Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.38# Mengincar nya


__ADS_3

“Ya ikuti suamiku, aq akan membayarmu lebih dari ini.” Kata Airin menyodorkan amplop cukup tebal pada pria yang duduk di depannya. Ya pagi ini Airin mencari seorang untuk mengikuti Elard. Airin tak mau tinggal diam lagi, kali ini dia tak ingin Elard menjauh darinya, gara-gara wanita lain.


Elard adalah suaminya, cinta dan tidak cinta Elard tetap suaminya. Airin akan mendapatkan Elard apapun caranya. Ya dia tahun dia menunggu Elard mencintai nya dan sekarang Airin ingin mengambil haknya.


“Oke, apapun untukmu nyonya.” Sahut pria yang duduk di depan Airin dengan senyum misteri nya.


Airin bangkit dari duduk nya dan berbalik pergi meninggalkan pria itu. Ya Airin tak perlu berbasa-basi, cukup membayar seseorang untuk mengetahui keinginannya.


Dari dulu Airin memang tak pernah ingin melakukannya. Dia pikir dia bisa mencuri hati Elard dengan cara yang halus. Tapi dia tahun ini, Elard tetap saja tak mau menoleh ke arahnya. Apalagi belakangan ini suaminya semakin jarang pulang ke mension.


Apalagi kemarin malam Elard datang ke pesta dan bukan mencarinya. Kecurigaan Airin semakin bertambah pada Elard.


“Lion jangan salahkan aku jika aku akan membunuhnya nanti. Kau yang sudah mengabaikan ku dan berselingkuh dariku.” Gumam Airin mengepalkan tangannya. Dia sungguh tak akan membiarkan siapa saja merebut suaminya darinya.


Kebencian Airin terhadap wanita yang di sembunyikan Elard semakin menjadi. Padahal Airin sama sekali tak tau siapa wanita itu.


“Aku yakin dia tak secantik aku kan Lion, wanita itu yang sudah membuatmu tersesat. Aku akan menyingkirkannya, dan menjadikan mu milik ku seutuhnya Lion.”


*


“Nyonya membayar seseorang untuk mengikuti anda tuan.” Papar Jefri pada Elard sang tuan yang duduk di kursi kebesarannya.


Ya Elard sudah tau, gerak gerik Airin lebih dulu. Sejak pertama kali menikah dengan Airin Elard sudah tau siapa Airin. Ya Elard tau semua yang Airin lakukan bersama dengan pria di luar sana. Itu sebabnya Elard tak pernah perduli dengannya. Apalagi untuk menerima Airin sebagai istrinya, Elard tak pernah berniat melakukan nya.


“Bagaimana dengan berkasnya.” Tanya Elard menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Beberapa hari lagi tuan.” Sahut Jefri menundukkan kepalanya. Elard hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari Jefri.


“Jam berapa meeting nya.?”


“sepuluh menit lagi tuan.” Sahut Jefri menundukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Jefri, Elard merogoh ponsel di saku celananya dan menghubungi Ara yang berada di kampusnya saat ini.


Ya pagi ini dia tak bisa datang ke kampus bersama dengan Ara. Banyak pekerjaan menunggunya, setelah beberapa hari dia mengabaikannya. Sayangnya, Ara tak mengangkat sambungan ponsel miliknya.


“Apa dia masih marah.” Gumam Elard tersenyum lebar. Ya sejak kemarin Ara marah padanya karna bekas ****** di leher dan dadanya yang dia kira semut yang menggigit nya.


“Bukankah dia sangat lucu, Jef.” Tanyanya terkekeh mengigat kemarin Ara kekeh ingin pindah ke apartemen miliknya karna semut di apartemen miliknya.


Pagi tadi dia masih melipat wajahnya saat ingin berangkat ke kampus. Gadis kecilnya masih marah padanya ternyata.


“Iya tuan,”

__ADS_1


Elard menoleh ke arah Jefri dan melotot kan matanya mendengar jawaban Jefri. Sementara Jefri yang tak tau menahu hanya menundukkan kepalanya tak mengerti dengan tatapan mata tuannya.


“Keluar.”


*


Sementara Ara melangkah terburu buru menghindari pertanyaan Emma. Ya sejak tadi Emma bertanya kenapa dia memakai syal di lehernya.


“Queensa.” Seru Emma memanggil Queensa. Jelas saja banyak yang ingin dia tanyakan pada sahabat nya. Tentang kemana dia waktu di pesta dan kenapa dia tak masuk kuliah kemarin. Lalu tiba-tiba saja Queensa datang dengan pakaian aneh menurutnya.


Sejak tadi di kelas Queensa diam saja tak menjawab pertanyaan nya. Dan sekarang dia masih bungkam dan hanya mengatakan dia masuk ke dalam pesta. Lalu setelah itu dia lupa. Dan Emma tak percaya begitu saja.


Ara masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang lalu melambaikan tangannya pada Emma yang menatap dirinya cemberut. Ara terkekeh melihat bibir Emma.


Ya Elard tak mengijinkan Ara membawa mobil sendiri, Elard sudah mencarikan supir pribadi untuk Ara.


Ya dan mungkin mulai malam ini dan seterusnya dia tak akan membiarkan Ara menyetir mobil nya sendiri.


Cit..


“Apa ban mobilnya bocor paman.” Tanya Ara saat mobil yang di tumpangi nya berhenti di tengah jalan.


“Tidak nona.”


Brak..


Akrr.


Ara berteriak kencang mendengar kaca mobil yang di pukul oleh seseorang. Tubuhnya menggigil ketakutan, memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya sendiri dengan kedua tangannya.


“Tuan nona.” Kata Jefri yang baru melihat ponsel miliknya


Elard bangku dari duduknya dan berlarian keluar dari perusahaan miliknya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdetak tak karuan membayangkan Ara yang ketakutan dan pastinya menangis.


Elard melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju dimana mobilnya berada. Ya semua mobil miliknya sudah terpasang fitur lebih canggih lagi.


“Daddy tolong Ara.”isaknya bersembunyi di belakang jok mobil Elard. Tangannya menutupi kedua telinganya dan matanya terpejam.


Sementara Elard menginjak pedal gas mobilnya menabrak salah satu dari mereka hingga tubuhnya menghantam sebuah pohon yang cukup besar.


Mereka kaget melihat salah satu rekannya  tergeletak seketika. Mereka menoleh ke arah pria yang baru turun dari mobilnya.


“Tuan.” Mereka shock melihat siapa pria yang turun dari mobilnya. Sementara Elard menatap mereka dengan kilat kemarahan yang luar biasa. Elard tau siapa mereka.

__ADS_1


“Beraninya brengsek.”


Bug..


Elard menghajar mereka membabi buta. Elard bahkan tak segan membunuh mereka dengan kedua tangannya. Mengingat Ara yang berada di dalam mobil dan pasti dia sangat ketakutan.


“Tu_an.”


“Katakan padanya jangan berani mengusiknya atau menyentuhnya sedikitpun.” Geram Elard mengeraskan rahangnya.


Agrr..


Elard mematahkan tangan kanannya lalu kemudian menendangnya hingga terjerembab menghantam pembatas jalan. Elard lalu berbalik dan membuka pintu belakang.


“Sayang.” Lirih Elard mengulurkan tangannya dan seketika Ara menjerit ketakutan.


“Sayang ini om.” Ara mendongak dan menubruk Elard. Tangisnya pecah di pelukan Elard dan menyembunyikan wajahnya di dada lebarnya.


Elard memeluk erat tubuh kecil di pelukannya. Rahangnya mengeras merasakan tubuh Ara yang gemetar ketakutan.


“Awas kau Preston” Geramnya mengeratkan giginya emosi.


 Preston mantan rekan bisnisnya yang menginginkan berkas ditangannya saat mereka bekerja sama. Anggota rekan bisnis yang terbentuk lima orang anggota termasuk Elard di dalamnya. Sejak saat itu Elard keluar dari keanggotaan karna dia sudah tau mereka hanya memanfaatkan nya.


*


Brakk..


Salah satu pria suruhannya menghantam sebuah meja kaca hingga hancur berkeping-keping. Siapa lagi jika bukan sang tuannya yang melakukan nya.


“Bodoh..” teriaknya kembali menghajar mereka satu persatu. Ya Preston tak menyangka jika Elard akan mengetahuinya. Mengetahui putra satu satunya terbaring di rumah sakit tentu saja membuat Preston marah dan emosi. Dan semua ini ternyata karna Elard, mantan tekan bisnisnya.


Preston tau kenapa Elard mencoba membunuh putranya dan semua itu karna wanita yang menjadi temannya. Siapa lagi jika bukan Queensa. Gara-gara gadis itu nyawa putranya hampir saja melayang.


Tapi saat ini bawahannya justru tertangkap oleh Elard. Terang saja Preston emosi bukan main. Ternyata mereka sangat bodoh. Preston tak percaya dengan semua ini. Bagaimana jika Lion mengenali mereka, apa yang akan Lion lakukan padanya.


“Brengsek.” Amuk nya lagi. Tapi tak lama Preston mengerutkan keningnya mengingat kenapa Lion sampai ingin membunuh putranya karna gadis belia itu.


“Apa dia keponakannya.”


Bawahan mereka memang tak tau menahu. Preston mengatakan pada mereka agar mengikuti gadis yang menjadi incaran tuannya. Mereka tak tau jika gadis itu ternyata di bawah pengawasan Elard.


 

__ADS_1


__ADS_2