
“Shit..” umpat Elard, dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Elard melangkah lebar masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Di luar dia berpapasan dengan Rain yang datang bersama dengan seorang wanita.
“Oh kau pulang.” Kata Rain mencium wanita di sampingnya.
Sementara wanita yang bersama Rain menatap Elard tak berkedip.
Berbeda dengan Elard yang justru berdecih melihat wanita bersama Rain tersenyum padanya.
“Bawa pergi dia sebelum aku juga menendang mu dari sini.” Seru Elard menatap keduanya dengan pandangan sinis.
Rain mengepalkan tangannya emosi mendengar penuturan Elard. Tak lama dia melangkah bersama dengan wanita di sampingnya menuju kamar miliknya.
Brakk..
Keduannya berjengit kaget mendengar suara benda hancur di sampingnya. Rain menoleh ke arah Elard dan menatap penuh permusuhan pada Elard.
“Satu kali lagi kau membawa mereka kemari, aku pastikan malam itu juga kau keluar dari mension ini.” Ancam Elard menatap Rain tak kalah tajam.
“Kau tak bisa melarangku, Elard.” Geram Rain menatap Elard emosi bukan main.
“Terserah kau, dan keluar dari mension mewah ku sekarang juga.” Sahut Elard berbalik melangkah menuju ruang kerja miliknya.
Rain mengumpat Elard, dan menendang kursi di sampingnya. Emosi mengingat semenjak kedatangan Elard semuanya yang ingin dia lakukan di batasi. Baik oleh orang tuanya, dan Elard yang sering menggagalkan rencananya.
“Brengsek..”
Sementara Elard yang masuk ke dalam ruangannya juga tak kalah mengumpat Rain dan Robin. Dia melangkah mendekati ruang kerja miliknya dan mengambil vodca serta es di dalam kulkas.
Elard menuangkan vodca ke dalam gelas dan yang berisi es kecil di dalamnya. Menggoyang gelasnya dan menyesapnya perlahan. Hingga satu jam kemudian Elard sudah menghabiskan dua botol vodca yang masuk ke dalam lambungnya.
Sementara wanita yang jauh di sebrang, terus menunggu panggilan ponsel dari suaminya. Siapa lagi jika bukan Airin. Wanita cantik dengan tubuh seksinya terus menatap ke arah ponsel miliknya.
Airin berharap suaminya akan menelponnya, tapi sampai saat ini Elard tak pernah menelponnya terlebih dahulu. Ya hubungan pernikahan keduanya memang sangat jauh dari kata suami istri apalagi romantis. Sepertinya tak ada dalam kamus Lionel Elard Roberto.
“Apa kau sama sekali tak ingin mendengar kabar ku Lion.” Desah Airin lirih. Tak lama pintu hotel miliknya di ketuk dari luar.
*
__ADS_1
Sementara Ara, dia sibuk mengumpat pria dewasa yang sudah mengerjai nya. Bibir mungilnya meniup luka di lututnya yang terluka. Gara-gara dia, dia harus meninggalkan Emma. Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji akan jalan jalan setelah pulang kuliah.
“Ishh.. menyebalkan.”
Bruk..
Ara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur besar miliknya. Matanya menatap langit langit kamar miliknya. Mendesah lirih dan mengambil boneka panda berukuran sedang di sampingnya.
“Pria tua kuno, apa dia tak tau fashion. Apa dia akan menyuruhmu memakai baju panjang.. No.” Serunya sendirian. Bibirnya tak lupa mencebik.
Jauh dari daddy dan mommy nya memang tak mudah. Apalagi di mension Ara sama sekali tak pernah melakukan apapun. Dan sekarang dia harus melakukannya sendiri.
Tak lama Ara terlelap dengan sendirinya. Tangannya memeluk boneka kesayangannya.
Berbeda dengan Ara yang tertidur lelap Elard sama sekali tak bisa tidur. Dia justru terus membayangkan bayang bayang wajah imut gadis belia yang sudah beberapa kali dia lihat.
Entah kenapa Elard terus saja membayangkan wajah gadis mungilnya saat melihat gadis itu. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali dan itu juga hanya sekilas.
“Ara pasti jauh lebih cantik darinya.” Gumam Elard, tapi tak lama dia mengumpat dan mengepalkan tangan tangannya emosi. Emosi mengingat Sky yang sudah membunuh ayahnya. Elard sangat membenci Sky, pria brengsek itu tak patut di maafkan.
“Brengsek..” umpat Elard mengusap wajahnya kasar. Tak lama kemudian dia merogoh ponsel di saku celananya.
*
“Lion kemari!.” Seru Robin melambaikan tangannya pada Elard.
Elard menoleh ke arah meja makan dan bibirnya tersenyum sinis melihat beberapa keluarganya datang kembali pagi ini. Elard melangkah mendekati mereka dan duduk di kursi miliknya.
“Arthur ingin membangun salah satu tempat wisata. Kau bisa menanam saham padanya. Banyak yang menawari Arthur tapi dia tak tertarik be_”
“Seharusnya, jika ada kesempatan paman terima saja. Tempat wisata membutuhkan dana yang lumayan banyak. Jika ada yang ingin menginvestasikan sahamnya kenapa tidak kita terima. Kesempatan hanya datang satu kali.” Potong Elard mengambil roti di depan dan mengoleskan selai di atasnya.
Elard melirik dan menipiskan bibirnya. Dia tau apa sebenarnya tujuan mereka. Senyum Elard semakin lebar melihat wajah masam Arthur.
“Paman pikir sebaiknya orang dalam dulu. Takutnya tak sesuai dengan mereka, justru akan merugikan kita.” Imbuh Robin menatap ke arah Elard.
“Oh maaf aku tak tau itu.” Sesal Elard menatap ke arah kedua pamannya.
__ADS_1
Dan Rain yang melihat Elard mengepalkan tangannya. Karna Elard semalam dia gagal bercinta dengan seorang wanita. Semua itu gara gara Elard.
“Apa kau bisa memban_”
Dert.. Dert..
“Ah maaf Jefri menelpon ku.” Seru Elard berdiri dan berjalan sedikit jauh.
Sementara di meja makan, terdengar mereka saling mencibir dan tersenyum miring. Ya mereka memang sudah lama saling menjatuhkan satu sama lainnya.
Elard yang mendengar mereka hanya tersenyum miring. Padahal Jefri tak menelponnya. Hanya alasan Elard yang ingin melihat bagaimana reaksi mereka. Dan ternyata mereka masih tetap sama.
“Aku bukan orang bodoh.”gumam Elard mendekati meja makan lagi dan mereka kembali menutup bibirnya saat melihat Elard mendekati meja makan.
“Maaf, aku ada meeting pagi ini.” ucap Elard mengambil jas miliknya kemudian berbalik pergi.
“Lion bagaimana dengan Arthur.?” Sela Robin melihat keponakannya berbalik.
“Maaf paman, kau bisa cari yang lain.” Sahut Elard kemudian berabalik dan melangkah lebar keluar dari mension mewahnya.
*
Sampai di perusahaan Elard melangkah lebar menuju pintu lift khusus miliknya. Elard terus melangkah lebar, dan tak perduli dengan karyawannya yang menyapanya.
Sampai di depan ruangannya Jefri sudah berdiri di depan pintu ruangannya bersama berkas dia tangannya. Ya Elard sengaja mengatakan pada Jefri agar langsung datang ke perusahaan tanpa menjemput nya terlebih dahulu.
“Bacakan” Ucap Elard masuk ke dalam ruangan miliknya. Sementara Jafri membuka berkas di tangannya dan membacakan bio data gadis yang di maksud tuannya.
“Arabelle Queensa, gadis berusia delapan belas tahun._”
“Siapa namanya.” Potong Elard, telinganya seperti mendengar nama Ara disebut. Tapi rasanya tak mungkin itu Ara bukan. Ya mana mungkin itu adalah Ara.
“Arabelle Queensa, tuan.”
Deg..
__ADS_1