ara keluar dari pintu lift, dan berjalan keluar dari gedung apartemen dengan wajah riang dan cerianya. Dia akan pergi ke pusat perbelanjaan. Dia akan membeli peralatan kuliah dan pakaian baru tentunya. Karna Ara hanya membawa pakaian sedikit. Hanya beberapa lembar saja. Sementara koper miliknya sudah penuh dengan boneka kesayangannya.
__ADS_1