
“Om mau,” tawar Ara menyodorkan sendok eskrim pada Elard. Dan Elard hanya menggelengkan kepalanya. Saat ini mereka berdua berada di dalam restauran mewah di pusat kota.
Elard sengaja mengajak Ara datang kemari agar Ara melupakan kejadian sebelumnya. Bibirnya tersenyum saat tatapan matanya melihat leher Ara yang terdapat tanda kepemilikannya.
“Sayang pelan pelan makannya.” Elard mengusap bibir Ara yang terkena eskrim dengan jari jempolnya. Matanya masih terlihat bengkak dan hidungnya masih terlihat merah.
Ara yang mulai terbiasa dengan perlakuan Elard membiarkannya begitu saja. Hingga lima menit kemudian Ara benar-benar menghabiskan eskrim miliknya.
“Lagi.” Ara menggelengkan kepalanya. Dan Elard mengajaknya berdiri dan pergi meninggalkan restauran dengan mobil limousine miliknya.
Di lain tempat Airin yang baru melihat foto yang baru di kirimkan mengerutkan keningnya. Tapi tak lama Airin kembali menggeser layar ponsel miliknya saat menyadari siapa wanita yang bersama suaminya.
“Gadis itu.” Gumamnya mengingat siapa dia dan ternyata benar gadis yang berada di dalam pesta empat hati yang lalu. “Siapa ddia?” imbuhnya lagi dan masih mengamati foto di layar ponsel miliknya.
“Om mau mengajakku kemana.?” Tanya Ara bingung melihat mobil yang di kendarai Elard turun di sebuah gedung yang sangat tinggi.
“Di perusahaan om sayang.” Sahut Elard membuka pintu mobilnya lalu membuka pintu mobil di samping dan meminta Ara turun dari mobil. Ya Elard mengajak Ara ke perusahaan miliknya. Apalagi setelah kejadian seperti ini, Elard tak ingin membuat kesalahan lagi.
Ara mengedarkan pandangan nya melihat para karyawan yang menundukkan kepalanya padanya. Dia melirik ke arah Elard yang berjalan di sampingnya.
Apa mereka menunduk pada Elard, pria suruhan daddynya. Hingga sampai di dalam sebuah ruangan CEO Ara masih menutup bibirnya.
“Sayang tunggu di sini oke, om mau pergi sebentar.” Titah Elard setelah masuk ke dalam ruangannya. Ara menoleh dan mengerutkan keningnya mendengar penuturan Elard.
“Om mau kemana.?” Tanya Ara melihat Elard yang terburu-buru mengambil sesuatu dari meja.
“Om ada meeting sayang, tunggu sebentar saja.”
Cup.
Tak lama Elard keluar lagi dari ruangan CEO miliknya dan melangkah lebar menuju ruang meeting. Ya siang ini Elard ada meeting bersama rekan bisnisnya. Elard tak bisa membawa Ara bersamanya masuk ke ruangan meeting. Itu sebabnya Elard meninggalkan Ara di ruangan CEO miliknya.
Ara mendudukkan bokongnya di kursi kebesaran Elard. Matanya berkeliling dan tersenyum, saat mengingat daddy nya.
“Apa daddy merindukan ku.” Ara mencebikkan bibirnya mengingat dia menyimpan kartu miliknya di menggantinya. Ayah dan ibunya pasti merindukannya.
Clek..
__ADS_1
Ara mendongak mendengar pintu yang terbuka kembali. Dahinya mengkerut melihat siapa yang datang. Begitu juga dengan Robert, dia menatap gadis belia yang duduk di atas kursi kebesaran Elard.
“Siapa kamu, dimana Lion.?’
Ara diam mendengar pertanyaan pria paruh baya yang menatap kearahnya. Dan Robert menatap intens gadis cantik yang masih belia di atas kursi kebesaran Elard. Dia seperti mirip seseorang, tapi dia lupa.
Robert masih mengamati Ara, kali ini Ara menundukkan kepalanya takut. Apalagi melihat tatapan Robert padanya.
“Luis, kau putri Luis.” Bentak Robert dan Ara berjengit mendengarnya.
Brak..
“Keluar.” Seru Elard dari belakang. Ya Elard langsung kembali ke ruangan miliknya saat mendengar Robert datang ke perusahaan miliknya.
“Lion, apa dia putri Luis.?” Tanya Robert sedikit menaikkan nada tingginya pada Elard. Ara menundukkan kepalanya, dia tak tau siapa pria di depannya ini. Tapi dia mengenal ayahnya.
“Sudah kukatakan keluar dari sini.” Geram Elard mengeratkan giginya emosi mendengarnya.
“Katakan padaku Lion, apa dia putri Luis. Jadi selama ini kau bersama dengan putri pria yang membunu_”
Sett..
Ara semakin menundukkan kepalanya melihat pertengkaran mereka berdua. Tubuhnya bergetar ketakutan lagi. Entah apa yang terjadi hari ini. Apa mereka tak menyukainya. Sebelumnya, seseorang ingin membunuhnya dan sekarang seseorang kembali lagi membentak nya. Ara tau pria itu tak menyukainya.
Tak lama Robert tersenyum lebar saat otaknya kembali berfungsi. “Apa kau akan membalas Luis melalui putrinya Lion.”
Elard melepaskan cengkraman tangannya dari leher Robert mendengar pertanyaan Robert. Dan Robert salah mengartikan semua yang Elard lakukan. Dia mengira jika apa yang di ucapkan keponakan nya adalah benar.
“Ya paman akan pergi.”
Elard tak perduli dengan apa yang di pikirkan Robert tentangnya. Dia melangkah mendekati Ara dan mengangkat Ara ke dalam gendongannya lalu dia yang mendudukkan bokongnya di kursi kebesaran nya bersama Ara di pangkuannya.
“Jangan perdulikan dia.” Bisik Elard di telinga Ara. Elard bahkan tak perduli jika meeting nya kembali gagal siang ini. Ara lebih penting dari semua itu.
Ara mendongak menatap mata Elard yang menatapnya. “Dia tak menyukai Ara.” Sahut Ara menatap Elard.
Cup..
__ADS_1
Elard kembali melabuhkan bibirnya di bibir Ara. Sejak tadi bibir Ara terus menggodanya hingga dia tak bisa berkonsentrasi apapun. Elard menyesap rakus bibir Ara atas dan bawah. Tangan besarnya menyusup kebelakang dan menekan tengkuk Ara lalu memperdalam ciumannya.
Ara yang tak tau Elard akan menciumnya, memukul dada bidang Elard dengan kedua tangannya.
“Om..” teriak Ara kembang kempis, dan dadanya naik turun menahan sesak di dadanya. Elard menarik kepala Ara masuk ke dalam pelukannya. Sungguh dia tak bisa menahan nya lebih lama lagi.
Jantungnya berdetak lebih kencang mencoba mengontrol hasrat birahi nya yang melambung.
“Om ini apa.?” Tanya Ara saat sadar dirinya menduduki sesuatu. Elard meringis dan mendesis saat Ara justru menggoyangkan bokongnya pada pangkal paha nya.
“Sayang jangan bergerak.”
*
Keesokan harinya.
Airin yang bangun dari tidurnya menggeliat kan tubuhnya yang lelah dan terasa remuk. Semalam dia mabuk berat, setelah mengetahui foto Elard bersama dengan gadis belia yang bersamanya.
Entah siapa gadis itu, Airin sendiri tak tau siapa dia. Dan kenapa bersama dengan suaminya. Tapi yang jelas gadis itu bukan kekasih atau selingkuhan Elard.
Ya mana mungkin Elard akan berselingkuh dari gadis yang masih belia. Apalagi gadis itu sama sekali tak terlihat menarik di mata semua orang.
Airin mengedarkan pandangannya dan dia kaget saat menyadari sebuah tangan kembali memeluknya. Airin menoleh ke balakang dan dia shock melihat wajah Robert tepat di belakangnya.
Airin membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan tak lama kemudian dia mengeratkan giginya emosi melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
“Sudah bangun.”
Airin semakin mengeratkan giginya emosi mendengar pertanyaan dari Robert. Dia bangkit dari ranjang miliknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Mengutuk dirinya sendiri yang bodoh dan harus bercinta dengan Robert.
Robert tersenyum melihat tubuh polos Airin masuk ke dalam kamar mandi. Ya semalam dia kembali bercinta dengan Airin. Robert memanfaatkan Airin yang mabuk semalam dan kembali mengulang percintaan mereka untuk yang kedua kalinya. Robert yakin jika kali ini Elard tak akan kembali pulang. Elard tau apa yang di lakukan Elard saat ini.
Ya Robert menganggap Elard tak pernah kembali pulang karna sedang merencanakan sesuatu. Apalagi jika bukan membalaskan dendamnya pada Luis melalui putrinya. Padahal apa yang di pikirkan Robert justru sebaliknya.
Sementara di dalam kamar mandi.
“Lion sampai kapan kau mau menyentuh ku.” Airin menangis di dalam kamar mandi. Ya Airin menganggap semua ini karna Elard yang tak pernah menyentuhnya. Hingga dia menerima begitu saja sentuhan Robert di tubuhnya. Andai Elard tak pernah mengabaikannya. Dia tak akan mabuk dan pastinya tak akan bercinta dengan Robert.
__ADS_1
“Siapa dia Lion.?”