
“Hay cantik kau sendirian.” tanya salah satu pria yang mendekati Ara.
Ara melirik ke arah tiga pria yang mendekatinya. Tangannya menyingkirkan tangan salah satu dari mereka yang mencoba menyentuhnya.
“Jangan menggangguku.”seru Ara menatap mereka semua. Sebenarnya dia sedikit takut melihat mereka mengelilinginya. Dia mengutuk Emma yang meninggalkan nya dan Dary yang entah pergi kemana. Matanya mengedarkan pandangannya ke arah di mana Dary menghilang tadi.
Ketiga pria remaja itu tertawa melihat reaksi wanita di depannya. Mereka saling melirik satu sama lain.
“Kau terlihat seperti gadis polos nona. Apa kau datang sendiri.” Ucap salah satu dari mereka. Ara mundur perlahan melihat mereka berjalan mendekatinya.
“Jangan macam macam denganku.” Pekik Ara ketakutan melihat mereka semakin mendekatinya.
Ketiga pemuda yang mendekati Ara tertawa terbahak. Ya tak ada yang berani menghentikan mereka bertiga atau menolong Ara. Selain mereka adalah preman, mereka juga tak ada yang berani mengalahkannya.
Sementara Elard yang baru turun dari mobilnya melangkah lebar masuk ke dalam area gedung bioskop. Mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, mencari keberadaan Ara. Jantungnya berdetak lebih kencang mengingat Ara ada di tengah tengah mereka.
Elard kembali menerobos masuk ke dalam. Tak perduli menabrak seseorang, matanya terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ara.
Tak lama kemudian, Elard mengeraskan rahangnya melihat tiga pemuda sedang tertawa menggoda wanita di depannya. Elard yakin dia adalah Arabelle.
Elard semakin emosi mendengar suara pekikan Ara di telinganya. Jantungnya bergemuruh hebat mendengarnya.
Dan Ara kemudian berbalik dan melangkah ketakutan. Tapi tak lama dia menubruk dada bidang di depannya. Tangisnya pecah saat dia menubruk seseorang di depannya. Apalagi dia melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya. Ara mengira jika pria yang di tabrak nya salah satu dari mereka.
Bug..
Elard melayangkan tinjunya pada salah satu dari mereka. Kakinya terayun menendang mereka yang berani membuat Ara menangis. Dadanya bergemuruh menahan emosi yang memuncak, melihat Ara yang menangis ketakutan.
Brakk..
__ADS_1
Suara jeritan dan ricuh pengunjung yang saling membubarkan dirinya membuat Elard sadar. Dia menoleh ke arah Ara yang hampir tersungkur di tabrak oleh salah satu pengunjung.
“Sayang, kau tidak apa apa.?” Tanya Elard menggendong Ara dan membawanya pergi. Hatinya sakit melihat Ara yang ketakutan seperti ini. Marah dan benci seketika menguap begitu saja mendengar suara isak tangis Ara di telinganya.
Sungguh Elard tak bisa mengabaikan Ara sampai kapanpun. Baginya Arabelle adalah segalanya. Dia tak bisa mendengar suara tangis Arabelle di telinganya.
Ara sendiri hanya bisa pasrah saat seseorang menggendongnya. Tangisnya masih berlanjut dan tubuhnya bergetar ketakutan. Elard bisa merasakan tubuh Ara yang gemetar ketakutan. Rahangnya mengeras menahan emosi yang masih menguasainya.
Elard membawa Ara keluar dari gedung bioskop. Dia melangkah lebar mendekati mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka.
Elard membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Ara di jok samping kemudi. Mengusap pipi Ara yang basah dan masih terus menangis.
Ara sendiri menundukkan kepalanya dalam. Masih dengan tangis segukan di bibirnya. Dia kaget dan shock melihat beberapa pemuda menyentuhnya. Sungguh Ara tak pernah di ganggu oleh siapapun. Karna sebelumnya mereka tak ada yang akan berani mengganggu dirinya. Karna selama ini, dia pergi bersama dengan bodyguard nya.
*
Airin mengepalkan tangannya melihat mobil suaminya pergi meninggalkan mension mewahnya. Dia tak percaya jika Elard akan mengabaikan terus dirinya. Menikah selama dua tahun, rupanya tak membuat Elard mencintainya. Terlebih Elard tak pernah menyentuhnya sama sekali.
“Kau sudah membohongi ku tuan. Dimana janjimu yang mengatakan Lion akan mencintaiku dan memperlakukan ku sebagai istrinya.” Teriak Airin emosi bukan main.
“Apa maksud mu.?” Tanya Robin mengerutkan keningnya mendengar penuturan Airin. Ya selama ini Robin tak tau jika Elard tak pernah menganggap Airin sebagai istrinya. Terlebih mereka selalu pergi bersama dan bersikap biasa saat di dalam pesta.
Setau Robin pernikahan mereka baik baik saja. Memang Elard dan Airin terlihat cuek dan acuh saat berada di mension. Dia pikir itu sudah watak Elard yang seperti itu.
Airin menutup bibirnya kesal, dia melangkah masuk ke dalam mension dan menaiki anak tangga menuju kamar suaminya. Airin mengamuk dan membanting semua alat make-up miliknya. Dia pikir suaminya merindukannya, karna selama ini dia pergi dan jarang menelponnya. Tapi ternyata, Lion tetaplah Lion. Dia masih bersikap acuh dan tak perduli padanya.
“Kapan kau akan menerimaku Lion.” Teriak Airin emosi bukan main. Peran yang selama ini mereka tunjukkan di hadapan publik dan layar kaca adalah bohong.
Apa mungkin pada dasarnya, dia yang sudah membohonginya lebih dulu. Dan menjebaknya agar menikahinya.
__ADS_1
“Tidak kau tetap milikku, tak ada seorang pun yang bisa memilikimu selain aku Lion.” Seru Airin membayangkan suaminya yang memiliki wanita lain selain dirinya. Terlebih Lion tak pernah menyentuhnya dan jarang kembali ke mension mewahnya.
“Siapa pun kau, kau tak bisa merebut Lion dari ku.” desis Airin mengepalkan tangannya. nafasnya memburu menahan emosi. Selama ini dia tak pernah berpikir jika Elard akan menghianati nya. Yang dia tau, Elard tak mencintainya. Tapi dia tahun, dia sama sekali tak bisa meluluhkan hati Elard agar mencintainya. Jika karna wanita lain yang sudah merebut Elard darinya, maka dia tak akan pernah bisa memaafkan nya dan akan menyingkirkan nya tentunya.
Sementara Robin menatap ke atas, dimana Airin menghilang di balik anak tangga. Dia masih berpikir, apa yang Airin katakan padanya. Apa Elard dan Airin ta baik baik saja selama ini.
“Apa aku melewatkan sesuatu.”
*
Elard menghembuskan nafasnya perlahan setelah menghentikan mobilnya di parkiran apartemen mewah miliknya. Dia menoleh ke samping dan menatap gadis yang tidur di kursi sampingnya.
Elard membuka pintu mobil samping dan membopong Ara ke dalam gendongannya. Melangkah masuk ke dalam lift. Jefri yang melihat tuannya menggendong seorang wanita mengikutinya dari belakang. Sampai di depan apartemen Jefri membuka pintu untuk tuannya.
Elard membaringkan Ara di ranjang besar miliknya. Dia mengusap mata Ara yang masih terlihat basah dan bengkak. Setelah lelah menangis Ara tidur dengan sendirinya di dalam mobil.
Sungguh Elard tak bisa mengabaikan gadis kecilnya. Matanya yang di hiasi dengan bulu mata yang sangat lentik terlihat basah dan bengkak.
Tangannya mengusap kembali pipi Ara yang terasa basah. Elard menarik sudut bibirnya lebar, saat melihat bibir mungil Ara sedikit terbuka.
“Kau masih sama sayang.” Ucapnya lirih mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Ara yang terbuka.
Cup..
__ADS_1