HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
S2 INSAF PAK, INSAF


__ADS_3

Mendengar Vano meneriaki namanya membuat Bita langsung menghentikan langkahnya, lalu membalik tubuhnya untuk menatap pada Vano, yang terlihat kesal.


Tapi hal itu membuat Bita tersenyum senang, kapan lagi bisa membuat model yang sekarang merambah sebagai aktor dan juga prsenter, marah. Dan membuat Bita senang melihat wajah Vano marah.


Tentu saja melihat senyum dari bibir Bita, membuat Vano semakin kesal dengan perawat sang ibu.


"Pak Vano yang terhormat, aku tidak budeg, jadi jangan teriak-teriak oke!"


"Kalau begitu buruan buatkan aku makanan!"


"Ish, ternyata pak Vano yang budeg. Aku sudah bilang pada Pak Vano, disini aku hanya bekerja menjaga ibu Vivi, jadi selain itu aku tidak akan melakukannya. Paham!" tegas Bita lagi.


Namun, setelahnya ia mengukir senyum dan berjalan mendekati Vano kembali. "Tapi ada pengecualian nih Pak. Jika Pak Vano memberikan uang satu juta padaku sekarang juga, aku mau memasak makanan yang Pak Vano inginkan. Bagaimana?"


"Jangankan satu juta, dua juta juga aku akan berikan," jawab Vano yang kini balik mengukir senyum.


"Benarkah Pak?" tanya Bita semakin melebarkan senyumannya, kapan lagi hanya membuat makanan bisa dapat uang sebesar dua juta.


"Tentu saja benar. Tapi setelah kamu memasak, kamu harus tidur denganku,"


Mendengar ucapan dari Vano, senyum yang tadi mengembang dari bibir Bita kini memudar sudah. "Najis!" sahut Bita menimpali ucapan Vano. "Sadar Pak, Pak Vano ini sudah tidak muda lagi, insaf Pak, insaf. Apa Pak Vano tidak takut terkena penyakit menular," kata Bita yang tahu Vano adalah seorang player, bukan hanya dari berita infotaimen, tapi beberapa kali Bita melihat Vano keluar masuk ke dalam hotel bersama wanita yang berbeda.


Meskipun Bita tidak tahu pasti apa yang dilakukan Vano dengan wanita yang bersamanya, tapi apa lagi jika tidak melakukan anu.


"Sok tahu, kamu!"


"Eleh, aku pernah lihat Pak Vano masuk ke hotel dengan wanita yang berbeda loh,"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bita, membuat Vano menatap pada perawat sang ibu sambil memicingkan matanya.

__ADS_1


"Jika kamu melihat aku di hotel, berarti kamu juga berada di hotel dong. Terus apa yang kamu lakukan disana? Apa selain menjadi perawat kamu juga menjual diri?" tanya Vano yang malah penasaran dengan perawat sang ibu tersebut.


"Jangan menuduh loh Pak,"


"Aku tidak menuduh, aku sedang bertanya padamu,"


"Tapi pertanyaan Pak Vano itu seolah menuduh aku, tahu."


"Terus, untuk apa kamu di hotel?"


"Itu bukan urusan Pak Vano,"


"Aku yakin sih, kamu menjual diri," tebak Vano dan menatap tubuh Bita dari ujung kepala hingga ujung kaki dimana perawat sang ibu tersebut masih mengenakan baju perawat warna putih.


"Terserah Pak Vano lah, otak Pak Vano itu sudah tidak beres, pasti apa-apa dikaitkan dengan peranuan,"


"Najis, tidur sama barang bekas!" sahut Bita.


"Eleh kamu saja sudah bekas!"


"Bodo amat!" sahut Bita yang langsung meninggalkan Vano.


"Hei, aku lapar!"


"Masak sendiri!"


"Kurang ajar, aku pecat kamu baru tahu rasa,"


"Silakan saja, kalau berani." sahut Bita.

__ADS_1


Dan ucapan Bita tidak ditempali lagi oleh Vano, tentu saja ia tidak berani memecat Bita, satu satunya perawat yang sang ibu sukai.


Seperti biasanya, Bita merawat ibu Vivi seperti anak kecil. Dari memandikannya dan juga menyuapinya seperti apa yang sedang ia lakukan saat ini di meja makan.


Namun, ketika Vano datang. Vano lah yang mengambil alih pekerjaan Bita.


Dan dengan telaten Vano menyuapi sang ibu, sambil sesekali berbincang.


Membuat Bita tahu sisi baik dari Vano terlepas dari siapa dia. Karena Vano begitu menyayangi ibunya tersebut yang sudah tua dan sakit sakitan.


"Nak," panggil ibu Vivi pada Vano sang putra yang sudah selesai menyuapinya.


"Iya Ibuku, sayang." sahut Vano sambil membersihkan mulut sang ibu.


"Kapan kamu akan menikah?"


"Kapan-kapan Bu," jawab Vano sambil mengukir senyum.


"Tapi kamu sudah tidak muda lagi,"


"Aku tahu Bu, lagian aku belum menemukan wanita yang tepat untuk aku jadikan istri,"


"Bagaimana jika kamu menikah dengan Bita," kata Ibu Vivi.


Membuat Bita langsung menoleh pada ibu Vivi. "Tidak! Aku tidak mau menikah dengan teh celup!"


"Kamu pikiran, aku mau sama kamu, tidak!" sahut Vano menimpali ucapan dari Bita.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2