
“Kali ini aku benar-benar menyingkirkan mu Lion.”
Jlebb..
“Tak semudah itu membunuh ku Rain.” Desis Elard mencekal tangan Rain yang memegang pisau tajam di tangannya. Rain sendiri kaget dan melebarkan matanya tak percaya melihat Elard membuka matanya.
“Kau... “
Elard tersenyum miring dan menendang Rain hingga terpental jauh dan menabrak meja di pojok ruangan. Kemudian secepat kilat dia menyambar handuk di sampingnya lalu melingkarkannya di pinggangnya.
Brakk.
Elard menoleh Ara yang masih bergelung di dalam selimut. Semoga saja Ara tak bangun dari tidurnya. Apalagi harus menendang selimut yang menutupi tubuhnya.
Tentu saja Elard dan Ara masih dalam keadaan polos saat ini. Lelah bercinta dan terlalu nyenyak tidur bersama Ara membuat dia tak fokus dan tak tau sama sekali jika beberapa orang masuk ke dalam kamarnya. Beruntungnya dia menyadari nya tepat waktu.
“Shit..” mulai Rain saat tubuhnya menghantam meja. Dia mendongak dan tersenyum miring saat melihat beberapa orang kepercayaan Liam masuk ke dalam. Rain bangkit dari lantai dan mengumpat dalam hati.
Elard melirik Ara yang tidur, dia harap Ara tak bangun dan tetap tidur nyenyak seperti ini.
“Waow kau sungguh hebat sangat hebat Lion. Kau pintar menyembunyikan semua ini rupanya. Siapa gadis yang sedang tidur itu hmm, apa dia lebih cantik dari Airin.” Ucap Rain menatap wanita yang masih tidur nyenyak di atas ranjang dan tertutup selimut.
Brukk
Rain lagi lagi terhuyung kebelakang saat sebuah patung kecil melayang dan mendarat di wajahnya. “Itu hadiah untuk mu karna kau lancang menatap nya.” Desis Elard Mengayunkan kakinya pada beberapa pria di depannya.
Terang saja mereka juga sama bernasib sama seperti Rain yang terpental. “Bodoh habisi dia brengsek.” Teriak Rain.
Dalam sekejap perkelahian pun tak terelakkan, Elard merebut dan menendang mereka yang mengeluarkan senjata apinya dan mengarah padanya. Sesekali dia melirik ke arah ranjang.
Jlebb..
__ADS_1
Elard melemparkan pisau yang dia rebut dari tangan Rain saat salah seorang mencoba mendekati Ara. Dia lalu menggulingkan tubuhnya dan menyeret pria itu dan menendangnya jauh dari Ara.
Elard kembali lagi menggulingkan tubuhnya ke kiri saat seseorang ingin menarik selimut Ara. Elard berang bukan main melihat mereka lancang masuk ke kamarnya. Dia tak tau siapa mereka. Tapi mereka jelas orang pilihan. Di tambah lagi beberapa dari mereka datang dari arah balkon.
“Lion menyerahlah padaku, berikan berkas itu dan aku akan pergi dari sini.” Ucap Rain tersenyum miring melihat Elard ketakutan saat salah satu dari mereka ingin menarik selimut. “Apa kau menyembunyikan tubuh sintalnya Lion. Bagaimana jika aku juga mencici_”
Bug...
Elard menendang mulut Rain sebelum dia menyelesaikan ucapannya. “Aku tak akan membiarkan mulut kotor seperti mu menjelekkan istriku.” Desis Elard kemudian menyerang mereka lagi.
Bug..
Ara yang merasakan nyeri di tubuhnya mengerjapkan matanya. Dia menautkan kedua alisnya saat mendengar suara benda hancur. Ara membuka lebar matanya dan mendudukkan bokongnya saat dia mendengar suara berkelahi.
Elard menoleh dan melebarkan matanya melihat Ara yang terbangun dan duduk di ranjang. Bukan itu yang Elard kagetkan, tapi selimut yang menutupi tubuh Ara melorot ke bawah. Tanpa pikir panjang Elard berlari dan menarik selimut Ara lagi sampai ke atas. Sementara kakinya menendang salah satu pria yang mencoba menyerangnya.
“Ada apa.?” Tanya Ara kaget saat menyadarinya. Dia mengedarkan pandangannya dan kaget melihat kamar Elard berantakan. Pandangan Ara tertuju pada beberapa pria yang, tapi Elard lebih dulu menghalanginya.
“Tidak ada sayang.” Sahut Elard mengecup bibir Ara sekilas. Dia lalu berbalik dan mendapati Rain mengarahkan senjata apinya padanya.
Sementara tiga pria yang tersisa tersenyum miring melihat Rain menodongkan senjata apinya padanya. Dua pria lainnya bersimbah darah dan Elard menendang nya keluar dari apartemen. Tubuh. Mereka pasti hancur berkeping-keping saat jatuh dari sini.
“Elard, aku tau siapa wanita itu kali ini.” Rain tersenyum tipis melihat Ara. Dia sangat cantik seperti bidadari. Pantas saja Elard memilih gadis muda ini dari pada Airin. Ternyata gadis itu sangat cantik, gadis yang ingin dia bunuh untuk Airin.
Mengingat Airin, dia kembali lagi berdecih. Kenapa Elard selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Begitu juga dengan gadis yang menutup tubuhnya dengan selimut tebal di tubuhnya.
“Nona, aku juga bisa memberimu apapun yang kau mau. Jadilah milikku.” Ucap Rain tersenyum pada Ara.
Sementara Elard mengeraskan rahangnya, tapi tidak dengan Ara yang justru tersenyum miring mendengarnya. Dia mengeluarkan sebelah kakinya keluar dari selimut. Terang saja kaki jenjang putih bak porselen terlihat nyata di mata Rain karna Ara tak hanya mengeluarkan kakinya yang jenjang. Tapi dia juga menarik sedikit selimut yang menutupi kaki jenjangnya, hingga sampai paha.
Elard yang melihat kaki Ara memejamkan matanya sebentar. Dia melirik Ara dengan ekor matanya. Apa maksud Ara mengeluarkan kakinya dan memamerkan nya pada Rain.
__ADS_1
“Kau menginginkan nya,” ucap Ara melebarkan bibir nya, sementara Elard menoleh dan semakin tak percaya mendengarnya. Apa dia tak salah dengar. Ara baru saja mengatakan hal yang di luar dugaan nya.
“Ara, apa_”
Click...
“Tutup mulut mu Lion. Bukankah kita saudara, aku juga sudah merasakan tubuh mantan istrimu, jadi apa salahnya jika aku juga mendapatkan nya. Bukankah berbagi itu sangat menyenangkan Lion.” Ucap Rain membungkuk kan tubuhnya pada Ara, sementara tangannya tetap menodongkan senjata api di tangannya.
Wajah Lion merah padam mendengarnya. Tangannya terkepal erat emosi bukan main. “Dalam mimpimu Lion.” Desis Elard gemerutuk menahan emosi yang memuncak.
Bug..
Lion mengangkat sebelah alisnya saat melihat Rain terjengkang lebih dulu sebelum dia menendangannya. Siapa lagi jika bukan kaki jenjang istrinya yang menendangnya.
Secepat kilat Elard kembali menyerang Rain dan tiga pria yang tak jauh darinya. Sementara salah satu pria menghampiri Ara yang masih bergelung di atas selimut dengan senjata di tangannya.
“Kali ini aku juga bisa membunuh mu nona.” Serunya tersenyum miring. “Coba saja.” Balas Ara menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu menggulingkan tubuhnya ke bawah, tangannya ikut menarik sprei lalu melingkar kan nya ke tubuh kecilnya setidaknya kain srpei lebih tipis dari pada selimut dan dia bisa sedikit bergerak.
Elard menoleh dan kaget melihat Ara yang tak ada lagi di ranjangnya. Tanpa pikir panjang Elard menendang Rain hingga tubuhnya terpental menabrak jendela balkon.
Pyarr..
Bug..
Rain mendelik saat sebuah lutut menekan lehernya. “Aku tak akan meminta maaf kali ini Rain.” Desis Elard semakin menekannya. Dan dalam hitungan detik, tubuh Rain menegang lalu kemudian kaku di atas lantai.
Elard masuk kembali ke dalam secepat kilat, baru dua langkah dia kaget mendengar bunyi tembakan dan tubuh seorang pria tergeletak tak jauh darinya.
Dor.
Bruk...
__ADS_1