
Mendengar Vano mengatakan kata menikah, yang terdengar hingga telinga Zain, dimana ia sedang bersama dengan Ed dan juga En, membuatnya kini mendekati Vano, yang duduk di kursi berhadapan dengan sang istri, di meja makan.
Dan ia pun langsung menoyor kepala Vano, alhasil membuatnya menoleh pada Zain.
"Zain, apa yang kamu lakukan sih?"
"Barusan kamu bicara apa? Coba ulang?"
"Oh itu, Hazel bilang kan aku sudah bangkotan, dan tidak pantas mendekati Zi, maka dari itu, aku tidak ingin mendekati putri kamu, tapi langsung menikahinya," Vano memperjelas ucapannya. "Bagaimana, boleh tidak Zain? Pasti boleh kan?"
"Enak saja!" sambung Zain dan kembali menoyor kepala sahabat sang istri, yang sekarang juga menjadi sahabatnya, tidak terima dengan yang di ucapkannya.
"Hei, santai aja bro,"
"Gimana aku mau santai, awas saja kalau kamu mendekati Zi, aku tidak terima,"
"Aku juga tidak terima," sahut Hazel setuju dengan sang suami. "Aku tidak ingin Zi dapat barang bekas seperti kamu,"
"Hei, Zel. Bekas dari mananya, masih untuh kok, kalau tidak percaya coba kamu lihat,"
Zain kini beralih memukul pelan bahu Vano, setelah mendengar apa yang di katakannya.
"Jangan nodai mata istriku dengan barang bekas kamu!"
"Bekas dari mana Zain, orang bentuknya dan rasa juga masih sama, mau nyoba?"
"Najis, kamu pikir aku terong makan terong!" kesal Zain. Dan kini menatap pada Vano kembali. "Awas ya, kalau kamu mendekati Zi,"
__ADS_1
"Ya elah Zain, tadi aku hanya bercanda kok,"
"Yakin?" tanya Hazel.
"Iya Zel, aku tidak tertarik dengan anak bau kencur, tipe aku tuh janda-janda bohay, ya seperti kamu lah," ucap Vano, di akhiri mengaduh kesakitan, karena Zain yang masih berada di tempatnya kini menarik sambil memutar telinganya. "Zain, sakit tahu,"
"Lagian bicara seenak jidat, bilang istiku janda, sahabat macam apa kau!" kesal Zain.
"Jangan marah dulu ngapa sih, Zain. Maksud aku tuh, saat Hazel masih janda dulu, sebelum menikah dengan kamu, begitu. Kalau sekarang tentu saja aku tidak tertarik dengan istri kamu, apa kamu tidak lihat body dia bukan lagi bohay, tapi endut,"
Hazel melempar sendok yang berada di hadapannya ke arah sang sahabat, setelah mendengar apa yang di katakan oleh Vano, tapi dengan segera sendok tersebut di tangkap oleh Vano.
"Sialan kau, Van. Tega teganya kamu body shaming aku,"
"Aku tidak bermaksud begitu, orang kamu memang sekarang endut," ucap Vano lagi untuk meledek sang sahabat.
"Sayang, Vano kurang ajar,"
"Sayang!" teriak Hazel memotong perkataan dari sang suami, tahu apa yang akan dikatakannya. "Awas kau, tidak dapat jatah baru tahu rasa,"
"Syukurin," kata Vano, sambil menahan tawa.
"Ini semua gara-gara kau, kampret!" seru Zain sambil mendorong bahu Vano, sebelum mendekati sang istri. "Sayang,"
"Pergi! Jangan dekati aku, tidak ada jatah selama sebulan,"
"Ish, kok begitu, jangan dong sayang, masa lele aku harus di kandangi selama satu bulan, bisa mati rasa dong," bujuk Zain, sambil meraih tangan sang istri. "Dengarkan aku, meskipun kamu gendut tapi..."
__ADS_1
"Zain!" teriak Hazel karena sang suami bilang gendut padanya.
"Eh maksud aku, sedikit berisi, sayang. Tapi kamu tambah sexy kok, percaya padaku, dan aku suka kamu seperti ini, suer,"
"Bohong Zel," sambung Vano sambil tersenyum, untuk memperkeruh suasana.
"Diam kau kampret!"
"Iya musang,"
Dan Zain tidak lagi menanggapi ucapan dari Vano, dan hanya meliriknya dengan kesal, lalu membujuk istrinya agar tidak marah lagi, dan setelah sekian lama membujuk, akhirnya Hazel tidak lagi marah, apa lagi sang suami mengingatkan kembali, percakapan awalnya tentang Vano dan juga Zi.
"Eh kenapa cepat sekali kalian berbaikan?" tanya Vano, yang melihat sang sahabat kini bermesraan kembali.
Namun, tidak di jawab oleh keduanya, yang kini menatap pada Vano.
"Heh, kenapa kalian menatap aku seperti itu?"
"Jika kamu tidak tertarik dengan Zi, kenapa kamu sering menjemput dia ke sekolah?" tanya Hazel penasaran.
"Kamu nanya? Kamu bertanya tanya?"
"Sialan!"
*
*
__ADS_1
*
Lanjut? Apa stop ekstra Part nya?