
Bruk..
Ara terhuyung kebelakang saat dirinya menabrak seseorang. Tubuhnya hampir saja jatuh ke belakang jika pria didepan nya tak memegang pinggang nya.
Rain yang baru keluar dari restauran kaget saat tubuhnya menabrak seseorang. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang wanita yang di tabraknya. Pandangan mereka bertemu satu sama lain, dan Ara memutuskan pandangannya terlebih dahulu. Dia menyingkirkan tangan pria yang di tabraknya.
“Maaf tuan.” Ara menundukkan kepalanya lalu kemudian berlalu dari hadapan Rain.
Sementara Rain terkesiap melihat wanita yang di tabraknya pergi. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum miring. Tangannya mengusap bibirnya dengan pandangan matanya menatap punggung Ara.
“Aku akan mendapatkan mu nona.”
Sementara Ara, dia tak perduli dengan pria yang baru saja bertabrakan dengan nya. Dia tau siapa pria itu, dia adalah saudara Elard. Tentu saja Ara tau itu, dia sudah mencari tau terlebih dahulu semua anggota Elard. Dan ya dia juga tau jika Elard sudah bercerai dari Airin. Tapi dia tak tau jika mereka berdua memiliki seorang putra.
Ada perasaan tak nyaman saat mengetahui semua itu. Dan Ara sendiri juga tak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa dia seperti tak rela jika Elard memiliki seorang anak. Bukankah itu bukan urusannya, lalu kenapa hatinya seperti marah.
“Apa ini yang di namakan cemburu.” Keluh Ara mendudukkan bokongnya di salah satu kursi di ujung kanan. Lagi lagi dia mengeluh kan hatinya yang tak nyaman, mengetahui semua itu.
“Tapi aku tidak mencintainya kan.” Lirihnya menyangkal semua yang di rasakan nya. Karna pada dasarnya dia tak tau seperti apa cinta itu. Apa cinta itu seperti ini, marah tanpa sebab dan sakit tanpa tau dimana lukanya.
Ara mendengus dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Menjadi model di salah satu perusahaan Elard memang sudah di rencanakan nya. Sementara hatinya yang seperti ini sama sekali tak dia rencanakan. Ara sendiri tak tau kenapa dengannya saat bertemu dengan Elard tadi. Jantungnya berdebar tak karuan, dan gugup bukan main. Beruntungnya dia bisa menguasai dirinya. Dia tak ingin menjadi bodoh di depan Elard.
Yah pertemuan mereka di Indonesia sungguh membuatnya seperti ini. Elard seperti membawa penyakit untuknya. Selain jantungnya yang berdebar hatinya juga tak nyaman mendengar dia memiliki anak bersama istrinya.
“Apa dia akan kembali bersama istrinya,” lirihnya lagi. Tak lama kemudian Ara berdecak sebal. Kenapa dia harus jadi bodoh memikirkan nya.
*
“Tinggal di mana dia.”
__ADS_1
“Di apartemen nona yang dulu tuan.” Elard menganggukan kepalanya mendengar penuturan Jefri. Dia kembali lagi membuka berkas di depannya. Berkas perjanjian Ara dengan perusahaan nya.
Elard menipiskan bibirnya mengingat pertemuannya tadi. Sampai saat ini jantungnya masih berdebar kencang. Dan dia yakin semua itu karna Ara. Gadis yang di cintainya, ternyata sudah dewasa saat ini. Tutur katanya, semua yang menempel di tubuhnya dan gerakan tubuhnya sangat mencerminkan bahwa dia wanita berpendidikan dan berkelas. Elard tak pernah menyangka, satu bulan dia mencarinya dan sering bolak balik ke mension Luis, Ara justru datang sendiri padanya. Terlebih dia akan menjadi model produk terbarunya nanti.
Bukankah ini sebuah kejutan, dia tak menyangka Ara akan datang padanya dan akan menjadi rekan bisnisnya. Elard sudah tak sabar menunggu momen dimana Ara akan berpose di depan kamera, dia pasti sangat cantik.
Di Indonesia Ara memang sering kali di tawari menjadi model. Selain wajahnya yang sangat cantik, blasteran Amerika Indonesia, Ara juga sangat pintar. Itu sebabnya mereka kerap kali menawari nya, tapi Ara lah yang menolaknya.
Ingin kembali merayu Ara dan tinggal bersama nya. Tapi dia yakin jika dia pasti akan marah dan langsung menolaknya. Dan dia juga pasti akan marah jika dia kembali mengikutinya. Terlebih kali ini dia jauh lebih dewasa dari yang dia pikirkan. Tentu saja Ara justru akan membencinya.
“kirim mereka untuk menjaganya. Tapi jangan pernah membuatnya curiga, apalagi menunjukan wajahnya.” Titah Elard, hanya ini yang bisa Elard lakukan untuk Ara. Saat ini dia tak bisa mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Elard takut nantinya Ara justru akan semakin menjauhi nya.
“Ya tuan.” Sahut Jefri menundukkan kepalanya dan pamit undur diri.
*
“Bagaimana, apa kau berhasil.?”
“Brengsek.” Umpat Robert menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Sementara Airin yang berada di dalam kamarnya mengambil ponsel miliknya dan menelpon seseorang. Dia tak bisa membiarkan gadis itu kembali lagi merebut Elard darinya. Sebelum dia benar benar mendekati Elard lagi, dia akan menyingkirkannya terlebih dahulu.
“Ya bunuh dia, aku tak ingin dia merebut Lion diriku.” Teriak Airin mematikan sambungan telponnya dan membuangnya ponselnya ke sembarangan arah. Airin benar-benar marah saat ini. Tiga tahun lalu dirinya hamil dan berita tentang perselingkuhan nya juga sedang panas di media dan publik. Setahun kemudian dia sakit setelah melahirkan dan sekarang dia ingin mendapatkan Elard kembali, tapi lagi lagi gadis yang sudah menghancurkannya kembali juga.
“Apa aku harus membunuhmu terlebih dahulu Robin Roberto. Semua ini karena kau, aku hamil brengsek.”
*
Elard tersenyum melihat ponsel miliknya. Dimana beberapa poto Ara yang berada di dalam salah satu pusat perbelanjaan. Ya orang miliknya lah yang sudah mengirimkannya pada Elard. Elard sendiri saat ini berada di dalam mobil.
__ADS_1
“Dia sangat cantik.” Gumamnya mengusap wajah Ara di layar ponselnya.
Brakk....
“Shit...” Elard mengumpat seseorang yang menabrak mobilnya dari samping. Kejadiannya begitu sangat cepat, beruntungnya Jefri bisa mengendalikan mobilnya dengan baik, jika tidak mobil yang di kendarai Jefri pasti nya akan terbalik. Tapi sayangnya mobil yang di kendarai Jefri malang melintang di tengah jalan.
Elard menggeram tertahan saat melihat dua mobil yang berlawanan arah mengarah padanya.
“Maaf tuan.” Ucap Jefri menginjak pedal gasnya dan meluncur bertepatan dengan mobil yang siap menghantam mobilnya.
Brakk..
Pyarrrr...
Elard menoleh ke belakang dan melepaskan peluru panas di tangannya.
Trak..
Duar...
Dua mobil saling bertabrakan keras lalu kemudian meledak saat Elard melepaskan satu pelurunya ke arahnya. Tentu saja kedua mobil itu hancur, juga meledak bersamaan dan menimbulkan dentuman yang sangat keras. Percikan api juga juga sangat tinggi.
Jefri menginjak pedal remnya, dia menoleh ke belakang dan melihat tangan tuannya terluka. “Tuan anda baik baik saja.” Tanyannya sedikit khawatir melihat darah yang merembes di kemeja lengan tuannya.
“Perketat penjagaan untuk Ara.” Sahut Elard, dia justru memerintahkan Jefri untuk menambah beberapa bawahannya untuk menjaga Ara. Dia sama sekali tak perduli dengan lukanya sendiri.
“Iya tuan, luka anda.” Jawab Elard masih terlihat khawatir melihat darah yang keluar dari lengan tuannya yang sedikit banyak.
“Kita pulang.”
__ADS_1