HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Ekstra Part 10


__ADS_3

Akhirnya Vano menceritakan kenapa selama ini ia sering menjemput Zi ke sekolah, yaitu karena ada pria yang diam-diam membuntuti putri dari sahabatnya tersebut, dan ia tahu pria yang selalu membuntuti Zi diam-diam bukanlah pria baik, dan ia melakukan hal itu hanya ingin melindungi putri dari sahabatnya, karena ia tahu, Zi butuh perlindungan ekstra, tidak seperti Ev yang sudah bisa menjaga dirinya sendiri, itu yang Vano lihat, karena selama ini ia juga selalu mengawasi Ev, dan ia sangat tahu kepribadian Ev dan juga Zi sangat bertolak belakang.


"Oh begitu ceritanya," ujar Zain setelah mendengar apa yang Vano sang sahabat ceritakan, tidak seperti pikirannya jika Vano ingin mendekati sang putri. "Maaf Van, aku sudah berburuk sangka padamu,"


"Mentang-mentang aku teh celup, jadi kalian sudah berpikir negatif denganku, sungguh terlalu kalian. Aku tuh bukan penjahat, yang meniduri anak di bawah umur, paham!"


"Maaf sekali lagi," ucap Zain lagi sambil mengukir senyum.


"Eh nanti dulu, masih ada yang janggal," sahut Hazel.


"Apa lagi sih ndut?" tanya Vano lagi, yang langsung mendapat lemparan buah jeruk yang ada di atas meja.


"Mentang-mentang body sama dengan jeruk ini, main lempar-lempar," ejek Vano.


"Sayang, tuh mulut kampret tidak bisa di kontrol, sumpal gih pakai sambal,"


"Tidak boleh begitu, body kamu sangat menarik kok,"


"Eleh bohong," sahut Vano, dan kini mendapat lemparan jeruk kembali dari Hazel.


"Sudah sayang, jangan dengarkan dia, katakan apa yang menurut kamu janggal," pinta Zain setelah mendengar apa yang tadi sang istri katakan.


Dan kini Hazel menatap dengan tatapan tajam pada Vano.


"Jika kamu hanya ingin mengawasi Zi, kenapa kamu pakai jalan dengan dia, hingga kamu membelikan sesuatu padanya?" tanya Hazel penasaran, mengingat cerita Zi sebelum berangkat sekolah.

__ADS_1


"Oh itu, agar pria yang membuntuti Zi, tidak lagi membuntutinya, jika dia tahu Zi jalan dengan aku, begitu Zel,"


"Oh bagus," ujar Zain.


"Bagus apanya, sayang. Yang ada masih mencurigakan, kenapa juga dia harus membelikan sesuatu pada Zi,"


"Ya karena dia menginginkannya, sama seperti Ev, aku juga sering membelikan sesuatu padanya, dan aku tidak ingin membedakan keduanya, karena mereka sudah aku anggap seperti keponakan aku," jelas Vano panjang lebar.


"Yakin?" tanya Hazel sambil memicingkan matanya.


"Ya tentu yakin, jika kamu tidak percaya ya sudah, nih aku masih menyimpan nota barang yang kemarin aku belikan untuk Zi, dan kamu boleh menggantinya, mayan uangnya bisa buat nyewa wanita selama sebulan,"


"Najis banget, itu namanya memberi tapi tidak ikhlas, pakai minta kembalikan uangnya," cibir Hazel.


"Masukin saja ke lubang tikus," sambung Hazel. "Dan iya, aku tidak ingin membayar,"


"Ya wes, berarti tidak ada jatah buat cari lubang nih?"


"Tidak ada!"


"Insyaf Van, ingat umur sudah tidak muda lagi, ada saatnya kamu akan bosan mencari lubang, dan butuh pendamping," sahut Zain.


"Benar tuh," Hazel membenarkan apa yang sang suami katakan.


"Belum kepikiran, mau cari wanita yang seperti apa,"

__ADS_1


"Bagaimana dengan perawat mama kamu," usul Hazel, mengingat wanita yang merawat mama dari sang sahabat.


"Idih, ogah amat sama si oon itu, jangan mengada-ada kamu Zel," ucap Vano mengingat perawat baru sang mama.


"Tapi dia cantik Van,"


"Buat apa cantik, kalau otak hanya separuh, kamu tahu tidak, sebelum aku datang ke sini, aku menyuruh si oon itu untuk membuatkan aku kopi, apa yang dia kasih,"


"Apa? Teh?" tanya Hazel penasaran.


"Masih mending kalau teh, ini mah kopi asin, sialan banget kan tuh perawat,"


Hazel dan juga Zain langsung tertawa mendengar apa yang Vano katakan.


"Sialan banget kan, tuh perawat. Ingin rasanya aku melempar dia kejalanan,"


"Jangan seperti itu, siapa tahu itu jodoh kamu, yang di tentukan oleh author,"


"Cih! Najis!"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2