
Zain yang panik karena sang istri masih memejamkan matanya, terus berteriak memanggil nama sang istri, tak hanya itu, ia juga memanggil dokter untuk segera datang, ketika dokter tersebut sedang mengintruksikan beberapa perawat untuk segera menyiapkan alat-alat untuk proses persalinan.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon sayang!" teriak Zain tepat di telinga sang istri, dan kini menangis membayangkan apa yang seharusnya tidak ia bayangkan, karena jujur, ia masih trauma atas kematian mama dari Zi yang meninggal setelah melahirkan sang putri. "Sayang!
Plak!
Tamparan mendarat di salah satu pipi Zain yang di lakukan oleh Hazel.
"Berisik bodoh!" kesal Hazel saat ia sedang memejamkan matanya untuk menetralisir rasa sakit karena kontraksi yang sudah sering terjadi, sang suami malah menangis dan berteriak tepat di salah satu telinganya.
Membuat dokter kandungan yang berada di ruangan tersebut langsung tersenyum melihat pasangan suami istri tersebut.
"Apa kamu ingin membuat aku tuli?!" kesal Hazel.
Namun, tidak di hiraukan oleh Zain, yang kini menghentikan tangisnya, lalu meraup wajah sang istri, kemudian menciumi setiap inci wajah Hazel.
"Ah sayang, sakit," Zain mengaduh kesakitan, karena rambutnya di jambak oleh sang istri.
"Risih tahu, tidak tahu apa, aku membutuhkan ruang gerak yang cukup luas,"
"Ya maaf sayang, pikiran aku sudah jauh kemana-mana, melihat kamu memejamkan mata,"
"Aku memejamkan mata untuk menahan sakit, bodoh. Lebih baik kamu keluar dari sini deh!" kesal Hazel karena sang suami bukannya menyemangati, malah menangis.
"Tidak, sayang. Aku akan tetap berada disini,"
"Ya sudah jangan menangis, dan jangan Berisik,"
"Baik sayang. Emmmmm," Zain menahan sakit, karena satu lengannya di cengkram oleh sang istri yang sedang menahan sakit, karena kontraksi yang datang sudah mulai teratur.
Dan setelah menunggu kurang lebih dari jam, akhirnya proses persalinan Hazel di mulai, tentu saja Zain selalu berdiri di samping sang istri, untuk menyaksikan proses persalinan Hazel, yang berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala apa pun, meskipun melahirkan bayi kembar.
Hanya saja setelah kedua bayi tersebut lahir, langsung dimasukkan ke inkubator, karena berat badan kedua bayi tersebut belum ideal.
Ciuman bertubi-tubi Zain berikan untuk sang istri, setelah Hazel sudah keluar dari ruang persalinan, dan sekarang berada di ruang perawatan VIP yang cukup luas dengan fasilitas yang mumpuni, dan kedua bayi yang belum lama ia lahirlah juga berada di ruangan tersebut, tentu dengan dua perawat yang selalu mengawasinya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang demi anak kita,"
Namun, bukannya menanggapi ucapan dari sang suami, Hazel malah menjauh wajah Zain.
"Sayang kenapa?"
"Sudah berapa kali kamu menciumi wajahku, yang ada nanti wajah cantikku ini peyot," jawab Hazel, karena entah sudah berapa puluh kali Zain menciuminya.
"Peyot juga aku tetap cinta sama kamu,"
"Harus lah, kalau tidak. Aku potong burung kamu," sambung Hazel. "Eh sayang, kita belum menyiapkan nama untuk mereka, kira-kira nama mereka siapa ya,"
__ADS_1
Zain pun berpikir sejenak mendengar apa yang sang istri katakan.
"Aku juga belum kepikiran sayang,"
"Ya sudah, kamu pikir-pikir dulu, dan cari nama untuk anak kita,"
"Eh bagaimana jika Ev dan Zi yang memberi nama pada adik mereka," usul Zain.
"Benar juga, kita tunggu mereka saja,"
"Sip, sayang,"
*
*
*
Ev dan juga Zi yang mendapat kabar jika sang mama sudah melahirkan semalam.
Pagi hari keduanya memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit, setelah meminta izin pada wali kelasnya, jika hari ini keduanya tidak akan masuk sekolah.
Setibanya di rumah sakit dimana sang mama di rawat, Ev dan juga Zi terlebih dahulu melihat kedua adiknya, yang masih berada di dalam inkubator, tentu tanpa menyentuh.
"Lucu ya Ev adik kita, dan aku yakin jika mereka perempuan pasti lebih lucu," ucap Zi, yang masih menginginkan adik perempuan.
"Iya in aja ya Thor, aku sedang malas bicara sama si dodol ini,"
"Tapi tetap banyakin cogan ya thor, harus!"
"Asiappp!"
Ev pun kini mendekati ranjang perawatan sang mama, dimana Hazel sedang duduk di atas ranjang tersebut, dan ia pun langsung memeluk dan mencium kedua pipi sang mama.
"Selamat Ma,"
"Terima kasih Ev, semoga nanti kamu akan jadi kakak yang baik untuk mereka,"
"Tentu Ma. Oh ya Ma, oma dan juga Opa sudah di beri tahu, jika kedua adik aku sudah lahir,"
"Tentu saja sudah, dan beberapa hari lagi mereka akan datang,"
"Nama kedua adik aku siapa Ma?" tanya Ev penasaran.
"Kebetulan kamu dan Zi ada di sini, mama dan juga papa ingin kalian yang memberi nama mereka,"
"Aku saja Ma. Yang memberi nama mereka," sahut Zi yang kini mendekati sang mama, dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Siapa Zi?" tanya Hazel penasaran.
"Tukiman, Tukimin,"
"Dasar tidak waras!" kesal Ev sambil mendorong bahu Zi. "Jangan mengada-ada kamu Zi,"
"Kenapa? Nama itu sedang terkenal Ev,"
"Terkenal dari mana, dasar dodol!"
"Di prindapan, dan banyak orang yang menyanyikan namanya, Tukiman, Tukimin, begitu Ev,"
"Pa, boleh tidak sih aku tukar tambah anak papa ini dengan orang lain, yang otaknya penuh,"
"Ev, bicara apa kamu," Hazel menarik tangan sang putri.
"Lagian dodol banget nih bocah,"
"Ssstt jangan begitu,"
"Ev, enak kali dodol, apa lagi yang rasa durian,"
"Sakarepmu!"
"Sudah-sudah, papa saja yang memberi nama mereka," ujar Zain menghentikan ucapan ketiganya.
"Siapa namanya sayang?" tanya Hazel ingin tahu.
"Zed, dan Ziven Lando," jawab Zain.
"Dan kita manggilnya, Ed dan En, oke," sambung Ev.
"Bagaimana sayang menurut kamu?" tanya Zain pada sang istri.
"Oke, sayang, nama yang bagus,"
"Tidak, harus Tukiman dan Tukiman," sahut Zi.
"Sakarepmu!" sambung Ev.
TAMAT
Terima kasih yang sudah mengikuti kisah mereka hingga akhir.
Untuk ekstra partnya menyusul ya guys!
Dan jangan bersedih, karena aku sudah membuat buku baru tentang Ev, silakan mampir dengan klik profil aku.
__ADS_1
Dan temukan judul bukunya seperti di bawah ini👇 selamat membaca!