
Keesokan harinya.
“Ya tuan, tuan Luis yang membawa nona kembali.” Ucap Jefri menundukkan kepalanya.
Sementara Elard mengusap wajahnya kasar mendengar penuturan Jefri. Dia sudah menduganya jika Luis yang membawa Ara pergi. Luis pasti tau tentang semuanya.
“Apa dia juga tau tentang perasaan ku pada Ara.” Gumamnya kembali mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus dia lakukan, mengejar Ara dan mengatakan pada Luis jika dia bisa menjaganya di sini. Atau mengatakan pada Luis jika dia mencintai Ara, putrinya.
Jefri melirik tuannya yang duduk di kursi miliknya. Dia sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana masa lalu tuannya. Tapi dia bisa menyimpulkan jika tuannya dan Ausky Luis mempunyai dendam. Tapi Jefri tak tau itu apa.
Hingga hari menjelang berganti dan matahari mulai meninggi Elard masih duduk di kursi kerja miliknya di apartemen. Dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Memikirkan Luis yang membawa Ara pergi. Memikirkan apa yang harus dia lakukan, Elard benar benar tak tau harus bagaimana.
*
Sementara Airin seperti biasa, hari ini dia sedang pemotretan di salah satu stasiun televisi ternama di kota Las Vegas. Sebenarnya Airin sedikit tak tenang akibat kebodohannya suaminya jadi marah padanya. Seharusnya dia bisa menahan diri, hingga suaminya membalaskan dendamnya pada pria yang bernama Ausky Luis.
“Nona apa anda sedang memikirkan sesuatu.”
Airin yang mendengar suara nyaring di telinganya menoleh. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada anggota kru yang hadir malam ini. Sementara Jastin yang melihat Airin, tau jika malam ini pasti Jastin tak baik baik saja.
Hingga selesai pemotretan Jastin mendekati Airin dan menyapanya. “Apa kau baik baik saja.” Tanya Jastin. Ya siapa yang tak tertarik oleh Airin. Tiga tahun yang lalu dia di nobatkan sebagai wanita yang paling cantik di kota Las Vegas. Semua pria akan berlomba untuk mendapatkan hati wanita cantik ini. Kecuali Elard, di saat semua pria menginginkan Airin, dia justru menolaknya. Karna bagi Elard hanya Ara gadis kecilnya yang sangat di cintai.
“Apa kau pikir aku tak baik baik saja.” Sahutnya pada Jastin. Tentu saja Jastin mengepalkan tangannya mendengar jawaban Airin.
“Aku bisa mengantarmu pulang Airin.”
Airin menolehkan wajahnya melihat Jastin. “Kau tau aku mau kemana. Aku bisa sendiri.” Sahut Airin kembali melangkah meninggalkan Justin. Tapi sayangnya sebuah tangan menariknya dan membawanya masuk ke dalam salah satu kamar.
“Kau...”
“Aku merindukanmu Airin, temani aku malam ini.” Airin mendesah kasar. Dia sendiri tak bisa menolak pria di depannya ini. Ya tanpa pria di depannya ini Airin bukan siapa-siapa di agency mana pun. Hingga akhirnya Airin di pertemukan dengannya yang membantunya menjadi bintang di jagad hiburan. Semuanya adalah berkat pria yang saat ini ada di depannya. Pria yang jauh sebelum dia menikah dengan Elard. Pria ini lah yang lebih dulu di kenalnya. Dan pria inilah yang juga mengambil mahkotanya.
__ADS_1
Dulu Airin dan dia sering kali berhubungan badan. Tapi semenjak pria ini pindah ke luar negeri mereka jarang sekali bertemu. Apalagi dia hanya sebagai teman ranjangnya saja.
Sementara Jastin yang melihat Airin dan pria itu menggelengkan kepalanya. Ternyata selama ini rasa penasarannya terjawab sudah. Apa yang di pikirkan ternyata benar jika mereka memiliki hubungan gelap.
“Aku tak percaya Kau bisa melakukan ini Airin. Jika kau selalu menolak ku. Lalu kenapa kau harus bersamanya.”
Sementara di kampus, Emma mencari keberadaan Ara. Dia bingung belakangan ini Ara sering sekali mengambil libur. Padahal Ara sudah berjanji padanya jika dia akan makan di kafe sebelah. Ada kafe baru yang baru resmi di buka beberapa hari lalu. Dan dia sudah mengatakan pada Ara tapi sampai saat ini Ara sama sekali tidak bisa menunjukkan wajahnya.
“Apa dia libur lagi.”
*
Dua hari kemudian.
Elard sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Dia tidur gelisah di ranjang miliknya. Tak lama dia bangkit dan menelpon Jefri. Ya dia tak bisa mengabaikan Ara. Dan Luis membawa Ara tanpa mengatakan satu kata pun padanya. Seharusnya Luis menemuinya lebih dulu bukan.
“Kita pergi.” Kata Elard pada sebrang telpon dan kembali menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Jefri.
Hingga beberapa jam berlalu Elard sampai di kota Amerika. Kota yang pernah meninggalkan kenangan yang sulit di lupakan. Kota ini juga yang membuat dirinya tau siapa pembunuh orang tuanya. Dan kali ini dia datang kembali setelah sekian lamanya.
“Cari hotel terdekat dari mension Luis.” Kata Elard melihat jalan yang begitu ramai. Beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan kota ini dengan penuh dendam. Kali ini dia datang kembali dengan penuh harapan, Ara mau memaafkannya.
“Baik tuan.” Sahut Jefri.
Sampai di dalam hotel,pagi langsung menyapa. Elard mengistirahatkan tubuhnya di ranjang empuk kamar hotel. Dia akan menemui Ara setelah mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dia akan bertemu dengan ayah angkatnya yang paling di bencinya.
*
Sementara Luis dan Freya melambaikan tangannya pada Ara. Ya pagi ini Luis dan Freya mengantarkan Ara dan Kikan pergi. Sebelumnya Luis akan dan Freya akan pergi bersama mereka. Tapi setengah jam yang lalu bawahannya mengatakan jiky Elard datang kemari.
Terpaksa Sky dan Freya tak ikut bersama mereka. Dia akan menyusul Ara setelah bertemu dengan Elard. Ya Sky tau apa tujuan Elard datang kemari. Apalagi jika bukan untuk membalas kan dendamnya.
__ADS_1
Ya Sky akhirnya mengalah dengan Ara. Setelah melihat kejadian ini, dia mengizinkan Ara pergi ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di sana. Sky berpikir tak ada yang akan mengenali Ara di sana, begitu juga dengan keluarga Elard.
Dan pagi ini Ara pergi terlebih dahulu bersama dengan neneknya, Kikan. Wanita tua itu sangat antusias akan kembali tinggal di sana. Sky hanya bisa pasrah saat Ara merengek ingin pergi ke sana hari ini. Padahal Ara baru dua hari Ara kembali pulang ke mension. Tapi siapa sangka Elard datang kemari. Dan tentu saja kepergian Ara seperti nya lebih baik.
*
Elard melangkah lebar masuk ke dalam perusahaan Sky. Bersama dengan Jefri yang mengikuti dari belakang. Ya sebelum datang ke mension Elard memutuskan untuk datang ke perusahaan terlebih dahulu dan bertemu dengan Luis, ayah angkatnya. Pria yang pernah berjasa padanya dan pria yang membuat dirinya yatim.
Ting..
“Selamat siang tuan muda, tuan Luis sudah menunggu anda.” Sapa Calvin yang berdiri tepat di depan pintu lift menundukkan kepalanya sopan pada tuan mudanya.
Elard tersenyum miring mendengar sambutan Calvin. Tuan muda, dan Sky sudah menunggunya. “Rupanya pria tua itu sangat jeli.” Gumam Elard tersenyum masam. Ternyata Sky tau dirinya datang kemari dan mencarinya.
Elard melangkah lebar masuk ke dalam ruangan CEO. Dan Calvin yang lebih dulu membukakan pintunya untuk Elard.
Clek..
Elard mengepalkan tangannya saat pandangan matanya berserobok dengan mata pria yang dulu memberikan kasih sayang yang luar biasa pada nya. Wajah tua dan keriput Sky ternyata tak menghilangkan ketampanan pria berusia lebih dari paruh baya yang berdiri menyambutnya. Pria yang dulu menyayangi nya tapi beberapa tahun belakangan ini pria inilah yang sangat di bencinya.
“Bagaimana kabarmu Lion.?” Sapa Sky tersenyum lebar.
Elard masih tak bergeming di tempatnya, dia diam mengunci bibirnya, dan tak menjawab pertanyaan Sky. Matanya tak beralih menatap wajah tuanya. Jantungnya seketika bergemuruh hebat. 𝙱enci yang menggunung yang selama ini dia tanamkan di hatinya. Tapi saat melihat wajah tuannya, seketika rindu mengalahkan kebencian nya selama ini ada.
Tak mendapatkan jawaban dari putranya, Sky hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Dia tau, Elard sangat membencinya.
“Duduklah.” Titah Sky tersenyum pada Elard. Berbeda dengan Elard yang menatap dirinya benci. Sky justru sangat merindukan putranya. Remaja yang dia adopsi sekarang sudah tumbuh dewasa, dan tampan. Selain itu dia juga sangat sukses dan luar biasa. Elard mampu menaklukkan dunia tanpa bimbingan nya. Sungguh Sky sangat bangga padanya.
Tapi Sky tak bisa memeluknya dan memujinya. Hatinya masih belum berani mengatakan dan mengungkapkan semua itu. Sky sadar diri, jika Elard masih sangat membenci nya.
“Dimana Ara.”
__ADS_1