HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
S2 PANU


__ADS_3

Mendengar teriakan dari dalam kamar Bita, membuat mbak Susi dan juga mbak Tini kedua asisten rumah tangga Vano yang sedang ngerumpi di teras belakang rumah karena pekerjaan keduanya sudah usai, kini langsung saling pandang.


"Tin, itu bukannya suara Bita ya?"


"Iya Sus, ada apa ya?"


"Mana aku tahu," jawab Susi yang langsung beranjak dari duduknya, kemudian diikuti oleh Tini. "Tuh kan, teriak lagi,"


"Jangan-jangan di kamarnya ada tikus, mampus kalau itu benar, kita bisa di marahin sama ibu. Kamu tahu sendiri Bita kesayangan ibu Vivi," ujar Tini.


"Benar juga," sahut Susi yang langsung berlari menuju kamar Bita diikuti oleh Tini, saat keduanya mendengar lagi teriakan dari Bita.


"Bita ada apa? Dimana tikusnya?" tanya Tini yang baru masuk ke dalam kamar Bita. "Pak Vano," ucapnya ketika melihat ada sang majikan.


"Tolong aku, Mbak," Bita yang belum mengenakan pakaian, dimana pakaian yang tadi ia lepas, digunakannya untuk menutup dadanya. Kini berlari dan mengumpat dibelakang tubuh mbak Susi dan juga mbak Tini.


"Kenapa kamu tidak pakai baju?" tanya Susi penasaran.


"Itu Mbak, pak Vano mau memperkaos aku, Mbak,"

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Bita, Susi dan juga Tini saling pandang, lalu menoleh pada Bita yang sedang mengenakan baju, tapi tidak dengan kacamatanya yang ia lempar kesembarang arah.


"Ish, biarin aja," ucap Susi di luar nalar.


"Iya, enak tahu," sambung Tini yang benar-benar di luar dugaan. "Kalau kamu di perkaos, pasti pak Vano tanggung jawab. Dan kamu nanti jadi orang kaya, iya kan, biar kamu tidak mengeluh tidak punya uang terus, pusing kita mendengar curhatan kamu, apa-apa tidak punya uang,"


Bita benar-benar tidak habis pikir dengan Tini dan juga Susi. "Dasar kalian gila!" seru Bita. "Aku mau di perkaos, tapi tanggapan kalian seperti ini, dasar sableng!"


"Perkaos, perkaos. Kalau bicara tuh yang benar. Menuduh tanpa bukti, bisa dikenai hukuman!" sahut Vano yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perkataan tiga perempuan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


Membuat Bita yang tadi bersembunyi di belakang tubuh Susi dan juga Tini, kini keluar dari persembunyiannya, dan menghadap pada Vano. "Jangan mengelak, aku tahu pak Vano mau memperkaos aku, buktinya tadi pak Vano terus mengelus punggung aku, dan menahan bahuku ku," kata Bita, karena saat ia menyadari siapa Vano, dengan segera ia akan beranjak dari duduknya.


Vano enggan untuk menimpali ucapan dari Bita, yang ada ia berjalan menghampirinya.


"Stop Pak, jangan mendekat!" perintah Bita.


Tentu saja tidak di dengar oleh Vano, yang terus mendekatinya, lalu meraih satu tangan Bita, kemudian memberikan balsem dan juga koin yang ada di tangannya pada tangan Bita.


"Kamu sendiri yang minta aku untuk mengerok, apa mengerok pakai kaki? Tidak bukan? Mengerok tuh pakai tangan, jika aku tidak menahan bahu dan juga meraba punggung kamu, bagaimana aku bisa mengerok, dasar bodoh!" kata Vano, yang tadi benar-benar sangat mengagumi punggung Bita yang putih dan juga mulus, hingga otak kotornya sudah berpikir ingin menjilat punggung Bita yang pasti terasa sangat nikmat.

__ADS_1


"Masa sih?" tanya Bita.


"Kamu pikir saja sendiri, lagian untuk apa aku mau memperkaos kamu, tidak ada untungnya juga, punggung kamu saja banyak panu, bikin aku mual," bohong Vano yang langsung berjalan meninggalkan kamar Bita.


"Panu? Tidak mungkin ah," kata Bita selepas kepergian Vano.


"Pasti iya, jorok banget sih kamu, Bita. Cantik-cantik panuan," sahut Tini yang masih berada di tempatnya. "Aku kira benar, tadi kamu mau di perkaos pak Vano, eh ternyata kamu minta kerok,"


"Iya Mbak, aku pusing sepertinya masuk angin," sambung Bita.


"Masa minta kerokin pak Vano, ada-ada saja kamu. Apa memang kamu sengaja, buat mancing pak Vano. Biar dia memperkaos kamu, iya?" tanya Susi.


"Jangan ngaco Mbak,"


"Tidak apa-apa sih, kalau iya. Kamu tinggal pasrah saja, udah enak nanti kamu jadi orang kaya, kalau Pak Vano mau tanggung jawab,"


"Iya benar itu," sahut Tini membenarkan ucapan dari Susi.


"Dasar gelo kalian!"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2