Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 31# Mengancam Ara


__ADS_3

Prakk


Elard melemparkan ponsel di tangannya, emosinya kembali memuncak menahan emosi yang luar biasanya.


“Singkirkan dia.” Jefri menganggukan kepalanya mengerti. Dia keluar dari ruang CEO dan menelpon bawahannya dengan ponsel miliknya.


Elard berdiri dari kursi kebesaran nya dan keluar dari ruang miliknya. Melangkah lebar masuk ke dalam lift, dengan dada yang emosi luar biasa.


Elard mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju universitas miliknya. Tak sampai empat puluh lima menit Elard sudah memarkirkan mobilnya di parkiran kusus miliknya.


Elard melangkah lebar mencari keberadaan Ara, dia tak perduli banyak gadis yang menatap kearahnya dengan pandangan memujanya. Dia juga tak perduli dengan bisik bisik mereka. Dan bahkan Elard sama sekali tak perduli saat ada yang menggodanya langsung.


Baginya secantik apapun mereka tetap Arabelle gadis miliknya. Bukan wanita lain apalagi istrinya Airin.


“Tuan Lion.” Kaget salah satu wanita yang menjadi salah satu dosen di sini. Elard sama sekali tak melirik kearah wanita yang berpapasan dengannya. Dia melangkah lebar menuju gedung dimana Ara berada. Tak lama Elard menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Nona Clara,”


Clara yang mendengar suara bas dan berat Elard memanggil namanya segera berbalik menatap Elard yang menatap ke arah nya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat mata tajam dan wajah rupawan itu menatap ke arahnya.


Siapa yang tak terpesona dengan Lionel Elard Roberto. Semenjak dia menjadi pengajar di Universitas nya dia sudah jatuh cinta pada pemilik universitas ini.


 Tapi sayangnya, hatinya di patahkan saat mendengar pernikahan nya dua tahun lalu dengan seorang wanita yang paling cantik dan berprofesi sebagai model dan artis ternama di kota Las Vegas.


“Nona Clara.” Seru Elard kembali, mengangkat sebelah alisnya melihat wanita di depannya yang terlihat bodoh.


“I_ya tuan.” Sahut Clara menunduk dan gugup bukan main. Jantungnya semakin bergemuruh hebat dan seperti mau lepas dari tempatnya.


“Dimana Ara.?”


Ha..

__ADS_1


Clara mendongak kembali mendengar nama yang baru di sebutkan Lion. Ara, siapa dia.?


“Apa kau mendengar ku dimana Queensa.?” Desis Elard menatap tajam wanita yang berdiri tak jauh darinya. Sementara Clara kaget mendengar nada tak bersahabat Elard di telinganya.


“Queensa, dia ada kalas tuan.” Ya Clara baru berpapasan dengan Ara yang berjalan menuju kelasnya. Lagi pula ada jam pelajaran lagi saat ini.


Elard berbalik kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada wanita yang bernama Clara. Dari mana Elard tau, tentu saja dari nama yang tertulis di bros miliknya. Elard tidak buta, dia bisa melihat dengan jelas dari jauh sekalipun.


Dan Clara menganggap dirinya cukup berarti untuk Elard, nyatanya dia mengenali namanya dan tau namanya.


“Apa dia juga menyimpan rasa seperti ku.” Gumam Clara tersenyum lebar.


Sementara Elard masuk begitu saja ke ruangan Ara dan langsung melangkah mendekati Ara yang duduk di kursi miliknya. Dosen dan para siswa kaget melihat kedatangan pemilik universitas ini termasuk Emma. Tapi sepertinya Ara belum menyadari jika Elard berjalan ke arahnya.


“Pulang.”


Ara kaget mendengar suara bas di telinganya. Dia mendongak dan matanya membulat melihat pria yang menjadi orang suruhan ayahnya sekaligus pemilik universitas ini.


“Tuan ada perlu dengan saya.?” Elard mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Ara. Tak lama dia menghembuskan nafasnya perlahan saat melihat tatapan mata Ara yang menatapnya tajam.


“Kau baik baik saja.?” Tanya Elard mengulurkan tangannya hendak mengusap kepala Ara. Tapi Ara lebih dulu menjauhkan kepalanya sebelum Elard menyentuh nya.


Tak hilang akal, Elard melangkahkan kakinya dan mendekati Ara.


“Kalau begitu ikut aku, atau aku akan mengatakannya pada daddy agar menyuruh mu pulang.” Ancam Elard yang di balas dengan gelengan kepala Ara dan tatapan memohon.


“Ara tidak mau pulang om.” Rengek Ara hampir menangis mendengar ancaman Elard di telinganya. Baru satu bulan lebih dia di sini dan dia akan kembali pulang. Tidak, dia ingin mandiri dan mencari suasana baru. Terlebih dia sama sekali belum berkeliling kota Paris.


Sementara mereka yang melihat Ara menangis mengira jika Queensa melakukan kesalahan hingga tuan Lion mengancamnya.


Elard berbalik dan Ara tentu saja menarik tangan Elard kemudian mengambil tas dan buku miliknya. Elard tersenyum tipis melihat wajah Ara yang di tekuk. Dia kemudian menarik atau lebih tepatnya menggandeng tangan Ara keluar dari kelas miliknya.

__ADS_1


“Siang tuan.”


Elard tak perduli dengan wanita yang berdiri di samping pintu. Dia tetap membawa Ara menuju ruangan milik nya. Sampai di ruangan miliknya, Elard mendudukkan Ara di kursi kebesarannya.


“Apa ini sakit.?” Tanya Elard  mengelus kepala Ara sayang. emosinya seketika memuncak saat mengingat kembali bagaimana rambut Ara di tarik oleh gadis sialan itu.


“Om tau.” Seru Ara menatap pria dewasa di depannya.


“Tentu saja.” Sahut Elard mengecup kening Ara dan memeluknya. “Apa kau ingin membalasnya.” Imbuh Elard lagi, padahal dia sudah memerintahkan Jefri. Dan Ara menggelengkan kepalanya, dia tak ingin mencari musuh saat ini. Dia hanya ingin mencari teman bukan musuh.


Elard menghembuskan nafasnya perlahan dan menggendong Ara lalu membaringkan nya di sofa besar. Ya lebih baik Ara tidur terlebih dahulu. Dia tak ingin mereka curiga pada Ara dan dirinya. Biarkan mereka berpikir jika dia menghukum Ara kali ini. Elard tak ingin nama Ara tercoreng karna kebodohannya nanti.


*


Sementara di lain tempat, Airin keluar dari agency dan berjalan terburu buru menuju mobilnya. Berulang kali Airin mengumpat dirinya yang bodoh dan ceroboh.


Selama pemotretan dia banyak melakukan kesalahan fatal. Akibat tak fokus dengan kejadian semalam. Dimana dia sudah bercinta dengan Robert, pria tua yang berusia hampir mencapai enam puluh tahun.


Tentu saja dia sangat membenci Robert.


“Pria tua sialan.” Maki Airin mengusap pipinya yang basah. Dia menginjak pedal gasnya dan pergi menuju perusahaan suaminya.


 Sudah tiga hari ini Elard tak kembali ke mension mewahnya. Mencari di mana apartemen suaminya, Airin sama sekali tak sempat. Dia benar-benar tak tau dimana apartemen suaminya selama ini. Elard sangat menjaga privasi nya.


Sebenarnya marah saat mengetahui jika Elard memiliki sebuah apartemen mewah, tanpa dirinya tau. Tapi dia tak bisa berbuat apa apa selain diam. Selagi Elard menjadi suaminya, dia tak akan mempermasalahkan semua ini.


Tapi bagaimana jika selama ini Elard benar-benar menyimpan seorang wanita yang menjadi simpanannya di apartemen miliknya. Selama ini dia tak pernah berhasil menggoda Elard. Mereka bahkan tak pernah menyatu, jangankan menyatu, bercumbu saja mereka tak pernah melakukannya.


“Tidak kau hanya milikku.”


 

__ADS_1


__ADS_2