HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Asupan Mata


__ADS_3

Hazel yang masih terbaring di ranjang pemeriksaan, di dalam ruangan dokter yang baru saja memeriksanya, dengan segera beranjak dari tempatnya dan turun dari ranjang tersebut, di bantu oleh perawat yang masih bersamanya, ketika ia mendengar penuturan dari dokter yang baru saja memeriksanya, dan mengatakan jika dirinya sedang hamil.


Kemudian ia berjalan mendekati meja kerja sang dokter dimana ada Zain disana. "Dok, katakan sekali lagi? Aku hamil? Tidak mungkin itu Dok,"


Dokter tersebut pun kini mengalihkan tatapannya pada Hazel, setelah mendengar apa yang dikatanya.


"Tidak mungkin bagaimana Nyonya, anda pasangan suami istri bukan? Kenapa kalian semua terkejut dengan kabar menggembirakan yang selalu di nanti olah pasangan suami istri?" tanya dokter tersebut yang heran dengan reaksi pasangan suami istri yang sekarang sudah duduk tepat di depan meja kerjanya.


"Apa mungkin hanya melakukan sekali bisa langsung hamil?" tanya Zain balik, tanpa merespon pertanyaan dari dokter tersebut.


"Tentu saja bisa. Eh sebentar, dari ucapan Tuan berarti..."


"Kami baru melakukannya satu kali, Dok," sambung Hazel memotong perkataan dari dokter tersebut.


"Wow topcer juga bibit Tuan ini, sekali nyiram langsung tumbuh," ujar Dokter tersebut sambil mengukir senyum. "Sebentar Tuan dan Nyonya, kalian sepasang suami istri, dan kalian bilang baru sekali melakukannya, berarti dua bulan yang lalu kalian melakukan hubungan suami istri?" tanya dokter tersebut yang sedikit heran, karena usia kandungan Hazel sudah dua bulan. "Yang benar saja, itu sungguh di luar nalar, Tuan dan Nyonya,"


Namun, Zain maupun Hazel tidak ingin menanggapi pertanyaan dan juga ucapan dari dokter tersebut, tidak mungkin juga keduanya akan mengatakan sejujur apa yang terjadi.


"Dok, berapa usia kandungan istriku?" tanya Zain untuk mengalihkan pembicaraan barusan.


"Sudah dua bulan,"


Hazel mau pun Zain langsung mengingat lagi kejadian dua bulan lalu di mana keduanya menghabiskan malam, dan keduanya kini sama-sama menarik nafas panjang.


*


*


*

__ADS_1


Setelah kepulangan dari rumah sakit, Hazel maupun Zain yang sudah berada di dalam kamar tempat mereka menginap saling diam dengan pikirannya masing-masing, masih tidak percaya jika kejadian di malam itu membawa sebuah kehidupan baru di dalam rahim Hazel.


"Bagaimana Zain?" tanya Hazel memecah keheningan di dalam kamar tersebut, membuat Zain yang tadi duduk di pinggiran ranjang, kini menoleh pada Hazel yang juga duduk di pinggiran ranjang, disisi yang lain.


"Mau bagaimana lagi, kita terima saja anak itu, anak itu titipan dari Tuhan yang harus kita jaga dan kita sayangi setulus hati,"


"Maksud aku bukan itu,"


"Terus?"


"Perceraian kita?"


"Kita pikirkan saja nanti," jawab Zain yang tidak ingin membahas hal itu dulu, karena saat ini ia benar-benar bingung. "Zel, kamu belum makan malam, kamu mau makan apa, biar aku pesankan?"


"Aku tidak berselera makan, Zain, memikirkan makanan saja aku sudah ingin muntah,"


"Eh sebentar Zain, aku ingin sekali makan rujak,"


"Ini sudah malam, jangan macam-macam kamu, lagian perut kosong mau makan rujak yang ada nanti perut kamu sakit,"


"Tapi aku menginginkannya,"


"Tapi..."


"Kalau kamu tidak mau membelikannya, aku bisa pergi dan beli sendiri," sambung Hazel memotong perkataan Zain, dan beranjak dari duduknya.


"Eh tunggu, oke aku akan membelikannya, kamu tetap berada disini, jangan keluar-keluar, nanti tambah sakit," pinta Zain yang langsung beranjak dari duduknya, kemudian keluar dari dalam kamar. "Ke mana aku harus mencari rujak," ucap Zain saat sudah keluar dari dalam kamar, dan melihat jam yang berada di pergelangan tangannya, dimana sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Zain mengingat lagi, dulu mendiang istrinya juga menginginkan rujak di jam sebelas malam seperti saat ini.


*

__ADS_1


*


*


"Ev,"


"Apa sih!" kesal Ev sambil menyingkirkan tangan Zi, yang sedari tadi memeluk lengannya.


"Yuk kembali ke kamar, ini sudah jam sebelas malam, nanti dicariin papa dan mama,"


"Ya elah, papa juga tahu kita masih di kafe ini," sambung Ev, dan memang Ev belum ingin kembali ke kamar dan ingin menikmati live musik yang berada di kafe tersebut, yang semakin malam, kafe tersebut semakin ramai, tentu saja banyak pria tampan, yang membuat matanya mendapat asupan Gizi.


"Tapi aku sudah tidak betah berada di sini, ayo kita kembali ke kamar," Zi menarik tangan Ev.


"Kamu balik sendiri, bisa kan,"


"Bisa, tapi kata papa kita harus sama-sama,"


"Ish menyebalkan sekali," gerutu Ev, mau tak mau ia mengikuti Zi, toh besok ia bisa datang kembali ke kafe tersebut.


Namun, baru saja melangkahkan kakinya, kini Ev menghentikannya, membuat Zi yang sedang memeluk lengannya, langsung menatap padanya.


"Ev, ada apa?"


"Lihat tuh," Ev menunjukkan jari telunjuknya pada sebuah meja yang tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang berada, saat ia sangat mengenal siapa yang sedang duduk di kursi meja tersebut.


"Ev, itu kan Mr. Jo,"


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2