HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Bohong


__ADS_3

Aca yang baru saja ingin menghisap rokok yang berada di sela-sela jarinya, ia urungkan, ketika melihat Zain sudah berdiri tidak jauh dari meja tempatnya berada, dan dia juga melarangnya untuk tidak merokok, membuat Aca langsung mematikan rokok tersebut.


"Perokok pasif lebih beresiko terkena penyakit, karena di sebabkan asap yang di hirup, di banding dengan perokok aktif, maka dari itu, berhentilah merokok, aku tidak ingin istriku berteman dengan seseorang yang merokok seperti kamu, paham!"


Aca langsung menatap pada Zain, bukan hanya ia, tapi juga dengan Ana, dan kini keduanya saling pandang.


"Apa kamu memikirkan hal yang sama An?" tanya Aca, karena ia pikir Zain berbeda dengan mendiang suami Hazel, yang tidak keberatan, saat ia merokok di dekat Hazel.


"Tidak, benar apa yang di katakannya, kamu jangan merokok lagi,"


"Kenapa kamu membuat aku kesal, sih!" gerutu Aca pada sang sahabat, dan kini kembali menatap ada Zain. "Hai Tuan tampan, siapa kamu melarang aku, dan bicara seperti itu, hingga mengancam untuk aku tidak beteman dengan Hazel, aku lebih dulu mengenal Hazel di banding kamu, jadi jangan bicara seperti itu," ucap Aca sedikit kesal.


Namun, Zain tidak ingin menanggapi ucapan dari Aca, dan kini mendekati sang istri.


"Zel, kita pulang," ajak Zain ketika melihat sang istri tidak baik-baik saja.


"Heh, tampan, aku sedang bicara dengan kamu. Jangan mentang-mentang kamu sudah menjadi suami dari Hazel, seenaknya saja melarang dia berteman dengan aku, asal kamu tahu setengah hidupku sudah bersama dengannya,"


"Maaf, aku sudah lancang bicara," sambung Zain, yang kini membantu sang istri beranjak dari duduknya. "Maaf, aku juga harus membawa istriku pergi,"


"An, Ca. Aku pulang dulu ya, aku benar-benar pusing,"


"Iya Zel, tidak masalah. Pulanglah, dan istirahat," sambung Ana.

__ADS_1


Dan Hazel langsung meninggalkan kedua sahabatnya, dengan di bantu sang suami berjalan keluar dari kafe dimana sedari tadi Hazel berada.


"Kok aku tidak suka dengan Zain ya," ujar Aca setelah kepergian sang sahabat bersama suaminya.


"Dulu kamu bilang sangat menyukainya,"


"Itu dulu, tidak untuk sekarang, setelah dia mengatur atur aku seperti tadi,"


"Tapi ada bagusnya juga Ca, biar kamu berhenti merokok,"


"Masa setelah sekian purnama bibir bawah aku tidak merokok, sekarang bibir atas aku juga harus berhenti merokok, tidak bisa, An. Aku tidak sanggup, kecuali..."


"Carikan rokok untuk bibir bawah kamu," sambung Ana memotong perkataan sang sahabat, tahu apa yang akan dikatakannya.


"Terus dengan Riki bagaimana? Masih?"


"Masih, tapi sudah mulai bosan, aku ingin mencoba rasa lain gitu,"


"Oh walah dasar, kapan kamu insaf, ingat umur Ca,"


"Maka dari itu, di umurku yang sekarang, aku butuh barang baru biar dapat sensasi berbeda,"


"Insaf Ca, insaf,"

__ADS_1


"Nanti gampang, oh ya An. Boleh nyoba milik suami kamu?"


"Langsung aku kirim ke pemakaman kamu,"


"Bercanda kali," sahut Aca dan tertawa, setelah meledek sang sahabat.


Hazel dan juga Zain duduk bersebelahan di bangku penumpang mobil yang sedang dikendarai oleh Ziu.


"Zain,"


"Iya Zel,"


"Kenapa kamu tadi menjemput aku?"


"Tidak, siapa juga yang menjemput kamu, tadi aku juga sedang berada di kafe itu, dan kebetulan melihat ada kamu, yang sudah, aku menghampiri kamu, ketika aku melihat kamu seperti tidak baik-baik saja," bohong Zain.


"Tapi tadi kamu menghubungi aku, dan bilang sudah berada di rumah,"


"Belum, hanya sedang perjalanan menuju kearah rumah, tapi aku urungkan dan pergi ke kafe tadi, karena ingin menikmati hidangan yang terkenal di kafe tadi," bohong Zain lagi, padahal ia sudah berada di rumah, dan memang berniat untuk menyusul Hazel, takut terjadi sesuatu pada sang istri yang sedang tidak baik-baik saja.


"Bohong," sahut Ziu dari bangku pengemudi.


Bersambung.............

__ADS_1


__ADS_2