HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Ekstra Part 2


__ADS_3

"Pa kenapa? Ada nyamuk Ya?" tanya Zi melihat sang papa menepuk jidatnya sendiri.


"Iya," jawab Zain yang kini merebahkan tubuhnya.


Tentu saja Zi langsung menarik tangannya untuk bangun.


"Zi, papa mengantuk, lebih baik kamu bersiap ke sekolah,"


"Nanti Pa, sekarang papa bangun, aku mau lihat papa main kuda kudaan, biar cepat punya adik cewek," ucap polos Zi, yang tidak sesuai umur.


Dan kali ini Hazel yang menepuk jidatnya, mendapati anak sambungnya tersebut, sungguh luar biasa polosnya, kadang ia bingung sang suami dulu mendidiknya seperti apa.


Mungkin sebagian orang akan menilainya kurang wajar, tapi itulah kenyataannya.


Zain pun terpaksa bangun dan kini menatap pada sang putri.


"Zi, papa mohon padamu, jangan bicara yang aneh-aneh, oke!"


"Bukannya aneh-aneh Pa, tapi aku ingin tahu, biar nanti aku bisa bikin adik bayi cewek, jika papa menunjukkan padaku,"


"Ya Tuhan anak ini," Zain mengacak acak kasar rambutnya sendiri, tidak tahu bagaimana caranya menimpali ucapan yang sang putri katakan.


"Begitu juga anakmu, Sayang, mungkin dulu kamu bikinnya tidak mentok kali, jadi ya begini," bisik Hazel tepat di telinga sang suami.


Mendengar bisikan sang istri membuat Zain langsung menoleh kearahnya. "Kamu merasakan mentok apa tidak?"


"Mentok sih, sayang,"


"Ya sudah," sambung Zain yang kini menoleh pada sang putri kembali.

__ADS_1


"Apa yang mentok Pa?" tanya Zi yang baru saja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.


"Otak papa, heran papa sama kamu. Kamu sudah kelas dua SMA tapi..." Zain tidak jadi meneruskan ucapannya, hampir saja ia keceplosan mengatakan jika sang putri oon.


"Iya Pa, aku sudah kelas dua, masa papa lupa,"


"Ya sudah sana, kembali ke kamar kamu, dan bersiap ke sekolah, karena kelas tiga nanti pelajarannya tambah susah,"


"Males Pa," ujar Zi yang memang tidak menyukai semua mata pelajaran di sekolah, itu lah mengapa nilainya selalu di bawah rata-rata.


Namun, jangan salah, meskipun semua nilai mata pelajaran, tidak ada yang bagus. Tapi Zi salah satu murid berbakat di sekolah desainer yang ia ikuti, bukan hanya itu, beberapa desain yang ia gambar telah di pilih dan akan di kembangkan oleh desainer ternama, untuk selanjutnya akan diikutkan dalam pameran mode yang akan di selenggarakan di luar negeri.


Dan Zain paham betul tentang putrinya tersebut, mungkin memang sang putri berbakat bukan dalam pelajaran, melainkan di dalam karya seni.


"Kalau kamu malas, bagaimana nanti dengan cita-cita kamu menjadi seorang desainer, hayo coba?"


"Itu beda Pa, tidak harus mikir rumus ini itu lah segala macam yang membuat aku pusing, tinggal menggambar apa yang ada di otak aku,"


"Ah Pa, jangan bahas itu lah, sekarang buruan main kuda kudaan,"


"Zi, sayang. Kudanya sedang sakit, jadi belum bisa di naiki," sambung mami Camel yang baru masuk ke dalam kamar.


"Oh begitu Oma?" tanya Zi.


"Iya sayang, jadi sabar ya, pasti papa kamu nanti akan membuatkan adek cewek untuk kamu,"


"Kapan kira-kira Oma?"


"Setelah kudanya sembuh," jawab mami Camel sambil mengukir senyum.

__ADS_1


"Sebentar Oma, dari tadi kan, Oma ngomongin kuda, memang kudanya yang sedang sakit di taruh mana sama Papa?"


"Ada, itu di..."


"Mi!" seru Hazel sambil melotot kearah sang mami, agar mami Camel tidak jadi meneruskan ucapannya, kemudian Hazel menoleh pada papi Santos yang baru masuk ke dalam kamar. "Pi, Mami kambuh lagi nih, ngajarin anak tika benar,"


Mendapat aduan dari Hazel sang putri, membuat papi Santos kini mendekati sang istri, lalu menarik lengannya.


"Sayang, mulut kamu bicara apa hah?" tanya Papi Santos.


"Kuda kudaan Opa," malah Zi yang menjawab pertanyaan dari papi Santos.


Membuat papi Santos langsung menghembuskan nafasnya kasar, tahu persis apa yang sang istri katakan. Kemudian ia tersenyum ke arah Zi.


"Zi, jangan dengarkan oma kamu ya, tidak ada kuda kudaan seperti apa yang oma kamu katakan,"


"Jadi Oma bohong?"


Papi Santos pun langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Zi.


"Ish, Oma membohongi aku, tidak seru ah, lebih baik aku ke Tukiman dan Tukimin,"


"Ed dan En, Zi," Zain membenarkan ucapan sang putri.


"Tidak mau!" sahut Zi yang kembali menghampiri kedua adiknya.


Sedangkan itu, papi Santos berbisik di telinga sang istri. "Karena ucapan kamu pada cucu kita, puasa bibir bawah dan bibir atas selama satu minggu,"


"Ah sayang, tidak asik, aku tidak mau,"

__ADS_1


"Syukurin, makanya mulut kondisikan, sudah nenek-nenek masih saja lemes," sahut Hazel setelah mendengar bisikan sang papi pada sang mami.


Komen lanjut, untuk Ekstra Part selanjutnya oke!


__ADS_2