
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Zain, ketika baru saja keluar dari dalam kamarnya, entah mengapa ia sedikit kecewa dengan jawaban sang istri, ketika ia menanyakan alasan, kenapa Hazel melarangnya untuk tidak beradegan mesra dengan lawan mainnya, dan sang istri menjawab, dengan alasan tidak enak dengan kedua orang tuanya dan juga rekan bisnisnya, jika sang suami melakukan hal tersebut, meskipun hanya akting.
Padahal Zain ingin mendengar alasan lain, bukan alasan yang tadi ia dengar. "Kamu ingin alasan apa Zain? Karena aku mencintaimu begitu? Heh sadar, untuk apa dia mencintai kamu, jika kamu masih terus memikirkan mendiang istrimu," entah ucapan dari mana, yang kini terngiang di kedua telinganya.
Membuat Zain langsung memejamkan matanya, dan menggelengkan kepalanya, untuk menghilangkan suara tersebut.
"Bos, ada apa?" tanya Ziu yang baru saja mendekatinya.
"Aku akan mencoba mencintai Hazel, tanpa melupakan istriku,"
"Nah begitu dong," Ziu menepuk punggung sang majikan, membuat Zain yang tadi memejamkan matanya kini membuka kedua bola matanya, lalu menoleh pada sang asisten.
"Sejak kapan kamu ada disini?"
"Sejak tadi, saat Bos bilang ingin mencintai si sexy, tanpa melupakan mendiang istri Bos,"
Ucapan Ziu membuat Zain kini menautkan keningnya. "Kapan aku mengatakan seperti itu?"
"Barusan Bos,"
"Tidak, aku tidak mengatakan hal itu, kamu salah dengar mungkin," sambung Zain yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah, karena hari ini ia akan menghadiri acara realiti show, dan Zain menjadi bintang tamunya.
"Idih sok tidak mau ngaku, lagian apa salahnya mencintai si sexy, dia juga istri Bos, apa lagi sekarang dia sedang mengandung anak Bos, harusnya Bos fokus ke dia, jangan ke istri Bos yang sudah tiada, aneh. Untuk apa mencintai orang yang sudah tiada, jika ada wanita di samping Bos, yang membutuhkan cinta dan sayang dari Bos," ujar Ziu yang mengikuti langkah sang Bos.
__ADS_1
"Diam dan jangan bicara lagi, dia tidak mencintai aku, cintanya hanya untuk mendiang suaminya,"
"Bagaimana jika sebenarnya dia mencintai Bos?"
"Jangan katakan hal yang tidak mungkin,"
"Di dunia ini semua serba mungkin Bos,"
"Diam!"
*
*
*
Lalu tatapan matanya tertuju pada sebuah foto yang terpampang nyata di tembok kamar sang suami, dimana ada foto Zain dengan mendiang istrinya.
"Maafkan aku, karena memiliki rasa pada suamimu," ucap Hazel sambil menatap foto mendiang istri dari suaminya.
*
*
__ADS_1
*
Kelas Ev di gegerkan dengan berita terbaru, membuat Ev yang sedang bermain ponsel, kini ikut berkumpul dengan murid lainnya yang sedang membicarakan tentang Mr. Joni.
"Yang benar kalau bicara, jangan bergosip," sambung Ev memotong ucapan murid lainnya yang sedang mengatakan jika Mr. Joni di pindah tugasnya di sekolah lain.
"Benar Ev, kamu akan aman sekarang, tidak ada lagi Mr jo yang akan menghukum kamu,"
"Eh jangan senang dulu, aku dengar-dengar pengganti Mr Jo, itu lebih ganas, dan di sekolah sebelumnya di juluki miss devil," sambung murid yang lainnya.
"Jadi benar Mr Jo mau pindah?" tanya Ev yang belum percaya dengan ucapan teman sekelasnya tersebut.
"Iya Ev, kalau tidak percaya lihat sendiri sana di ruangannya, tadi aku lihat, seteleh Mr Jo berpamitan pada guru lain, Mr Jo langsung masuk ke ruangannya untuk berkemas,"
Tanpa menanggapi ucapan teman sekelasnya, Ev langsung keluar dari dalam kelas untuk menuju ruang kerja Mr Joni, ingin membuktikan sendiri apa yang teman sekelasnya bicarakan benar atau tidak.
Dan benar saja ketika ia baru masuk ke dalam ruang kerja Mr Joni, Ev mendapati Mr Joni sedang berkemas, dan menatap kearahnya ketika melihat kehadiran Ev.
"Mr. Jo, apa benar Mr Jo akan pindah?" tanya Ev.
Mr. Joni pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iy..." Mr Joni tidak jadi bicara karena Ev tiba-tiba mendekatinya dan memeluknya.
Bersambung................
__ADS_1