
Ara dan Dary menoleh saat mendengar suara dari samping. Terlihat seorang wanita yang sangat cantik dewasa dan jangan lupakan memakai pakaian yang terlihat sangat mahal dan pas membalut di tubuhnya yang sangat seksi.
“Cih selain kampungan kau juga terlihat sangat murahan.” Sinis Airin melirik Ara yang berdiri di sampingnya.
“Bukan urusan mu nona.” Sahut Dary kesal mendengar ucapan wanita dewasa di depannya. Dary tau siapa wanita yang berdiri ini, dia adalah istri dari Lionel Elard Roberto pengusaha muda dan pemilik universitas tempat dirinya berkuliah dan pria yang belakangan ini bersama dengan Queensa.
Entah kali ini Dary bahkan tak tau, jika istri dari Lionel justru mengatakan hal seperti itu pada Queensa.
“ Apa mereka tak saling kenal. Lalu bagaimana bisa tuan Lion mengenal Queensa.” Gumam Dary, melirik Airin dan Queensa bergantian.
Ara yang tak tau ucapan itu untuknya dan menyindir nya hanya biasa saja. Entah karna efek alkohol yang baru di cicipinya atau apa. “Apa nona butuh sesuatu.” Celetuk Ara bingung melihat tatapan tak bersahabat wanita dewasa di depannya. Ya pandangannya sedikit terlihat mengabur dan pusing kali ini.
“Cih kau pikir aku membutuhkan bantuan mu.” Jawabnya sinis, tapi tak lama kemudian bibirnya tersenyum miring melihat apa yang di pegang oleh gadis di depannya. Airin menoleh ke arah Dary dan tersenyum tipis.
“Kau terlihat seperti anak itik yang baru masuk ke dalam lumpur yang menjijikkan, kau juga sangat kampungan.” bisik Airin di telinga Ara, lalu tersenyum miring dan melangkah meninggal Ara dan Dary.
Ara mengepalkan tangannya mendengar penuturan wanita itu padanya. Apa karna penampilannya, dia menghinya. Tanpa sadar Ara justru meminum wine di tangannya. Dan Dary yang melihat itu kaget.
“Queen.” Seru Dary melotot tak percaya melihat Queensa menenggak wine di gelas dalam satu kali tinggalkan.
Ara menutup mulutnya yang terasa terbakar, kali ini rasa panas itu sangat terasa di lidah dan tenggorokannya. “ Oh Tuhan, aku tak percaya jus ini membakar lidah dan tenggorokan ku.” Gumam Ara lirih. Tak lama dia menoleh kearah wanita tadi meninggalkan nya.
“Sombong sekali dia, apa dia artis.” Gurutu Ara lagi lagi mengambil gelas di sampingnya dan kue di atas piring kecil dan memasukkannya ke salam mulutnya. Sambil bibirnya terus menggerutu karna wanita dewasa yang baru saja membuat moodnya buruk.
Dary menatap Ara yang terus memasukan kue ke dalam mulutnya. Ada perasaan senang saat melihat Ara yang menenggak wine kedalam mulutnya. Tapi lagi lagi Dary menggelengkan kepalanya ragu dan takut Queensa akan membencinya.
Tak lama kemudian Ara menggelengkan kepalanya dan pandangannya terasa mengabur.
“Kau baik baik saja.” Tanya Dary pada Ara. Sementara Ara menoleh ke arah Dary dan tersenyum tipis.
“Kak kau terlihat aneh.” Kekeh Ara menepuk dada Dary sedikit keras. Dan Dary menatap wajah cantik Queensa tanpa berkedip.
__ADS_1
Sementara di luar Elard memarkirkan mobilnya asal, dia turun dan menutup pintu mobilnya kencang. Melangkah lebar masuk ke dalam gedung hotel tertinggi di Las Vegas.
“Tuan.”
Elard masuk begitu saja tanpa melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu. Sementara kedua penjaga masih menundukkan kepalanya meski Elard sudah melewatinya.
“Periksa semua kamar.” Titah Elard pada beberapa bawahannya yang berdiri di depannya. Sementara tak jauh darinya seorang pria yang menjadi kepercayaan menunduk takut melihat pemilik gedung hotel di mana dirinya berdiri saat ini.
“Dimana Queensa Arabelle.” Tanyanya dengan gigi gemerutuk menahan emosi serta tangannya yang terkepal erat.
“Tuan kami tak menerima tamu bernama no_”
Bug.
Brak...
Tubuh sang manajer menghantam tembok lalu jatuh mengenai vas gucci di sudut ruangan.
Click.
“Tuan.” Sang maneger shock bukan main melihat senjata api mengarah padanya. Tak lama kemudian salah seorang karyawan nya berlari menghampiri mereka berdua.
“Tuan nona Queensa ada di dalam pesta.” Elard langsung berbalik dan melangkah lebar saat mendengar penuturan salah satu bawahannya. Menyembunyikan senjata miliknya di punggung lebarnya.
Elard menerobos masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ara.
“Tuan Lion anda datang.” Sapa Dion melihat Elard yang baru saja datang. Sementara Elard tak menyahut sapaan rekan bisnisnya. Dia terus melangkah lebar menerobos kerumunan orang. Mata tajamnya mengedarkan pandangannya ke sembarang arah mencari keberadaan Ara.
Sementara Doni mengerutkan keningnya melihat Lionel terlihat aneh dan celingukan.
“Apa dia mencari istrinya.” Menggelengkan kepalanya dan kemudian kembali berkumpul bersama rekan bisnisnya yang lain.
__ADS_1
“Airin,”
Airin menoleh ke samping saat mendengar namanya di panggil. Tapi tak lama Airin kembali membuang kembali wajahnya saat melihat siapa yang sudah memanggilnya.
“Aku memanggil mu dari tadi.” Ucap Robert setelah berdiri di depan Airin.
“Ada apa paman.” Sahut Airin tanpa minat.
“Ada teman paman yang kebetulan datang malam ini. Paman ingin memperkenalkan mu padanya.” Ucap Robert kembali menoleh ke belakang dan tersenyum melihat temannya mendekatinya.
Dan Airin mengeratkan giginya emosi mendengar penuturan Robert. Dia menoleh pada Robert dengan mata yang menyalak tajam. Tapi tak lama kemudian, Airin kaget bercampur senang.
“Lion.” Gumam Airin melihat siapa yang berdiri tak jauh darinya dan mengedarkan pandangan. Airin tersenyum lebar, suaminya pasti mencarinya.
Airin melangkah mendekati Elard dengan senyum lebar di bibirnya. Dia tak percaya jika malam ini Elard akan menyusulnya. Biasanya Elard tak pernah melakukan itu.
“Airin mau kemana.?” Tanya sahabat nya melihat Airin.
“Suamiku.” Sahut Airin menunjuk ke arah Elard yang sedikit jauh darinya, lalu tersenyum pada teman temannya yang di balas dengan senyum pula pada Airin. Ada juga yang mendengus melihatnya.
Dan Airin tak perduli, dia melangkah mendekati Elard yang berdiri tak jauh darinya.
“Kak, kau mau membawa ku kemana.?” Gumam Ara berjalan sempoyongan di pelukan Dary.
Ya Dary membawa Queensa keluar dari pesta. Setelah menyadari jika Queensa mabuk. Padahal dia pikir hanya sedikit alkohol yang di minum Queensa. Tapi dia sudah meracau sedari tadi.
Dary menghentikan langkah nya di depan mobil miliknya. Dia menatap bibir Queensa yang terus bergumam. Entah apa yang Dary pikirkan saat ini, dia justru menundukkan wajahnya, mendekatkannya pada Ara. Sejak tadi, bibir Queensa benar benar menggoda nya. Tidak bukan sejak tadi, tapi sejak pertama kalinya dia melihat Queensa. Gadis ini sudah menarik perhatiannya lebih dulu.
Dary yang sering bergonta-ganti wanita hampir di setiap malamnya, kini tak lagi seperti dulu. Semenjak Queensa datang, Dary sama sekali belum pernah bercinta dengan wanita lainnya lagi.
“Kak aku pusing.” Dary kembali menjauhkan wajahnya Dary bibir Ara saat mendengar gumaman Queensa di telinganya.
__ADS_1
Bruk..