
“Ku pikir kau tak akan datang ke kampus.” Emma berseru mengikuti langkah Ara yang berjalan perlahan.
“Kenapa sedikit bengkak Queen, seharusnya kau tak datang ke kampus.” Imbuh Emma melihat lutut Ara yang terlihat membiru dan sedikit bengkak.
“Lain kali jika pria tua itu datang jangan mengajakku.” ucap Ara mencebikkan bibirnya gondok mengingat gara gara pria tua itu dia terlambat mengobatinya.
Emma meringis mendengar penuturan sahabatnya. Dia sadar jika semua ini adalah salahnya.
“Maaf..” Ara menoleh dan menarik tangan Emma. Tangannya mengambil kaca mata bulat Emma dan memakainya. Tak lama Ara tertawa terbahak melihat bibirnya Emma.
“Queensa, ishh.”
Tak jauh dari mereka Mishel berdiri bersama dua temannya. Bibirnya tersenyum miring melihat Ara yang berjalan perlahan. Dia kemudian mengibaskan tangannya pada kedua sahabat nya agar mengikutinya.
Dan Ara melirik ke arah Mishel, matanya menyipit dan dengan cepat dia menarik tangan Emma yang terhuyung ke depan. Sementara Emma yang kaget tubuhnya hampir mencium lantai menoleh ke arah Ara.
“Ups sorry,” kata salah satu dari mereka menutup mulutnya, seolah tak sengaja melakukannya. Sementara Mishel dan satu temannya yang lain tertawa cekikikan.
Ara hanya melirik ke arah mereka bertiga. Dia tau mereka sengaja melakukannya untuk menjatuhkan Emma.
“Bolehkah kami lewat kak.” Tanya Ara menoleh ke arah Mishel dan dua sahabatnya yang lain.
Mendengar penuturan Queensa, Mishel tersenyum miring. Dia menendang lutut Ara hingga Ara meringis saat lututnya terasa sakit. Emma juga kaget melihat Mishel menendang lutut Queensa. Dia melirik ke arah mereka berdua kemudian menundukkan kepalanya saat melihat mata Mishel melotot ke arahnya.
“Sakit..” ejek Mishel tersenyum miring melirik ke arah lutut Ara yang semakin memerah. Sementara Ara mengerutkan keningnya mendengar penuturan Mishel, seniornya.
“Apa kemarin kau juga mendorong ku.” Sahut Ara menatap Mishel penuh curiga.
Mishel tertawa renyah mendengarnya, dia melangkah mendekati Ara dan mencengkeram erat lengannya. “Jangan pernah menggoda kekasihku ******, apa kau dengar.” Desis Mishel mengeratkan giginya emosi.
Sementara Ara semakin mengerutkan keningnya mendengar penuturan Mishel. Ara tak tau siapa yang di maksud Mishel. Menggoda kekasihnya, yang mana?
“Ada apa.?”
__ADS_1
Mereka berlima menoleh ke sumber suara dan terlihat pria muda tampan .yang menjadi senior mereka berdiri mengagetkan merek.
“Dar,”
Ara melirik ke arah Mishel yang tersenyum dan memangggil pria di depannya. Tak lama Ara mendengus saat menyadari jika pria ini lah yang di maksud Mishel. Kapan dia mengganggu nya. Ara menarik tangan Emma kemudian melangkah pergi.
“Queensa,,” panggil Dary menarik tangan Ara. Sementara Mishel menatap tajam pada Ara, dia mengepalkan tangannya emosi. Dan Ara tau itu.
“Aku akan mengobati lukamu.” Ucap Dary menarik tangan Ara tak perduli dengan Ara yang berontak padanya. Apalagi dengan Mishel yang melotot ke arahnya.
“Lepaskan tangan ku kak,” Seru Ara melihat tangannya yang di tarik oleh Dary. Ara tak percaya jika pria ini akan menarik tangannya. Hingga di mereka berbelok ke ruang kesehatan, Dary mendudukkan Ara di salah satu kursi.
“Apa kau gadis yang jatuh kemarin.?” Tanya Dary mengobati lutut Ara dengan salep. Ara hanya diam, sesekali dia hanya meringis merasakan perih di lututnya.
*
Berbeda dengan Ara, Elard sama sekali tak bisa fokus dalam bekerja. Pikirannya terus terbayang bayang wajah cantik Ara yang sangat imut. Rasa rindunya pada gadis yang menjadi cinta pertamanya tak bisa dia sembunyikan.
Elard mengepalkan tangannya emosi, nafasnya memburu, mencoba mengontrol rasa rindunya pada Ara. Ya dia membencinya karena pasti Sky lah yang sengaja melakukan ini. Atau ayah dan anak itu, sama sama ini ingin mengelabuhi nya.
“Brengsek..” umpat nya. Sementara dua rekan bisnisnya, menoleh ke arah Elard.
“Maaf lanjutkan.” Kata Elard membenarkan duduknya.
Tak lama Elard melambaikan tangannya pada Jefri agar mendekatkan telinganya.
“Cari tau, sedang apa dia sekarang.!” Jefri menganggukan kepalanya. Dia mundur dan merogoh ponsel di saku celananya lalu menghubungi seseorang. Sementara Elard, dia mencoba fokus pada meeting bersama dengan kedua rekan bisnisnya.
Sepuluh menit kemudian, Jefri kembali lagi mendekati tuannya dan memberikan ponselnya. Elard menyambar ponsel Jefri dan melihat nya. Tak lama gigi Elard gemerutuk menahan emosi yang memuncak saat melihat foto di ponsel di tangannya.
Ara sedang duduk bersama dengan seorang pria di kantin sekolah. Mereka terlihat sangat dekat dan saling menempel satu sama lainnya. Elard menggeser ponsel dia tangannya dan terlihat pria di sampingnya mendekatkan wajahnya.
“Brengsek..”
__ADS_1
Prakk..
Elard emosi melihat apa yang dia lihat. Ara, gadis kecilnya sedang berciuman dengan seorang pria di sekolahnya.
Elard berdiri dari duduknya setelah menghancurkan ponsel milik Jefri. Tapi lagi lagi Sky mendudukkan bokongnya lagi di atas kursi dan mengumpat Sky yang tak bisa menjaga Ara. Dia yakin Sky membebaskan Ara bergaul bebas. Itu sebabnya, Ara berciuman dengan seorang pria.
“Luis brengsek.” Umpat nya yang sudah membuat gadis kecilnya bergaul bebas. Ingin berlari dan menghajar pria yang mencium gadis kecilnya. Tapi rasa benci terus mengatakan dan menginginkan nya, jika dia adalah putri dari pria yang membunuh orang tuanya.
Elard memang sangat membenci Sky, pria yang paling dia benci seumur hidupnya. Andai Sky tak pernah merawatnya, dia pasti sudah membunuhnya dari dulu. Dan Ara, dia adalah sama, dia membenci Arabelle putri Sky. Ya dia membenci Arabelle.
Elard terus saja mengatakan membencinya, tapi hatinya menginginkan Ara dan ingin menyusul Ara.
Sementara kedua rekan bisnisnya menoleh ke arah Elard. Mereka menundukkan kepalanya dalam. Mereka takut melakukan kesalahan hingga Elard marah dan membanting ponsel miliknya.
*
Sementara di kampus Dary memaksa Ara setelah keluar dari ruang kesehatan.
“Aku tau kau belum makan Queen.?” Seru Dary, menyodorkan satu piring spagetti untuk Ara. Ara hanya meliriknya, dan tak lama dia menoleh ke arah Dary bingung. Dari mana spagetti ini datangnya. Selama ini tak pernah ada di kantin ini.
“Spesial untuk mu.” Kata Dary lagi.
Ya apa yang tak bisa Dary lakukan untuk wanita yang dia incar. Pria kaya tampan dan paling populer di dalam kampus bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dia juga terkenal suka bergonta-ganti pacar. Dia akan memutuskan sang wanita jika dia merasa bosan. Seperti Mishel, dia adalah mantan kekasih nya Dary. Dia di putuskan oleh Dary, beberapa hari lalu. Tapi Mishel kekeh tak ingin Dary memutuskannya.
“Kakak dari mana mendapatkan ini,?” tanya Ara bingung. “Jangan di pikirkan, ini spesial untuk mu Queen.” Sahut Dary menatap Ara penuh kagum.
Ara sangat cantik luar biasa. Wajahnya sangat imut begitu juga dengan hidungnya yang kecil sedikit mancung. Bibir mungilnya yang juga terlihat sangat seksi. Ingin sekali Dary melabuhkan bibirnya di sana dan menyesapnya. Membawanya ke atas ranjangnya, kemudian bercinta dengannya hingga malam. Pasti percintaan mereka terasa sangat indah dan juga sangat panas.
Tanpa terasa Dary mendekatkan wajahnya pada Ara. Matanya tak berkedip melihat bibir mungil Ara yang menggodanya sedari tadi.
“Kak... “ seru Ara melambaikan tangannya di depan wajah Dary yang mendekatinya. Sementara Dary berjengit kaget mendengar seruan Ara di telinganya. Dia menjauhkan kepalanya dari Ara. Dary tak mau Ara takut padanya. Apalagi dia belum mendapatkan apa yang dis inginkan.
“Ya Queen.” Sahut Dary tersenyum, tangannya mengusap bibir Ara yang terkena saus. Dan Ara yang kaget menjauhkan kepalanya.
__ADS_1
“Maaf..”