HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
S2 TIDUR DENGANKU!


__ADS_3

"Terima kasih Bunda," ucap Rian, setelah mencium bibir Bita.


"Sama-sama ayah sayang," sahut Bita dan kini meraih satu pipi Rian, lalu mengelusnya, tak lupa mengukir senyum.


Tentu saja langsung mendapat senyuman balik dari Rian. "Mau lagi?"


"Mau," jawab Bita.


"Tapi setelah ini ayah antar kamu pulang ya bunda, ini sudah malam,"


"Ish, bunda masih ingin bersama ayah, bobo di rumah ayah juga bunda mau," sambung Bita sambil tersipu malu.


"Memangnya belum puas?"


"Tentu saja belum, ayah,"


"Baiklah," Rian pun kembali mencium bibir Bita.


Tanpa menyadari jika Vano sudah berdiri tepat di belakangnya.


Namun, tidak dengan Bita yang melihat Vano dengan jelas dari cahaya remang-remang.


Membuat Bita langsung melepas paksa bibir Rian yang masih menempel di bibirnya.


Tentu saja hal tersebut membuat Rian terkejut, padahal baru saja sang pacar menerima bibirnya, tapi sekarang melepasnya dengan paksa.


"Bunda, ada apa?" tanya Rian.


"Ada pengganggu ayah,"


Mendengar ucapan Bita dan juga Rian, membuat Vano ingin sekali muntah, karena panggilan keduanya begitu alay bin jamet yang merusak telinganya.


"Sampah masyarakat! Dasar tidak modal," kata Vano, untuk menyindir keduanya.


"Jaga mulut Pak Vano!" sahut Bita yang kini baranjak dari duduknya setelah mendengar apa yang Vano katakan.

__ADS_1


"Elah jadi perempuan murahan banget. Mau maunya di ajak pacaran di tempat seperti ini, berkelas sedikit bisa kan, sewa oyo atau apa lah, masa disini. Dasar ora modal!"


Tentu saja, Rian yang sudah menoleh pada Vano, kini menatap pada Bita, lalu beranjak dari duduknya


"Bunda, siapa dia?" Apa bunda mengenalnya?"


"Pemilik rumah dimana bunda bekerja ayah,"


"Bunda, ayah. Lebay sekali kalian ini," sahut Vano dan tertawa dengan kencang.


Membuat Bita yang tidak ingin menimpali Vano, meraih tangan Rian sang pacar yang ingin mendekati Vano. "Ayah, jangan dengarkan dan timpali apa yang dikatakannya, dia sedikit tidak waras," ujar Bita, lalu menarik tangan sang pacar untuk pergi meninggalkan Vano, karena ia enggan untuk menimpali ucapan dari Vano.


Namun, baru saja melangkah. Langkah Bita sudah terhenti karena tangan Vano menahan tangannya. Dan Bita pun langsung menatap padanya. "Lepaskan Pak!"


"Enak saja, tidak bisa, kamu sudah membohongi kami semua. Kamu bilang sakit, tapi berkeliaran malam-malam seperti setan,"


"Pak Vano yang setan, karena tiba-tiba muncul!" sahut Bita kesal.


"Kalau bicara tuh yang benar!"


"Terus Pak Vano pikir, Pak Vano benar? Tidak! Dasar setan!"


"Kurang ajar!"


"Eleh, baru calon istri. Aku doakan kalian tidak akan berjodoh," kata Vano sambil menyunggingkan senyum sinis.


"Kurang ajar!" Rian ingin menghajar Vano, tapi dengan segera Bita menahannya.


"Ayah, biarkan saja dia. Percuma orang tidak waras seperti dia di ajak bicara, lebih baik kita pergi!" ajak Bita, dan melangkahkan kakinya yang sempat tertunda.


"Kalau kamu meninggalkan tempat ini, jangan harap kamu bisa tetap kembali bekerja sebagai perawat Ibuku!"


Mendengar ancaman dari Vano, memutuskan Bita untuk kembali menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Vano. "Pak Vano mau memecat aku? Coba saja kalau berani, ingat ya Pak. Hanya dengan aku ibu Vivi merasa nyaman."


"Mungkin tidak lagi, setelah kamu berbohong sakit, dan minta pulang, tapi nyatanya kamu berada disini," sahut Vano.

__ADS_1


"Bodo amat, ibu Vivi tidak akan melihat aku,"


"Kata siapa, ibuku ada di mobil," sahut Vano.


Membuat Bita langsung melepas genggaman tangannya, yang masih menarik lengan Rian.


"Pak Vano pikir aku akan percaya?" Tidak!"


"Nak!" panggil ibu Vivi pada Vano.


Tentu saja Bita sangat mengenal suara itu, membuatnya langsung menoleh kearah sumber suara dimana Ibu Vivi baru saja keluar dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari nya. "Bu Vivi?"


"Iya, dan siap-siap kamu kehilangan pekerjaan," jawab Vano.


Tapi tidak dihiraukan lagi oleh Bita yang kini menatap pada Rian. "Ayah,"


"Iya Bunda,"


"Ayah pulang dulu ya, ada bos aku,"


"Tidak apa-apa kalau ayah tinggal?"


"Tidak ayah,"


"Baiklah," Rian pun langsung mencium pipi Bita, tentu saja disaksikan oleh Vano yang menatapnya tidak suka. "Jangan lupa ya Bunda,"


"Tenang ayah, nanti bunda transfer,"


Vano kini mengerutkan dahinya mendengar percakapan Bita dan juga Rian yang sudah pergi.


"Pak Vano, jangan pecat aku ya?" pinta Bita yang takut, jika ibu Vivi akan memecatnya, karena ia ijin untuk beristirahat, tapi malah berkeliaran malam-malam dan ibu Vivi melihatnya.


"Ada syaratnya,"


"Apa itu Pak?"

__ADS_1


"Tidur denganku!"


Bersambung...........


__ADS_2