
Bita memutuskan untuk pulang ke rumah, untuk beristirahat agar esok hari ia bisa kembali bekerja.
Untung saja ibu Vivi mengijinkan Bita untuk pulang dan beristirahat.
Namun, ketika ia sedang beristirahat di kamarnya, yang ada di rumah sederhana, dimana letaknya ada di pemukiman padat penduduk, nenek Rohimah nenek dari Bita masuk ke dalam kamarnya.
"Iya Nek, ada apa?" tanya Bita masih dalam posisinya, tidur diatas kasur busa yang berukuran seratus kali dua ratus meter, diatas lantai yang beralaskan tikar.
"Ada Rian,"
Mendengar jawaban dari nenek Rohimah, Bita segera beranjak dari tidurnya, tak lupa mengukir senyum.
Dan seketika, rasa pusing yang sedari tadi ia rasakan hilang sudah, ketika sang nenek menyebut nama sang pacar yang tidak lama lagi akan menikahinya.
"Aku menemui Rian dulu, Nek," kata Bita yang langsung keluar dari dalam kamar miliknya.
Senyum mengembang dari kedua sudut bibir Bita ketika sudah keluar dari dalam kamarnya, ia melihat Rian sang pacar sedang duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumahnya tersebut.
"Ayah," panggi Bita dengan alaynya memanggil Rian dengan panggilan kesayangan.
"Bunda," balas Rian sambil mengukir senyum.
Membuat Author yang menulis panggilan keduanya ingin muntah.
"Kata nenek kamu sakit, jadi hari ini kamu pulang kerja lebih cepat,"
"Iya Ayah, Bunda sakit," Bita kini duduk di sebelah Rian, lalu menyandarkan kepalanya di bahunya. "Ayah libur kerja?"
"Iya Bunda, sini ayah pijitin," Rian merebahkan kepala Bita di pangkuannya, lalu memijatnya.
"Enak,"
"Tambah enak kalau ayah yang di pijit,"
"Ish, Ayah nakal." Bita mencubit paha Rian.
"Bercanda Bun, eh Bun."
__ADS_1
"Ada apa Yah?"
"Mama menyuruh kita bertemu dengannya,"
"Iya, Bunda tahu. Tadi Mama sudah mengirim pesan pada Bunda. Katanya acara pernikahan kita sudah sembilan puluh persen,"
"Yes, akhirnya sebentar lagi kita bisa bobo bareng Bun," kata Rian begitu antusias.
"Ish, apaan sih," Bita beranjak dari tempatnya lalu menatap pada sang pacar. "Yuk, kita temui Mama,"
"Katanya Bunda tidak enak badan,"
"Sekarang sudah lebih baik, dan itu karena Ayah," sambung Bita dan ingin memeluk Rian.
Tapi ia urungkan ketika melihat kakek Rohim masuk ke dalam rumah.
"Sabar Bunda, nanti kalau sudah keluar dari sini, jangankan peluk, bobo bareng juga ayo," bisik Rian tepat di telinga Bita.
Membuat Bita langsung mencubit perut sang pacar.
"Semacam saja Bunda, oke!"
"Ish!"
*
*
*
Malam harinya, Vano benar-benar tidak habis pikir dengan sang ibu.
Karena sang ibu memintanya untuk mengantar ke rumah Bita. Mengingat lagi, ibu Vivi begitu kuatir dengan keadaan perawatnya itu.
"Bu, Bita pasti baik-baik saja. Sudahlah, besok dia juga kembali bekerja. Lebih baik ibu istirahat oke!" pinta Vano yang baru saja mengantar sang ibu masuk ke dalam kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Nak, ibu tidak bisa. Ibu terus kepikiran Bita, dan ingin tahu keadaannya,"
__ADS_1
"Tinggal hubungi saja dia, gampang kan,"
"Tapi ibu ingin melihat langsung Nak," kekeh ibu Vivi dengan pendiriannya, ingin melihat Bita secara langsung.
"Ini sudah malam Bu,"
"Ayolah Nak, antarkan ibu. Kalau tidak, ibu pergi sendiri," ujar ibu Vivi yang beranjak dari duduknya.
Membuat Vano langsung menghembuskan nafasnya kasar, kalau sudah seperti ini. Pasti sang ibu akan nekat pergi sendiri.
"Baiklah, aku akan mengatar ibu menemui Bita," mau tidak mau Vano terpaksa mengikuti keinginan sang ibu.
*
*
*
Sudah hampir setengah jam Vano mengendarai mobilnya menuju rumah Bita, dengan alamat yang sang ibu berikan.
Namun, ia belum sampai tempat tujuan, yang ada Vano menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari sebuah taman, sebelum memasuki pemukiman padat penduduk.
Dimana banyak muda mudi yang sedang berpacaran.
"Bu, apa ibu tidak salah memberi alamat perawat Ibu itu?" tanya Vano memastikan lagi.
"Tidak Nak, maps di posel kamu juga tepat,"
Namun, bukannya menanggapi ucapan dari sang ibu, tatapan Vano tertuju pada sepasang muda mudi yang sedang duduk di bangku taman dengan pencahayaan yang redup, lebih kearah remang-remang. Tapi masih terlihat jelas dari tempatnya sekarang berada. Yang Vano yakini itu adalah Bita perawat sang ibu.
"Idih, tidak modal. Pacaran di taman," ucap Vano, lalu memicingkan matanya melihat Bita malah bercumbu dengan pria yang bersamanya. "Ini tidak bisa dibiarkan," kata Vano yang langsung membuka pintu mobilnya, berniat untuk menghampiri dimana Bita berada, entah mengapa melihat Bita bercumbu membuatnya kesal.
"Nak, mau ke mana?" tanya ibu Vivi.
"Membasmi hama,"
Bersambung..........
__ADS_1