
Siang menjelang sore, selepas selesai pekerjaannya, Vano bergegas menuju kantor Hazel, hal yang sering Vano lalukan, hanya sekedar bertemu dengan wanita pujaannya.
Dan kali ini Vano menceritakan siapa Zain yang dia tahu, tidak menyukai seorang wanita.
Tentu saja Hazel sangat percaya pada cerita Vano yang jauh dari kata fakta.
"Zel, kamu harus percaya, jika dia mempunyai kelainan,"
"Iya aku percaya,"
"Jadi, kamu tidak akan melanjutkan pernikahan kamu dengannya?" tanya Vano, dengan senyum sumringah dari kedua sudut bibirnya.
"Tentu saja aku akan tetap menikah dengannya,"
"Apa?!" tentu saja Vano begitu terkejut dengan jawaban dari Hazel. "Kamu tahu dia tidak normal, tapi kamu masih mau menikah dengannya?" tanya Vano yang tidak habis pikir dengan jawaban Hazel.
"Ya, ini lebih baik bagiku, toh aku tidak akan pernah tertarik dengannya kan," jelas Hazel, meskipun dia percaya pada cerita Vano, jika Zain tidak normal, tapi dia tetap akan menikah dengannya. Hanya untuk membahagiakan sang putri, yang begitu antusias dengan pernikahannya, dan juga, terbebas dari para pria yang mengajarnya, jika statusnya sudah menikah, dan itu ide bagus yang Hazel pikirkan, toh dia tidak akan pernah jatuh cinta pada Zain.
Meskipun Hazel tahu, malam itu dia pernah menghabiskan malam dengan Zain dengan normal, tapi Hazel pikir, karena Zain sedang dalam pengaruh obat, sama dengan apa yang dia rasakan saat itu.
"Zel, tapi..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian, aku akan menikah dengannya," sambung Hazel memotong perkataan Vano.
"Zel, aku pria normal, kenapa kamu memilih dia di banding aku?"
"Kamu bicara apa sih, Van?"
"Aku mencintaimu," entah sudah tidak bisa di hitung lagi Vano mengungkapkan perasaan cintanya pada Hazel.
"Aku juga menyukaimu, tapi hanya sekedar teman, tidak lebih dari itu Van, aku juga sudah menganggap kamu sebagai kakakku sendiri," jelas Hazel, yang sama sekali tidak tertarik atau pun memiliki perasaan lebih dari pada hanya sekedar teman. "Sudahlah jangan bahas hal itu lagi Van, aku mau pulang,"
"Zel,"
"Sial! Sial! Sial!" kesal Vano setelah kepergian Hazel. "Apa yang harus aku lalukan,"
*
*
*
Malam harinya, Ziu begitu bingung dengan sang Bos, padahal tadi siang dia kesal saat di ledek pulang pemotretan mampir ke rumah calon istrinya, tapi nyatanya malam hari, Zain mengajak Ziu untuk pergi ke rumah Hazel calon istrinya.
__ADS_1
"Tadi siang tidak mau, aku ajak ke rumah si seksoy, tapi sekarang ngebet ke sana, cie, kangen ya Bos?"
"Diam! Mengemudi yang benar!"
"Ini sudah benar Bos, kalau tidak benar, tentu saja sudah nyerusug sejak tadi,"
"Banyak omong kau Ziu, aku pecat baru tahu rasa,"
"Yakin, Bos mau pecat aku?" tanya Ziu, yang sudah tahu apa jawaban dari bosnya, mana mungkin sang Bos akan memecatnya, karena Ziu lah yang menemani Zain dari awal karirnya, tepatnya dari Zain belum di tinggal sang istri untuk selamanya, dan Ziu lah yang menemani Zain saat dia terpuruk, karena kehilangan sang istri untuk selamanya, hingga dia bisa bangkit dari keterpurukannya.
"Diam!"
"Oke, tapi aku ingin tahu, kenapa Bos ingin menemui calon istri Bos?"
"Aku ingin memajukan tanggal pernikahan,"
"Apa?!" tentu saja Ziu begitu terkejut dengan apa yang sang Bos katakan, dia masih ingat, sang Bos tidak menginginkan pernikahan itu, jika bukan karena tanggung jawabnya, tapi sekarang ingin memajukan tanggal pernikahan, tentu saja membuat Ziu terheran heran. "Apa ada yang Bos rencanakan?" tanyanya, yakin jika Zain mempunyai rencana lain.
Namun, Zain tidak menjawab pertanyaan dari sang asisten. Yang ada dia malah tersenyum, karena memang dia memiliki rencana tersendiri, kenapa dia ingin menikah cepat, karena akan cepat pula dia menceraikan Hazel, dengan alasan yang sudah dia susun matang.
Bersambung.................
__ADS_1