HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Sakral


__ADS_3

Empat bulan berlalu, kini usia kandungan Hazel sudah memasuki bulan ke tujuh, dan tidak ada lagi keluhan yang ia rasakan. Dan hubungannya dengan sang suami begitu harmonis, meskipun ada beberapa masalah kecil, tapi bisa keduanya lalui.


Seperti pagi ini, keduanya saling adu mulut, sebenernya sih, hanya Hazel, yang begitu kesal, pada sang suami karena pulang syuting pagi buta.


"Mending tidak usah pulang sekalian!" seru Hazel yang berdiri sambil bertolak pinggang, tak lupa tatapan tajam ia tunjukkan pada sang suami, yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur, tanpa memudarkan senyumannya, berharap sang istri tidak akan marah, karena ia pulang syuting hingga pagi buta.


"Maafkan aku, sayang," ucap Zain, panggilan kesayangan yang beberapa bulan ini, ia tujukan pada sang istri, begitu pun dengan Hazel yang beberapa bulan ini juga memanggil sang suami dengan panggilan sayang.


"Maaf, maaf! Sudah berapa kali kamu pulang syuting tidak tahu waktu, padahal kamu sudah berjanji tidak akan mengambil pekerjaan di luar batas seperti ini!"


"Maaf aku khilaf, sayang," sambung Zain yang kini meraih tangan sang istri, tapi dengan segera Hazel menampik tangannya. "Sayang, jangan marah ya, oke aku janji tidak akan..."


"Eleh, janji, janji. Janji kamu itu palsu," sambung Hazel memotong perkataan sang suami.

__ADS_1


Dan kali ini membuat Zain beranjak dari duduknya, lalu membalik tubuh sang istri, kemudian memeluknya dari belakang, tidak mungkin ia memeluk sang istri dari depan, karena perut sang istri begitu besar di usia kandungannya yang sudah menginjak usia tujuh bulan, dimana ada dua bayi yang berada di rahim sang istri, tapi jenis kelamin keduanya masih di sembunyikan, dan akan mereka ketahui dalam pesta Gender reveal, yang akan diadakan nanti siang, dimana akan dihadiri kerabat dekat mereka, tapi tidak dengan kedua orang tua Hazel yang tidak bisa menghadiri pesta tersebut, karena sedang ada urusan yang tidak bisa keduanya tinggalkan.


"Jangan marah lagi, sayang. Kalau marah, kamu semakin cantik dan menggairahkan," bisik Zain tepat di telinga Hazel, tak lupa kedua tangannya mengelus perut sang istri. "Bilang saja kangen, karena semalam aku tidak bisa tidur sambil memeluk kamu,"


"Bukan hanya semalam, tapi sudah berapa malam, kamu tidur tidak memeluk aku," sahut Hazel, yang sudah hampir satu minggu tidak tidur di peluk sang suami, karena Zi sang putri selalu tidur bersama dengannya, dan saat semalam Zi tidak tidur bersamanya, sang suami malah tidak pulang, dan baru pulang pagi-pagi.


"Maaf, sayang," ucap Zain yang kini melepas pelukannya, lalu membopong tubuh sang istri, kemudian merebahkannya diatas kasur, dan Zain pun langsung menyusul, dan kini mengungkung tubuh sang istri.


"Sayang, aku sedang marah padamu!" kesal Hazel.


"Pokoknya aku akan tetep..." Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Zain kini sudah mencium bibirnya.


Hazel pun akhirnya melingkarkan kedua tangannya di belakang leher sang suami, dan menikmati apa yang sedang sang suami lalukan.

__ADS_1


Tapi setelahnya ia melepas tautan bibirnya, ketika tangan sang suami sudah menyelusup masuk ke dalam dress rumahan yang di kenakannya, untuk mengelus perutnya, lalu naik keatas untuk meremas satu gunung kembarnya dengan sangat lembut, karena Zain tahu, asi sang istri sudah keluar, dan ia tidak ingin membuang buang asi tersebut dengan meremasnya dengan kencang, dan ia yang dulu sangat suka menghisap bulatan kecil yang berada diatas gunung kembar sang istri, sekarang tidak ia lakukan, cukup menghisap daging gunung kembarnya, tidak ingin nutrisi yang terkandung di bulatan tersebut habis dihisap olehnya, dan tidak tersisa lagi, untuk kedua buah hatinya yang berada di dalam rahim sang istri.


"Sayang, ada apa?" tanya Zain, karena sang istri melepas tautan bibirnya.


"Pintu kunci dulu,"


"Oh ya," Zain pun langsung turun dari atas kasur, benar apa yang sang istri katakan, ia harus menguci pintu dulu, jangan sampai ada yang merusak momen sakral tersebut.


Dan baru saja Zain ingin melangkahkan kakinya menuju pintu, tiba-tiba Zi sang putri masuk.


"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Zi.


Alhasil membuat Zain langsung menepuk jidatnya sendiri. "Ya Tuhan, pengganggu telah tiba,"

__ADS_1


Bersambung...................


__ADS_2