
"Mr. Jo," ucap Ev lagi, dan mengucek kedua matanya, untuk memastikan jika yang sedang di lihatnya adalah Mr. Joni, mantan guru BP nya. "Pantas saja, jalan main nabrak-nabrak, wong matanya sudah rabun karena faktor usia," kata Ev, yang sudah memastikan jika yang ia lihat adalah Mr Joni, padahal Mr Joni baru berusia tiga puluh tahu, yang belum bisa dikatakan tua, tapi bagi Ev yang basih belia, usia pria diatas di dua puluh lima tahun tetap saja sudah tua.
Mr Joni tidak menanggapi ucapan mantan anak didiknya, yang sangat, sangat super, dan kini tersenyum kearah Ev. "Apa kabarnya Ev?"
"Sangat baik, apa lagi setelah Mr Jo pergi, rasanya duniaku sangat damai. Oh ya, Mr Jo datang kesini untuk apa?" tanya Ev penasaran. Tidak mungkin kan, Mr Joni akan kembali, sedangkan pihak sekolah sudah memiliki guru BP baru.
"Kepala sekolah yang memanggil Mr kesini,"
"Untuk apa?" tanya Ev lagi dengan kekepoannya. "Mr Jo tidak akan kembali kan? Aku harap sih tidak, hariku suram, ketika melihat Mr Jo."
Dan lagi Mr Jo hanya tersenyum mendengar celotehan dari Ev. "Ev, bagaimana dengan pernikahan mama kamu?"
Ev menautkan keningnya mendengar pertanyaan dari Mr Joni. "Untuk apa Mr Jo menanyakan tentang mama?" tanya Ev balik, tentu ia sangat penasaran, pasalnya pertemuannya kembali dengan Mr Jo, mantan guru BP nya tersebut malah menanyakan tentang sang mama.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertanya, oh ya, Mr ke ruangan kepala sekolah," jawab Mr Jo yang langsung meninggalkan Ev, dan berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
"Dasar aneh," ucap Ev sambil menatap Mr Jo yang sudah menjauh. Dan Ev kembali melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah seorang diri, tanpa Zi, karena saudaranya itu sudah membawa bekal, tidak seperti dirinya, sejak dulu tidak sama sekali mau membawa bekal ke sekolah.
Setelah tiba di kantin, Ev langsung tersenyum senang ketika melihat ada Albert sedang duduk dengan berapa murid lainnya sambil menyantap makanan.
__ADS_1
Tentu saja Ev langsung menghampirinya, dan ini saatnya untuk ia harus bisa mendekati Albert, yang ia tahu menyukai Zi.
"Siang," sapa Ev yang kini menarik kursi tepat dihadapan Albert.
Namun, tidak dihiraukan oleh Albert yang terus menyantap makanan di hadapannya.
"Albert, boleh aku bicara denganmu,"
"Sorry, aku tidak biasa bicara dengan wanita murahan seperti kamu,"
"Eleh, sok jual mahal. Aku tahu siapa kamu, murahan juga," batin Ev sambil mengukir senyum, karena Ev sudah mencari tahu, jika Albert adalah seorang playboy di sekolah sebelumnya, sebelum pindah sekolah, dimana sekarang berada.
"Oke, tidak masalah kamu mau panggil aku murahan atau apa pun, kedatangan aku kesini, hanya ingin memberi tahu kamu, jika Zi ingin kamu menemuinya nanti malam di kafe XXX,"
Mendengar apa yang Ev katakan, membuat Albert begitu antusias.
"Benarkah?"
"Iya," bohong Ev.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemuinya nanti malam,"
"Sip," sahut Ev yang langsung tersenyum.
*
*
*
"Makanya Bos, pelan-pelan saja, main gas pol sih, sudah tahu Bos Hazel sedang hamil, main colok-colok saja," ujar Ziu yang tahu kenapa bosnya tersebut berada di rumah sakit.
"Jangan banyak bicara kau, mana perlengkapan mandi yang aku inginkan?" tanya Zain, yang menyuruh sang asisten membawakan perlengkapan mandi ke rumah sakit, karena memang Zain belum mandi setelah melakukan aktifitas panasnya tadi pagi.
Dengan segera Ziu menyodorkan paperbag yang dibawanya pada sang Bos.
"Nih Bos, sana mandi yang bersih jangan sampai di gerumuti semut tuh otong. Oh ya Bos, rasanya lebih enak kan, dari pada main arisan sama miss Lux?"
"Berisik!"
__ADS_1
Bersambung...............