HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
S2 MENIKAH


__ADS_3

Mendengar kata teh celup dari Bita, membuat ibu Vivi menoleh pada Vano yang masih duduk tepat disampingnya. Dan sedang beradu mulut dengan Bita, yang sadari tadi berdiri disisi lain ibu Vivi.


"Nak," panggil ibu Vivi, membuat Vano dengan segera menghentikan adu mulut dengan perawat sang ibu, yang benar-benar membuat harga dirinya sebagai publik figur yang terkenal, dan juga sebagai majikan tidak memiliki arti sama sekali.


Dan baru kali ini Vano, mau baradu mulut dengan perempuan, mungkin saking kesalnya ia pada Bita yang selalu melawan perintahnya.


Kemudian Vano menoleh pada sang ibu, tak lupa mengukir senyum manis pada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.


"Iya, Bu?"


"Sejak kapan kamu berjualan teh celup?" tanya Ibu Vivi yang tidak tahu arti teh celup yang dikatakan oleh Bita.


Dan ibu Vivi juga tidak mengetahui jika sang putra adalah seorang player yang handal. Karena dimatanya, Vano putranya tersebut adalah. Putra yang berbakti kepada orang tua, dan selalu mendahulukan sang ibu dibanding urusannya sendiri.


"Ya ampun Bu, Pak Vano bukan jualan teh celup. Tapi dia tukang..." Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano yang sudah beranjak dari duduknya, langsung mendekatinya dan membekap mulut Bita agar tidak mengatakan apa pun pada sang ibu.


"Jangan katakan apa pun, kamu memang tahu siapa aku. Tapi jangan sampai ibu mengetahui siapa aku, paham!" bisik Vano tepat di telinga Bita.


Dan dengan segera Bita menyingkirkan tangan Vano dengan kasar, lalu menatap padanya sambil mengukir senyum, entah mengapa Bita merasa ada aroma pundi-pundi uang yang sebentar lagi masuk ke dalam kantongnya.


"Wani piro?" tanya Bita sambil menggesek gesekan jari telunjuk dan juga ibu jarinya.


"Apa kamu sedang memeras aku?"


"Tidak, kalau Pak Vano tidak mau memberikan aku uang. Jangan salahkan aku, jika kebenaran akan..."

__ADS_1


"Oke, mau berapa?" tanya Vano menghentikan ucapan dari Bita. Ketika merasa terancam dengan perawat sang ibu yang sungguh menyebalkan.


"Tidak usah banyak-banyak Pak, cukup satu juta saja,"


"Oke!"


Bita tersenyum senang mendengar apa yang Vano katakan, ternyata mencari uang dengan cara seperti ini lebih mudah, pikir Bita. "Senang berbisnis dengan anda, Pak Vano," Bita langsung menjabat tangan Vano.


Tentu saja dengan segera Vano melepas jabatan tangan dari Bita. "Dasar perempuan, dimana mana, uang, uang dan juga uang yang ada di pikirannya,"


"Hei Pak, dengan uang segala urusan menjadi mudah," sahut Bita.


Namun, tidak dihiraukan oleh Vano yang kini kembali duduk di kursinya.


"Itu Bu, bisnis teh celup," jawab Bita menjawab pertanyaan dari ibu Vivi yang ditujukan untuk sang putra.


"Jadi benar Nak, kamu sekarang berbisnis teh celup?"


"Iya Bu," bohong Vano sambil mengukir senyum.


"Semoga bisnis kamu sukses Nak,"


"Amiin," sambung Vano.


"Bagaimana dengan ucapan ibu tadi, kamu mau kan. Menikah dengan Bita. Ibu rasa Bita sangat cocok dengan kamu Nak, dan ibu akan sangat senang jika memiliki menantu seperti Bita," kata Ibu Vivi yang masih ingin sang putra menikah dengan Bita.

__ADS_1


"Maaf Bu, aku tidak bisa," tolak Vano. "Lagian Bita tidak pantas untuk aku, ibu tahu siapa aku, mana cocok aku menikah dengan seorang perawat,"


"Eleh, pak Vano kira. Pak Vano pantas untuk aku? Tidak. Dasar barang bekas!" cibir Bita untuk menimpali ucapan dari Vano.


Dan sekarang Bita menatap pada ibu Vivi. "Maaf Bu Vivi, aku sudah memiliki kekasih dan sebulan lagi aku akan menikah," kata Bita yang benar adanya.


Jika sekarang ia sedang mempersiapkan pernikahannya yang akan berlangsung sebulan lagi.


"Oh iya. Maaf ibu tidak tahu," kata Ibu Vivi yang merasa tidak enak sudah menjodohkan Bita dengan sang putra.


"Iya Bu, tidak apa-apa,"


"Dengan siap kamu akan menikah, Bita?" tanya ibu Vivi penasaran.


"Paling sama tukang becak," sahut Vano memotong percakapan keduanya.


Membuat Bita langsung menatap pada Vano.


"Enak saja kalau bicara, dasar teh celup!"


"Apa sama tukang beling," ucap Vano dengan entengnya.


"PAK VANO!!!!!"


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2