
"Kurang ajar!" seru Vano sambil mengelap wajahnya yang baru terkena air bersin dari mulut Bita.
"Maaf Pak, aku tidak se... se... haaaaaachihhhhhhh," Bita kembali bersin.
Untung saja Vano sudah menjauh darinya, jadi tidak terkena air bersin dari mulut Bita.
"Menjijikkan sekali! Kalau bersin di tutup bodoh!" kesal Vano.
"Belum sempat Pak," sahut Bita dan kembali merebahkan tubuhnya.
Membuat Vano langsung menarik satu tangannya. "Bangun! Enak saja, kamu dibayar bukan untuk tidur!"
"Pak, aku pusing,"
"Eleh alasan!"
"Benar Pak," kembali lagi Bita merebahkan tubuhnya.
Dan saat Vano ingin menarik tangannya kembali, ibu Vivi melarangnya.
"Nak, sepertinya memang Bita sedang tidak enak badan," kata Ibu Vivi yang sudah mendekati Vano dan juga Bita, lalu menempelkan punggung tangannya, tepat di kening Bita. "Benar Nak, badan Bita panas,"
Dan sekarang Vano yang memegang kening Bita, dan benar saja ternyata Bita sedang demam.
"Nak, lebih baik kamu bawa dia ke dokter sekarang juga, kasihan dia,"
"Iya Bu," sahut Vano, tidak menolak apa yang sang ibu perintahkan.
Karena Vano memang membutuhkan Bita untuk menjaga sang ibu, dan tidak ingin perawat sang ibu tersebut sakit, kalau tidak membutuhkannya, tentu Vano pasti sudah mengabaikan dan meninggalkannya.
"Bangun!" perintah Vano pada Bita.
Namun, tidak dihiraukan oleh Bita yang sangat pusing.
"Bolot apa budeg sih?!" tanya Vano kesal.
__ADS_1
"Jangan melawak Pak, bolot dan budeg sama saja," sahut Bita dan mulai baranjak dari tidurnya, sambil memegangi keningnya.
"Ayo, aku antar ke dokter!"
"Tidak perlu, nanti aku sembuh,"
Namun, tidak dihiraukan oleh Vano yang langsung menarik tangan Bita dengan kencang, hingga tubuh Bita sekarang sudah berdiri.
Tapi karena merasa pusing, tubuh Bita sempoyongan, dan dengan refleks Vano menahan tubuh Bita dengan memeluknya.
"Di bilangin jangan ngeyel!" kata Vano dan langsung berpamitan dengan sang ibu untuk membawa Bita ke rumah sakit.
"Pak, jangan peluk-peluk," ujar Bita ketika sudah keluar dari dalam kamar ibu Vivi.
Tentu saja Vano dengan segera melepas tangannya yang ia gunakan untuk menahan tubuh Bita agar tidak sempoyongan.
Alhasil membuat tubuh Bita tidak seimbang, dan kini jatuh keatas lantai.
"Ish Pak Vano, sakit tahu," kata Bita yang malah tiduran diatas lantai.
"Oh," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Bita.
"Cepetan berdiri!"
"Lemas Pak,"
"Merepotkan sekali!" kesal Vano yang langsung membantu Bita untuk beranjak dari tempatnya.
"Pak, antar aku ke kamar," pinta Bita, agar Vano membawanya ke kamar yang Bita tempati, ketika menginap dirumah tersebut.
"Kita mau ke dokter,"
"Percuma, kalau ke dokter pasti di suruh minum obat. Sedangkan aku tidak suka minum obat." tolak Bita. "Aku menyimpan obat yang mujarab di kamar,"
"Yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja yakin," jawab Bita dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di rumah belakang, tentu saja diantar oleh Vano.
Dan untuk pertama kalinya Vano masuk ke dalam kamar yang Bita tempati, kamar yang hanya berukuran tiga kali dua meter, dan itu sangat kecil menurut Vano, karena kamar miliknya sangat luas.
Setelah Bita duduk di atas kasur yang berukuran seratus kali dua ratus meter, dengan segera Vano ingin meninggalkan kamar tersebut.
Namun, langkahnya terhenti ketika satu tangannya di tahan oleh Bita. "Pak, mau ke mana?"
"Keluar lah!"
"Sebentar, aku minta tolong,"
"Apa?"
"Tunggu!" pinta Bita lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil tas miliknya, yang ia letakan diatas meja tidak jauh dari tempat tidur.
Vano menautkan keningnya ketika Bita sudah kembali setelah mengambil tas, lalu mengeluarkan balsem dan juga koin dari dalam tasnya.
"Untuk apa benda itu?" tanya Vano yang sangat asing dengan balsem dan koin yang baru saja bita keluarkan dari dalam tas.
"Obat mujarab Pak. Tolong kerok punggung aku ya Pak," pinta Bita, karena ia sangat yakin sedang masuk angin, dan dengan kerokan obat turun temurun dari nenek moyang, pasti bisa membuatnya sembuh.
"Kerok? Apa maksudnya?" tanya Vano bingung.
"Idih, masa kerokan tidak tahu, begini nih Pak," Bita langsung duduk membelakangi Vano, dan setelahnya ia membuka baju dan juga kacamata miliknya.
Membuat Vano langsung menelan ludahnya sendiri, melihat punggung Bita yang ternyata putih dan juga mulus.
"Nih Pak, punggung aku kerok pakai koin, tapi sebelum itu oles dulu pakai balsem,"
Vano tidak lagi mendengar apa yang Bita katakan, karena ia sedang terpesona dengan punggung Bita, hingga tidak sadar ia mengelus punggung Bita.
"Ya ampun, tidak!" teriak Bita baru menyadari jika Vano adalah seorang player. "PAK, JANGANNNNNNNNN!!!!"
Bersambung........
__ADS_1