HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Tidak Selaras


__ADS_3

Zi terus menangis sambil memeluk Ev.


"Sudah jangan menangis, apa yang kamu tangisi, dasar bodoh!"


"Tapi dia sudah mencium aku Ev," tutur Zi, di sela-sela tangisnya, karena belum lama ada siswa yang tiba-tiba mencium pipinya saat ia ingin keluar dari dalam kelas, saat jam istirahat kedua.


"Kalau kamu tidak suka, tinggal tonjok, atau tendang lato latonya, apa susahnya sih, jangan bodoh, bebel dan sekawan kawannya kau!" kesal Ev, tidak habis pikir, bisa bisanya hanya karena di cium oleh seorang siswa membuat Zi menangis histeris seperti saat ini, hingga Ev tidak tahan untuk mengumpat, yang ia tujukan untuk sahabat dan juga saudara barunya tersebut.


"Ev, tapi dia sudah mencium aku, dan pipiku sudah ternoda,"


"Jangan lebay deh, hanya karena di cium, kamu nangis seperti ini, amit-amit kau Zi,"


"Tapi..."


"Sudah jangan tapi tapian, katakan padaku siapa yang sudah mencium kamu," sambung Ev memotong perkataan Zi.


Di sela-sela tangisnya, Zi langsung memberi tahu siapa yang sudah menciumnya, dan membuatnya, menangis histeris.


"Ya Tuhan, di cium kan enak, ngapain pakai nangis, dasar! Sekarang kamu tunggu di sini, ingat, jangan nangis, malu maluin tahu!" gerutu Ev, yang langsung meninggalkan sang sahabat, dan keluar dari dalam kelas, untuk menuju kelas dimana siswa yang tadi mencium Zi berada, sebenarnya Ev malas untuk menghampirinya, tapi mau tidak mau ia ingin melihat, siswa seperti apa yang sudah berani mencium Zi.

__ADS_1


Tanpa berbasa basi, Ev langsung masuk ke dalam kelas yang tadi Zi tunjuk, dimana siswa yang tadi mencium sahabatnya berada.


"Siapa disini yang namanya Albert?" tanya Ev, membuat semua murid yang berada di kelas tersebut langsung menatap padanya, dan ada satu siswa yang kini beranjak dari duduknya.


"Aku," jawab Albert.


Dan tatapan Ev langsung tertuju pada siswa tersebut. "Ya Tuhan, kau bodoh sekali Zi, cowok setampan dia mencium kamu, kamu malah menangis, emang dasar tidak normal kau," batin Ev dengan tatapan terus tertuju pada Albert. "Sejak kapan ada cowok setampan dia, tidak terendus olehku," batinnya lagi, lalu Ev melangkahkan kakinya untuk mendekati Albert.


"Untuk apa kamu mencari aku?" tanya Albert.


Namun, tidak di jawab oleh Ev yang kini mengulurkan tangannya kehadapan Albert.


"Aku hanya ingin berkenalan, aku Ev," ucap Ev sambil menunjukkan senyum termanisnya, senyum yang bisa membuat siapa pun jatuh cinta padanya.


Ucapan yang baru saja Albert katakan membuat senyum Ev memudar dan menjauhkan tangannya dari hadapan Albert. Dan untuk pertama kalinya, ia di tolak mentah-mentah oleh cowok saat ingin berkenalan.


"Oh begitu, oke. Tidak masalah," ucap Ev yang sekarang memasang wajah datar. "Aku ada urusan denganmu,"


"Maaf, aku tidak mengenal kamu, tentu saja kita tidak ada urusan,"

__ADS_1


Tentu saja ucapan Albert membuat Ev sungguh kesal, dan kini lebih mendekatinya, dan langsung memukul perutnya.


"Itu balasan, karena kau sudah berani mencium Zi, sok ganteng!" seru Ev yang langsung meninggalkan Albert. "Memang ganteng sih, gimana caranya aku mendapatkan dia ya," batin Ev, tidak selaras dengan apa yang dikatakannya barusan.


*


*


*


Hazel benar-benar tidak menikmati pertemuannya kali ini bersama dengan Ana dan juga Aca sang sahabat.


"Sudah tahu lagi ngidam, pakai mau ngumpul segala, kalau cuma mau ngomongin perasaan kamu pada suami kamu,"


"Benar, kita kan bisa bicara lewat VC," sambung Ana membenarkan apa yang baru saja Aca katakan. "Tapi benar apa yang kamu katakan, kamu akan membuka hati kamu untuk Zain?" tanya Ana untuk memastikan apa yang tadi sang sahabat katakan, jika Hazel mulai hari ini akan membuka hatinya untuk Zain, tanpa melupakan mendiang sang suami.


Dan Hazel hanya menganggukkan kepalanya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang di dudukinya.


"Baguslah, setidaknya kamu tidak akan bermain dengan benda mati lagi, kan sudah ada yang hidup, dimana yang hidup itu bisa bikin kamu merem melek, dan bisa bikin kecebong tumbuh subur di rahim kamu, iya kan," ujar Aca dan meraih satu batang rokok, dan menyalakannya, barang yang tidak pernah lepas darinya.

__ADS_1


"Matikan rokok itu, istriku sedang hamil, dan asap rokok tidak baik untuknya!"


Bersambung...................


__ADS_2